Halaman Galery

Profil Tokoh

Menerjang arus radio hiburan

beritasurabaya.net - Kota Surabaya berduka cita. Tokoh radio Soetojo Soekomihardjo atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Tojo wafat pada Kamis (25/11/2010) pagi ini.

Soetojo Soekomihardjo wafat Kamis pagi tadi sekitar pukul 01.15 di RS Darmo. Jazad Pak Tojo dimakamkan, siang ini sekitar pukul 12.00.

Soetojo adalah Direktur Utama Suara Surabaya Media, sebuah perusahaan media yang menyiarkan Radio Suara Surabaya. Almarhum adalah tokoh radio yang berani melakukan terobosan dunia radio di Surabaya. Pada era 1980-an hingga 2000-an, tren radio hiburan sangat semarak di Surabaya.

Namun Pak Tojo berani menempuh risiko mengarahkan kemudi Radio Suara Surabaya untuk melawan arus radio hiburan menjadi radio informasi. Maka hari ini, kita semua bisa menikmati beragam informasi tersiar di radio. Mulai dari informasi lalu lintas hingga berita-berita seputar Surabaya.

Keberanian mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) ini telah membuktikan bahwa radio mampu memberi warna berbeda di tengah keberlimpahan informasi yang dinikmati masyarakat saat ini.

Pak Tojo lahir di Sumenep, 28 Agustus 1936 dan meninggal dunia di Rumah Sakit Darmo Surabaya pada usia 74 tahun karena menderita kanker yang terdeteksi sejak setahun lalu.

Kutipan dari salsa-sita.blog.friendster.com

”Bekerja itu tidak semata-mata soal duit tapi soal apakah keberadaan seseorang itu bermanfaat untuk masyarakat atau tidak,” kata Soetojo menjelaskan falsafah hidupnya saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.

Dia memberi contoh kegigihan Thomas Alfa Edisson di bengkelnya hingga menemukan lampu listrik yang bermanfaat bagi masyarakat. Begitu juga Alexander Graham Bell, penemu telepon, yang mendekatkan jarak komunikasi.

Kedua pioner ini, kata Soetojo, memiliki kesamaan. Sama-sama memberi manfaat pada masyarakat sehingga dikenang sepanjang masa. ”Orang yang paling celaka di dunia ini adalah orang yang tidak memberi manfaat pada masyarakat,” ujarnya.

Langkah mudah memberi manfaat pada orang lain adalah bersikap jujur dan sabar. Prinsip itu yang dipegang ketika dia merintis bisnis radio, dunia penyiaran yang digeluti tanpa sengaja.

Gagasannya membangun radio berita berawal sekitar 1979, ketika diminta tolong temannya mewakili untuk menemui pejabat Departemen Penerangan (Deppen). Soetojo pun mengerjakan tugas itu dengan baik.

Tanpa disangka pejabat Deppen itu ternyata mengingat namanya. Setahun berikutnya Soetojo dikontak dan ditawari frekuensi radio di jalur FM. Zaman itu radio FM belum tren karena semua radio memilih gelombang AM yang jangkauan siarannya lebih luas.

Tapi dia punya insting dapat memanfaatkan gelombang FM ini. Meskipun gelombang ini jangkauannya pendek tapi keunggulannya suaranya lebih jernih. ”Waktu itu saya bertekad Radio FM kelak harus jadi pilihan pendengar menggantikan AM,” ujarnya.

Gagasannya bersambut saat bertemu Errol Jonathans yang kini menjabat sebagai Direktur Operasional Radio Suara Surabaya FM. Dia mendiskusikan format program radio seperti apa yang bermanfaat bagi masyarakat. Disepakati untuk membangun radio berita sebagai alternatif siaran berita RRI yang monoton.

”Dulu kalau RRI mulai siaran berita, radio pasti dimatikan. Kalau siaran beritanya sudah habis, radio  dinyalakan lagi,” papar bapak empat anak ini mengenang.

Ide membangun radio berita itu juga muncul ketika mengunjungi mertuanya di Bondowoso yang suatu hari  ibu mertuanya terburu-buru mematikan kompor. Setelah dilacak  ternyata dia ingin mendengarkan berita kematian seseorang dari radio tetangga.

“Ternyata orang mendegarkan radio bukan hanya hiburan tapi juga informasi,” ujarnya. Berkaca dari pengalaman itu Soetojo ingin radionya berformat berita namun tidak seperti gaya pemberitaan Radio Republik Indonesia.

Tukang Reparasi Radio
Jauh sebelum terkenal dengan  Radio Suara Surabaya FM, Soetojo hanyalah tukang reparasi radio di kampungnya di Bondowoso. Dia memang pernah kuliah Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya dan Fakultas Teknik UGM Jogja tapi drop out semua. ”Saya dulu jobless hingga akhirnya coba-coba jadi tukang reparasi radio. Saat itu saya berpikir, apa pun pekerjaan itu asal halal saya lakoni,” katanya.

Di zaman dia muda itu, radio amatir sedang menjamur  di tengah hiruk pikuk pergerakan mahasiswa tahun 1966. Radio amatir, yang jadi cikal bakal radio swasta, dijadikan siaran propaganda pergerakan mahasiswa. Radio Rama Bondowoso adalah salah satunya.

Semula Soetojo hanya ikut membantu teknisi senior yang  bekerja di Radio Rama  memasang peralatan siaran. Dia melihat ada kesalahan pasang komponen tapi karena merasa masih yunior belum berpengalaman dia tidak berani mengungkapkannya.  Ternyata Radio Rama gagal mengudara pada waktunya. Dia pun lalu mengutak-atik letak kesalahan itu. Akhirnya radio berhasil siaran.

Pemilik Radio Rama terkesan hingga kerap memanggilnya untuk memperbaiki peralatan. Karena sering ke stasiun radio tersebut, lama kelamaan tertarik menjadi penyiar. Tapi dia ingin menjadi penyiar yang bagus sebab  dia kurang sreg dengan gaya penyiar radio yang tidak serius, hanya main-main.

Ketika niat jadi penyiar disampaikan ke pemilik radio, ternyata disetujui. Itu terjadi  pada 1968. Namun Soetojo baru berani jadi penyiar  ketika penyiar radio itu sudah pulang semua. ”Saya memilih siaran  malam-malam,” katanya.

Dia tidak ingin menjadi penyiar radio hiburan semata tapi juga informasi penting. Untuk itu bahan siaran dia kumpulkan materi dari majalah dan koran berupa berita, kisah-kisah humanisme, perjuangan, dan cerita berkesan seorang kawan. Supaya siarannya lebih menarik, lagu-lagu diputar di sela-sela siarannya.

Soetojo ingat satu kisah yang disukai pemirsa hingga membuat acara itu terdongkrak ratingnya adalah cerita pasukan Amerika Serikat berperang di suatu negara. Di pasukan  itu ada satu tentara berkulit hitam yang suka dilecehkan dan menerima tindakan kurang terhormat dari anggota lain termasuk dari komandannya. 

Suatu ketika saat terjun payung, parasut sang komandan tidak terbuka. Dia terlilit. Tidak disangka, tentara negro tadi menyelamatkannya di udara. Komandan pasukan akhirnya menjadikan tentara negro tersebut sebagai saudaranya. ”Ternyata pendengar  suka sekali dengan cerita seperti itu,” kata lelaki yang pernah menjadi penanggung jawab Radio AM Cakra Awigra Surabaya itu.

Karena itu, ketika mendirikan Radio Suara Surabaya dia sudah memiliki konsep radio format berita yang dibutuhkan pendengar. Tapi  dia sendiri kurang memahami bagaimana radio berita harus dikemas. Sebab dia tidak tahu jurnalisme radio. ”Saya enggak tahu soal jurnalisme atau apa itu, semuanya saya serahkan ke Errol,” ucapnya.

Meski sudah satu visi dengan Errol, dirinya tetap harus bersabar menunggu izin mengudara.”Tiga tahun saya berjuang untuk memperoleh surat rekomendasi izin radio dari pemerintah daerah,” kenangnya. Surat diajukan pada 1980 baru keluar pada 1983.

Ketika izin terbit, siaran berbasis berita di zaman itu juga sulit diterapkan karena radio dilarang menyiarkan berita kecuali RRI. Hambatan itu diakali dengan menyajikan informasi yang aman dulu seperti  pohon roboh, kemacetan lalu lintas, berita kriminal, dan masalah perkotaan yang dikemas dalam rubrik Kelana Kota. Berita kontrol sosial atau kritik kebijakan pemerintah belum berani sebab kalau dilanggar pasti turun teguran.

Begitu pula soal teknik liputan. Untuk minta tanggapan dari pendengar harus menyebarkan reporter. Pasalnya, dulu pesawat telepon mahal, jarang orang pasang karena harganya Rp 8 juta setara dengan mobil terbaru. Kini ketika telepon murah malah banyak pendengar yang langsung merespon

Reporter Masyarakat
Suami Endang Setyowati ini menambahkan, format yang ditawarkan Radio SS ternyata ditanggapi banyak pihak. Perlahan tapi pasti, radio ini mulai dikenal dan makin moncer ketika reformasi tahun 1997-1998 bergulir.  Kini salah satu segmen andalan SS, Kelana Kota, sangat populer karena mengajak pendengar menjadi reporter dengan melaporkan peristiwa yang dijumpai di mana saja.

Di sinilah makna sabar diperoleh Soetojo. Bahwa kesabaran harus disertai sikap ikhlas, tidak putus asa, ulet, dan telaten ketika menghadapi suatu masalah. ”Ya, ternyata kalau kita mau jujur dan sabar, Allah pasti akan memberi balasan yang jauh lebih besar,” ujarnya sembari menghapus titik air mata mengenang masa-masa silam.

Namun dia tetap enggan disebut sebagai orang sukses. Hingga kini dirinya menganggap masih belum berhasil meski gaung radio ini hingga ke Amerika Serikat dan Australia. Berbagai penghargaan dan jabatan pun pernah disandangnya.  Tapi Soetojo tetap seperti dulu. Bersahaja.

”Saya masih belum merasa sukses. Karena sekali orang merasa sukses, berarti dia berhenti bekerja dan berhenti pula memberi manfaat pada orang lain,” tuturnya. (Dirangkum dari berbagai sumber oleh beritasurabaya.net)

Profil
Nama                              : Soetojo Soekomihardjo
Tempat Tanggal Lahir      : Sumenep, 28 Agustus 1936
Jabatan                           :
- Pengurus Pusat Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI)
- Direktur Utama Suara Surabaya Media Grup
- Pemilik Radio Rama FM Bondowoso, Radio Suara Surabaya, Radio Giga FM,
suarasurabaya.net, M Radio
- Mantan Ketua Daerah PRSSNI Jawa Timur

Penghargaan                    :
Penghargaan Khusus “Pengusaha Peduli Kesenian” dari Pemprop Jatim 2005.
 

  • Foto
  • Foto
  • Foto
  • Foto
  • Foto

Advertising
Advertising