Halaman Galery

Profil Tokoh

Memimpin 23.000 Karyawan

23.000 Orang bekerja kepadanya. Jadilah ia sebagai pengusaha industri padat karya. Demikian penjelasan ringkas atas kiprah pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 24 September 1951 bernama Alim Markus ini.

Pengakuan atas kiprahnya sebagai pengusaha berbuah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Rektor Untag Surabaya, Ida Aju Brahmasari mengatakan, gelar tersebut diberikan berkat dedikasi Alim Markus yang dinilai sangat berperan sebagai seorang entrepreneur.

"Sebelum memberikan gelar doktor, Untag telah membentuk tim untuk melakukan kajian. Ternyata Alim Markus, memang pantas mendapatkan gelar," jelas Ida Aju Brahmasari dalam pemberian gelar Doktor Honoris Causa Ilmu Ekonomi itu yang dihadiri Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, serta pejabat Pemprov Jatim pada Sabtu (12/3/2011).

Alim Markus juga meluncurkan buku berjudul "100 Jurus Bisnis Alim Markus Seorang Anak Bangsa". Dalam bukunya, pria kelahiran Surabaya, 60 tahun lalu itu berbagi kisah dirinya yang memulai karir sejak menjadi pengusaha kecil hingga sukses sebagai pengusaha besar.

Pemberian gelar kehormatan itu, menurut Alim Markus, secara pribadi merupakan kehormatan dan kebanggaan. "Gelar ini akan menjadi acuan saya untuk lebih bersemangat dalam bekerja. Ini bisa menjadi pemacu pengusaha lain agar bekerja keras dan bekerja lebih giat," kata Alim Markus.

Bila Anda pernah menyaksikan iklan di televisi yang menampilkan seorang pria dengan ucapan "Cintailah produk-produk dalam negeri", maka pemirsa langsung mengasosiasikan iklan itu dengan sosok Alim Markus. Iklan yang menjadi program corporate social responsibility (CSR) Maspion Group ini merupakan wujud dari komitmen nasionalisme Alim Markus.

Nasionalisme ini juga dia tampakkan dengan turut mendorong tumbuhnya dunia wirausaha Indonesia. Menurut dia, pengusaha besar di Indonesia masih terbatas dan dinilai sangat kurang. Alim Markus berharap, akan muncul pengusaha-pengusaha besar lainnya.

"Kalau bangsa ini memiliki banyak pengusaha besar, tentu perekonomian kita bakal lebih baik dan diakui dunia," ujar pengusaha yang menguasai lima bahasa ini. Alim Markus menguasai bahasa Jepang, Inggris, Jerman, Mandarin, selain bahasa Indonesia.

Dalam membangun kerajaan bisnisnya, Alim Markus bekerja keras. Bila biasanya seorang karyawan bekerja 8 jam sehari, maka dia bisa bekerja 14 jam dalam sehari. Dengan integritas dan kepercayaan, dia mampu membangun Maspion Group sebagai salah satu kerajaan bisnis yang disegani di Indonesia dengan pangsa pasar tak hanya menjangkau nusantara, tetapi juga telah menembus berbagai negara.

Dia meyakini bahwa kekayaan seperti angka nol (0). Semakin banyak angka nol, maka semakin kayalah seseorang. Namun angka nol itu tak berarti tanpa angka satu (1). Angka satu itu, menurut Alim Markus adalah kesehatan. Tanpa kesehatan, maka kekayaan itu menjadi tak berarti.

Perkembangan Maspion Group memang tidak lepas dari sentuhan tangan dan kegigihan Alim Markus. Pria berperawakan sedang ini rela mengorbankan pendidikan dan masa kecilnya untuk mulai berkiprah di dunia bisnis. Dia hanya mengenyam pendidikan sampai kelas dua SMP karena keburu membantu usaha orang tua.

Pada usia 15 tahun, sebagai anak tertua, Alim Markus itu diminta untuk membantu bisnis keluarganya, PT Logam Djawa – produsen peralatan rumah tangga sederhana yang terbuat dari alumunium, seperti panci dan wajan.

Lampu Teplok Sebelum menjadi besar seperti sekarang ini, sejarah perusahaan Maspion cukup unik dan sederhana. Alim Husin, ayah Alim Markus mendirikan sebuah usaha kecil yang memproduksi lampu teplok yang terbuat dari aluminium dan logam. Perusahaan yang berdiri sekitar 1961 itu diberi nama UD Logam Djawa. Jumlah karyawannya hanya delapan orang dan bisa memproduksi sekitar 300 lusin per hari.

Dari lampu teplok kemudian berkembang dengan memproduksi lampu badai untuk para nelayan. Akhir 70-an mulai memproduksi perabot rumah tangga dengan bahan plastik, seperti ember, baskom, loyang, dan sebagainya. Pada 1972, usaha keluarga Alim Husin semakin maju dan berkembang sehingga kemudian merancang nama dan logo baru. Akhirnya keluarga Alim Husin memperoleh nama baru, yakni Maspion. Menurut Alim Markus, Maspion merupakan singkatan dari M=Mengajak A=anda S=selalu P=percaya I=industri O=olahan N=nasional.

Setelah PT Maspion berdiri, Alim Husin menyerahkan tongkat kepemimpinannya selaku direktur utama kepada Alim Markus yang merupakan putra tertua. Sementara Alim Mulia Sastra, Alim Satria, dan Alim Prakasa masing-masing menduduki posisi direktur pengelola. Alim Husin sendiri menjabat posisi Chairman alias ketua.

Gemar Belajar Markus-remaja meninggalkan pendidikan formal di Sekolah, dan memasuki ajang pendidikan yang lebih luas: dunia bisnis. Ia keluar masuk pasar dan toko untuk menjajakan barangnya. Bertemu dengan berbagai macam orang, dengan karakternya yang beragam. Dari pergaulan itulah ia menimbah ilmu yang tidak pernah diajarkan di Sekolah.

Karena perusahaannya masih kecil, Markus pun kemudian menjelajah berbagai aspek dalam pengelolaan usaha. Selain menangani pemasaran dan distribusi, ia pernah menjadi kasir, pemegang buku, dan pekerjaan lainnya.

“Berkat gemblengan masa lalu, saya selalu ingin mengetahui bagaimana perkembangan bisnis. Karena saya membantu perusahaan sejak kecil sampai besar, maka saya menyelami seluk-beluk perusahaan,” kata Markus.

Jadi, ketika berjalan-jalan di pabrik, ia bisa tahu berbagai proses produksi yang dijalani. Ia memang ingin mengetahui segala sesuatunya secara rinci.

Menurut dia, kita harus mengetahui dan menguasai semua bidang pekerjaan. Tapi tidak berarti dengan mengetahui secara mendalam semuanya lalu Markus mengerjakan sendiri. “Sebagai pimpinan kita harus bisa Mendelegasikan wewenang,” ujarnya. Menurutnya, mendelegasikan wewenang adalah suatu keharusan, tapi dia tetap harus tahu secara rinci.

“Kan banyak pengusaha yang bersikap, ‘Ngapain saya tahu secara detail, saya serahkan saja kepada orang sudah cukup.’ Nah, yang seperti itu bukan pengusaha betul. Kita boleh mengetahui, tapi jangan dikerjakan sendiri. Kalau dikerjakan sendiri, kapan selesainya dan kapan memimpin orang lain.”

Sebagaimana pengusaha sukses lainnya, Alim Markus juga termasuk orang yang sangat gemar belajar. Bahkan dia pernah belajar selama dua minggu penuh mengikuti kursus singkat modern management di National University of Singapore.

Dia belajar dari kursus-kursus (kalau perlu ke luar negeri) hingga berbagai seminar, dan pergaulan dengan kalangan bisnis. Ia pun kerap menyerap gagasan dari berbagai buku yang dibacanya. Kenapa Markus demikian bersemangat menempah diri? “Orang yang tanpa pengetahuan tidak akan menjadi profesional,” kata Markus.

Tapi, pengetahuan saja dianggap tidak cukup. Profesional saja masih kurang. Harus ada faktor lain, yakni punya kemauan keras, disiplin, dan ketekunan. “Kalau punya kemauan keras tapi gampang putus asa, itu tidak betul, harus tekun dan langgeng. Kemauan keras tapi tidak disiplin, itu juga salah. Dan yang tak kalah penting kemampuan membawahkan (leadership),” kata Markus, membeberkan kiatnya memimpin Maspion.

Belajar sambil berbisnis itulah yang menempahnya hingga cepat matang. Tak heran jika dalam usia yang masih cukup muda, 30 tahun, Alim Markus pun tampil sebagai Presdir Grup Maspion, menggantikan posisi ayahnya pada 1980.

Ketika itu, nama Logam Djawa tidak lagi , karena sejak 1971 Markus bersama ayahnya mendirikan PT Maspion Plastic & Metal Manufacturing. Sejak itu nama Maspion berkibar, dikenal sebagai produsen alat-alat rumah tangga yang terbuat dari plastik dan alumunium. Di industri plastik, yang dihasilkan Maspion bukan cuma rantang atau termos dan berbagai macam peralatan rumah tangga lainnya, tapi juga pipa PVC.

Bahkan lebih ke hulu lagi, masuk ke produk bijih plastik. Demikian pula di alumunium, yang dihasilkan bukan lagi panci-panci sederhana, tapi dengan bahan yang lebih baik, stainless steel dan peralatan rumah tangga berlapis Teflon, serta aluminium untuk konstruksi.

Kini, puluhan perusahaan bernaung di bawah bendera Maspion Group. Perlu diketahui, Maspion merupakan singkatan dari nama Mas Pionir. Saat ini, karyawannya yang tersebar di tiga lokasi pabrik (Maspion Unit I, II dan III) ada 20.000 orang. Untuk memimpin perusahaan sebesar itu, Markus dibantu adik-adiknya: Alim Mulia Sastra, Alim Satria, dan Alim Prakasa.

Bukan jago kandang Grup Maspion bukan cuma jago kandang. Bagaimana gambaran bisnis Maspion Group, berikut ini kutipan dari website resmi Maspion Group. Selain menguasai Surabaya atau Jawa Timur, produk-produk Maspion juga merambah ke seluruh Indonesia, bahkan ke mancanegara. Perabotan rumah tangga mulai dari bahan plastik, stainless steel, aluminium, kipas angin, kulkas, AC, tempat tidur, alluminium foil, lampu neon, pompa air, dan masih banyak lagi dihasilkan dari pabrik-pabriknya di Jawa Timur. Dari tempat ini, berbagai jenis barang tersebut didistribusikan ke seluruh Tanah Air bahkan diekspor.

Lima bidang bisnis yang menjadi andalan Maspion Group antara lain bidang produk konsumen. Bidang bisnis ini akrab bagi ibu-ibu rumah tangga karena memproduksi panci teflon, termos plastik, kulkas, kompor gas, pompa air, kipas angin dan sebagainya. Yang bergerak dalam bidang ini paling tidak PT Maspion, PT Trisula Pack Indah, PT Royal Chemical, PT Maspion Flatware, dan PT Indofibre Mattres Indonesia.

Bidang bisnis kedua adalah bidang konstruksi material dan industri di mana Maspion memiliki tujuh anak perusahaan. PT Maspion, PT Maspion Kencana, PT Indal Steel Pipe, PT Alumindo Light Metal Industry, PT Aneka Kabel Cipta Guna, PT Indal Aluminium Industry, dan PT Indalex. Bisnis properti juga digeluti oleh kelompok usaha raksasa ini.

Beberapa proyek yang bisa disebutkan antara lain Maspion Mall, Wisma Maspion, Wisma Moneter, Pondok Maspion, CIMAC, PT Bintang Osowilangun, PT Maspion Industrial Estate, PT Alumindo Industrial Estate, PT Altap Prima Industrial Estate.

Salah satu kebanggaan grup Maspion di bidang properti adalah kesuksesannya membangun Kawasan Industri Maspion seluas 300 hektar. Lokasi tersebut hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Di kawasan inilah Maspion mendirikan perusahaan-perusahan industrinya yang diperkirakan menempati lahan sekitar 100 hektar.

Maspion Group akan mempertegas kehadirannya di Jakarta dengan meresmikan gedung perkantoran dan bisnis yang diberi nama Plaza Maspion. Gedung berlantai 18 tersebut sudah hampir rampung dan berlokasi di Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta Pusat.

Dan tak ketinggalan pula adalah bisnis keuangan dan finansial di mana grup ini menonjol dengan Bank Maspion, Maspion Securities, dan Maspion Money Changer.

Grup Maspion dalam melakukan ekspansi bisnisnya melakukan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan kelas atas, misalnya dengan Grup Samsung, Korea dan Grup Marubeni, Jepang. Grup ini juga melakukan kerja sama dengan Dupont dan Ishizuka dari Jepang. Pada umumnya Grup Maspion memperoleh porsi saham sekitar 50%.

Cinta Produk Lokal Dengan jangkauan bisnis yang sangat luas, dan jumlah tenaga kerja mencapai lebih dari 30.000 orang, Alim Markus mencoba tetap konsisten pada tujuannya. Walaupun badai ekonomi berkali-kali menerjang perusahaannya, ia tetap tangguh. “Saya akan terus mengendalikan bisnis ini di sini,” katanya sambil mengarahkan tangannya ke bawah. Maksudnya, di bumi Indonesia. Sekalipun UMR Jawa Timur tahun ini naik sekitar 38% dan terasa sangat membebaninya.

“Saya sebenarnya bisa mengimpor produk-produk tersebut dari luar negeri dan di sini tinggal ditaruh label Maspion, tapi itu kan tidak memberikan nilai tambah,” katanya.

Bagi Alim Markus, jika perusahaannya bisa memproduksi sesuatu, itu merupakan kebanggaan tersendiri. “Saya harus menekan gaya hidup yang import minded, kita harus bangga dengan produk kita sendiri,” kata Alim Markus yang turut serta dengan rombongan Presiden Megawati ke RRC akhir Maret lalu.

  • Foto
  • Foto
  • Foto
  • Foto
  • Foto

Advertising
Advertising