CSR

Plan Indonesia Kampanye Cegah Pernikahan Anak

03-10-2017

Jakarta, beritasurabaya.net - Angka pernikahan usia anak di Indonesia masih tinggi. Indonesia merupakan negara dengan angka perkawinan anak tertinggi ketujuh di dunia.

Berdasarkan laporan UNICEF dan Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat sekitar 1.000 anak perempuan menikah setiap hari. Ada beberapa penyebab yang mendorong terjadinya pernikahan anak di Indonesia seperti pendidikan, budaya dan status ekonomi.

Selain berdampak buruk bagi anak perempuan, pernikahan anak berdampak buruk bagi masyarakat dan pemerintah. Perkawinan anak dapat menyebabkan siklus kemiskinan yang berkelanjutan, peningkatan buta huruf, kesehatan yang buruk kepada generasi yang akan datang dan merampas produktivitas masyarakat yang lebih luas baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Child Marriage Program Manager Plan International Indonesia, Amrullah, Selasa (3/10/2017), mengatakan, menjelang Hari Anak Perempuan International yang jatuh pada tanggal 11 Oktober, Plan International Indonesia organisasi non profit yang peduli terhadap pemenuhan hak-hak anak dan kesetaraan anak perempuan, mengajak masyarakat turut berperan aktif dalam mencegah praktik perkawinan anak di Indonesia.

”Sebagai organisasi yang berkomitmen untuk memastikan anak perempuan dapat belajar, memimpin, memutuskan dan berkembang dengan baik, kami ingin anak Indonesia menjadi generasi yang produktif dengan mengenyam pendidikan setinggi mungkin, sehingga mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak,”ujarnya.

Plan International Indonesia bersama Rutgers WPF Indonesia dan Aliansi Remaja Independen menjalankan proyek “Yes I Do”, yang ditujukan mendukung anak perempuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, pemberdayaan ekonomi dan partisipasi anak muda yang bermakna. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi juga diperlukan untuk mencegah kehamilan dini, yang juga sering menjadi penyebab pernikahan anak.

Selain itu, pencegahan perkawinan usia anak juga didukung oleh Komite Perlindungan Anak Desa (KPAD) dan prototype pencatatan kelahiran online (pembuatan akta lahir). Amrullah menegaskan di tahun 2009 Plan International Indonesia menginisiasi pembentukan KPAD di 31 desa. Kini telah berkembang di lebih dari 900 desa di Indonesia karena pernikahan anak merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap anak.

”KPAD merupakan kelompok kerja kolaborasi antar berbagai unsur masyarakat dan pemerintah dalam melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan,”tambah Amrullah.

Pendidikan yang rendah akan berpengaruh terhadap pekerjaan dan penghasilan yang akan didapatkan. Melalui program pemberdayaan ekonomi, Plan International Indonesia memberikan pelatihan soft skill dan technical skill kepada generasi muda agar dapat mengakses pekerjaan dan penghidupan yang layak sehingga dapat menghindari pernikahan usia anak.

Fatimah Huurin Jannah atau yang akrab disapa Faza, remaja penggiat pencegahan perkawinan anak mengatakan pentingnya remaja berteman dengan remaja yang rentan menikah di bawah umur. “Kita bisa menjadi teman curhat, mendukung keinginan mereka untuk melanjutkan sekolah setinggi mungkin, sehingga tidak terpikir dibenak mereka untuk menikah di bawah umur. Terkadang remaja tidak berpikir secara matang. Bagi mereka menikah itu gampang dan menyenangkan, tanpa tahu dampak yang akan dihadapi setelahnya. Peran kita sebagai teman curhat dapat mengajak mereka untuk merencanakan dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik,”ucap Faza. (nos)

Advertising
Advertising