Halaman Galery

Profil Tokoh

Berita tak bisa dikemas dalam bentuk humor

beritasurabaya.net – Pernah mendengar nama Wong Li Hai Wan Abud, Brodin dan Wono Kairun? Keempat nama itu adalah karakter ciptaan lelaki kelahiran Surabaya, 14 Juni 1946, Achmad Affandi. Namun nama Affandi lebih dikenal dengan sebutan Kaisar Victorio.

Dia adalah penyiar kawakan Radio Suzana. Di dunia radio di Surabaya, nama Kaisar Victorio bisa diibaratkan dengan Kyai Sepuh. Radio Suzana digawangi Kaisar Victorio dari 1972-2003, menjadi radio nomor satu di kota Surabaya. Saat itu Survei Research Indonesia (SRI) mencatat jumlah pendengar Radio Suzana mencapai sekitar 1,5 juta orang. Gelar radio nomor satu di Surabaya itu ditorehkan selama 10 tahun. Dari tahun 1980-an sampai 1990.

Acara paling favorit Trio Bu-Ru-Lu yang digagas Victorio masih tetap disiarkan, namun ketika pemeran cerita komedi yang diperankan dirinya diganti, rupanya tak memikat pendengarnya.

“Ya.. saya nggak tahu, penyiar yang menggantikan saya itu apa bisa memerankan empat aktor. Karena dalam Trio Bu-Ru-Lu itu saya bisa memainkan empat karakater suara, yaitu Wong Li Hai, Wan Abud, Brodin, Wono Kairun,” kata Victorio.

Dia memaparkan, Wong Li Hai adalah plesetan dari wong=orang dan lihai=pintar. Karakter ini pandai berbahasa Cina. Sedangkan, Wan Abud yang berdialek Indonesia gaya Arab, Brodin dengan aksen bahasa Madura, dan karakter Wono Kairun adalah karakter dengan suara kakek-kakek.

Victorio meyakini, konsep humor yang pernah membawa kejayaan Radio Suzana di era 1980-1990-an dan itu tak akan mati bersaing dengan hadirnya radio-radio baru di Surabaya. Sejumlah radio yang bersaing merebut simpati pendengar saat ini, menurut dia, trend-nya menyuguhkan news yang bersifat formal.

“Padahal news itu kan nggak harus formal. Tapi bisa dikemas dengan gaya cerita humor, menggelitik dan tajam,” kata Victorio.

Dia juga menegaskan bahwa perkembangan radio kedepan akan mengarah kepada radio informasi. Jadi tak sebatas menjadi media hiburan. Radio seharusnya mengikuti segala perkembangan yang ada.

"Perkembangan dunia internet, baik fenomena facebook dan twitter harus diikuti oleh radio. Radio tak hanya bisa mengandalkan hiburan," jelas Victorio.

Mengenai radio dari sisi bisnis. Dia mengakui memang semakin banyak radio yang kesulitan menggalang iklan. Untuk persoalan ini, Victorio mengatakan bahwa program radio harus diperkuat. "Setiap siaran harus direncanakan dengan matang. Jangan asal-asalan. Mulai dari persiapan teknis maupun konsep programnya harus dimatangkan. Baru siaran. Dengan begitu penggemar akan merapat," papar Victorio.

"Meskipun beberapa radio banyak yang mulai kesulitan menggalang iklan. Hal ini bisa disiasati dengan subsidi silang dari jejaring radio yang masih satu grup," jelasnya.

Sejak tiga bulan yang lalu, Victorio kembali melakukan siaran di Radio Suzana dan dia ingin menunjukkan bahwa berita bisa disampaikan dengan humor. Sebelumnya, dia sempat berkecimpung dalam dunia politik, tepatnya pada medio 1998-2004. Saat itu Amien Rais sebagai Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) pun melirik Victorio untuk menjadi calon legislatif (caleg).

“Alhamdulillah, dalam Pemilu 2004 itu saya terpilih jadi anggota DPR RI periode 2004-2009. Semasa inilah bagian dari puncak karier saya,” ujar penyiar yang pernah mencetuskan bahasa kocak ini.

Disamping matang di panggung radio dan politik, Victorio bisa menjadi sumber untuk mendulang filosofi dan wawasan budaya internasional. Dia tak hanya menguasai bahasa Inggris, namun bahasa Mandarin juga dikuasainya, lengkap dengan filsafat budaya-budaya itu.

"Sekali tembak dua burung kena. Peribahasa China ini bisa dipegang untuk kerja efektif. Lebih penting lagi bagaimana kongkritnya. Jangan hanya omong melulu," pesannya. bsn3

  • Foto
  • Foto
  • Foto
  • Foto
  • Foto

Advertising
Advertising