Wisata & Budaya

Kesiapan Asia Tenggara Menghadapi Masa Depan

06-11-2018

Jakarta, beritasurabaya.net - Mastercard, pemimpin dalam teknologi keuangan, memaparkan sebuah laporan yang memperlihatkan bagaimana kekuatan transformatif dari industri pariwisata dapat mendorong perkembangan kota-kota menjadi lebih cerdas dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Laporan “Peluang Negara-Negara ASEAN: Bagaimana Para Perencana Kota dan Pemerintah Dapat Menciptakan Kota-Kota yang Lebih Cerdas dengan Meningkatkan Investasi untuk Mendukung Pertumbuhan Pariwisata Inbound” mempelajari bagaimana kota-kota dapat memanfaatkan kemitraan pemerintah-sektor swasta dan data analitik untuk secara optimal mengalokasikan sumber daya yang ada, guna meningkatkan pariwisata inbound.

Secara spesifik, laporan ini memperlihatkan bagaimana kota-kota dapat memanfaatkan temuan dari data-data transaksi Mastercard yang dikumpulkan secara anonim, untuk menjangkau dan menarik segmen-segmen wisatawan utama secara lebih baik. Investasi-investasi strategis yang dimaksudkan untuk meningkatkan pertumbuhan pariwisata inbound tersebut pada akhirnya akan meningkatkan standar kehidupan masyarakat, menciptakan inklusi keuangan yang lebih baik, serta memicu perkembangan ekonomi.

Urbanisasi saat ini tengah tumbuh dengan sangat pesat. PBB memprediksikan bahwa hampir 70 persen populasi dunia akan tinggal di area-area perkotaan pada tahun 2050. Dan 90 persen dari peningkatan populasi perkotaan ini akan terjadi di kawasan Asia dan Afrika.

Urbanisasi membawa berbagai keuntungan, seperti peningkatan jumlah tenaga kerja dan permintaan produk dan layanan, serta pemasukkan negara yang berasal dari sektor pariwisata inbound, yang pada akhirnya turut mendorong peningkatan PDB, seperti yang terlihat di Vietnam, Malaysia serta negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Pada saat yang bersamaan, urbanisasi juga membawa berbagai tantangan baru.

Pada saat kota-kota mengalami pertambahan penduduk, pertumbuhan populasi, berarti akan ada peningkatan kebutuhan akan lapangan pekerjaan, sumber daya, serta sistem kesehatan, pendidikan, dan transportasi yang lebih memadai.

Senior Vice President of Mastercard Advisors di Asia Pasifik, Rupert Naylor, Selasa (6/11/2018), mengatakan, tidak ada satu entitas yang dapat menyelesaikan tantangan-tantangan ini sendirian. Mastercard percaya bahwa kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta dapat mempercepat peningkatan kualitas hidup, memberikan pengalaman sehari-hari yang efisien dan mudah, serta menciptakan perubahan, terutama di area-area yang memiliki visibilitas dan pertumbuhan tinggi seperti sektor pariwisata.

Salah satu kontributor utama terhadap pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara dalam beberapa dekade terakhir adalah pertumbuhan pengeluaran pariwisata inbound yang cepat, di mana hal ini didorong baik oleh destinasi-destinasi wisata utama maupun destinasi-destinasi baru yang selama ini jarang diketahui.

Sebagai contoh, di saat Bangkok, Singapura dan Kuala Lumpur terus menempati posisi-posisi utama dengan jumlah kedatangan internasional tertinggi, kota-kota di Vietnam seperti Hanoi dan Ho Chi Minh kian bertumbuh dan berhasil menembus daftar 10 besar tahun ini.

Popularitas destinasi-destinasi di Thailand seperti Phuket, Pattaya dan Chiang Mai juga kian bertumbuh, di mana hal ini menunjukkan bahwa para wisatawan menjadi lebih berani untuk bereksperimen dan terbuka untuk mencoba destinasi-destinasi baru.

Pertumbuhan volume wisatawan yang berkunjung ke destinasi-destinasi yang selama ini jarang diketahui menunjukkan bagaimana pemerintah dapat berinvestasi di destinasi-destinasi baru yang tengah berkembang untuk menciptakan persebaran keuntungan (dan kekurangan) pariwisata yang lebih merata di seluruh kota. Namun, untuk mencapai potensi yang maksimal dari strategi ini, investasi pada bidang infrastruktur di destinasi-destinasi yang lebih jarang diketahui menjadi sangat penting, baik dalam hal konektivitas ke lokasi-lokasi ini, maupun infrastruktur di dalam destinasi-destinasi itu sendiri, seperti kebersihan area publik, peningkatan akses terhadap air bersih, transportasi umum yang lebih efisien, maupun inklusi keuangan yang lebih baik bagi toko-toko yang terdapat di kota-kota ini.

Salah satu contoh pembangunan yang tidak berkelanjutan terjadi di Filipina. Boracay, sebuah destinasi pantai populer di negara ini, ditutup untuk sementara waktu bagi para turis pada bulan April hingga Oktober tahun ini. Ini karena destinasi ini tidak mampu memberikan dukungan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan. Hal ini menyebabkan kerugian yang cukup signifikan akibat berkurangnya pemasukkan dari kunjungan wisatawan mancanegara.

Meskipun banyak destinasi-destinasi unggulan telah melakukan investasi dalam bidang infrastruktur, masih terdapat peluang untuk melakukan inovasi berkelanjutan di bidang manajemen tujuan wisata dan pengalaman wisatawan, guna menarik wisatawan baru maupun mempertahankan wisatawan loyal. Inisiatif-inisiatif ini dapat membantu menciptakan lapangan pekerjaan baru, meningkatkan standar kehidupan penduduk setempat, dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kunjungan wisata inbound juga berpotensi untuk memacu perkembangan ekonomi di negara-negara yang memiliki pertumbuhan PDB yang rendah, sehingga dapat meningkatkan pemasukkan dan menciptakan lapangan pekerjaan. Negara-negara yang memiliki peluang khusus untuk dapat memanfaatkan pemasukkan dari wisatawan inbound untuk meningkatkan pertumbuhan PDB negaranya termasuk Filipina, Singapura, dan Indonesia. (nos)

Advertising
Advertising