CSR

ACT Bangun Kembali Asa Pendidikan Rohingya

22-10-2017

Chittagong, beritasurabaya.net - Melintasi wilayah Chittagong, Bangladesh, ada sebuah madrasah yang menampung ratusan yatim piatu Rohingya sekaligus anak-anak Bangladesh. Sekolah yang didirikan NGO lokal ini juga memperkerjakan sejumlah guru-guru Rohingya asli Arakan (Myanmar) yang telah menjadi pengungsi di Bangladesh selama beberapa tahun.

Madrasah inilah yang menjadi tujuan utama kegiatan kemanusiaan Tim SOS Rohingya, pekan lalu. Di aula sekolah tersebut, sebanyak 125 guru Rohingya telah memenuhi ruangan. Mereka merupakan ustad sekaligus guru yang biasa mengajar anak-anak pengungsi Rohingya di sejumlah kamp pengungsian yang tersebar di Bangladesh. Lewat kesukarelawanan ustaz-ustaz tersebut, ribuan anak Rohingya mampu mengenyam pendidikan meski dengan kondisi yang terbatas.

Hari itu, Aksi Cepat Tanggap kembali menyalurkan bantuan tunjangan guru bagi ratusan ustad Rohingya yang telah mendedikasikan waktunya untuk mendidik putra-putri Rohingya. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari Teacher Sponsorship Program yang telah dimulai oleh ACT sejak awal Januari lalu.

Dalam penyerahan simbolis tunjangan guru tersebut, Presiden ACT Ahyudin menyampaikan apresiasinya terhadap kepedulian para ustaz terhadap pendidikan anak-anak Rohingya. “Kalian punya peran yang luar biasa. Kalian para ustaz, para guru, para tahfiz, mampu menghidupkan kembali keimanan saudara-saudara Rohingya, khususnya anak-anak Rohingya,”ungkap Ahyudin.

Tak jauh dari gedung sekolah tersebut, terhampar lahan seluas 3000 meter persegi. Ahyudin mengatakan, di area inilah sebuah asrama untuk yatim piatu Rohingya yang baru tiba di Bangladesh akan dibangun.

Rencananya, asrama tersebut akan menampung sekitar 1000 yatim piatu Rohingya. Mereka akan tinggal sekaligus mengenyam pendidikan di asrama yang akan terintegrasi dengan bangunan sekolah.

Di sana, mereka tidak hanya akan belajar mengenai pendidikan umum, namun juga pendidikan agama Islam. “Insya Allah, tempat ini akan dijadikan model dalam mengelola atau mengurus ribuan yatim piatu Rohingya dengan baik. Sehingga, dari sini nanti akan lahir generasi-generasi baik. Bukan manusia-manusia yang saling menzalimi, tapi manusia-manusia yang melindungi manusia lainnya, insya Allah,” jelas Ahyudin.

Program beaguru dan pendidikan bagi yatim piatu Rohingya ini merupakan bagian dari program pemulihan untuk pengungsi baru Rohingya. Direktur Global Humanity Response ACT Bambang Triyono menyampaikan, program jangka panjang ini akan dilaksanakan berbarengan dengan program pemulihan lainnya.

“ACT juga tengah mengupayakan pembangunan 2000 hunian sementara dan beberapa program pemberdayaan pengungsi Rohingya. Seperti yang kita tahu, pengungsi-pengungsi baru yang terlebih dulu tiba di Bangladesh, tentu telah memasuki masa recovery. Maka, kami pun langsung bekerja untuk membantu pengungsi di fase pemulihan ini,” terang Bambang.

Meskipun program pemulihan untuk Rohingya telah dimulai, fase tanggap darurat bagi pengungsi baru di Rohingya di Bangladesh belumlah usai. Hal ini mengingat masih banyaknya jumlah pengungsi baru yang berdatangan setiap harinya.

Oleh karena itu, hingga kini ACT terus mendistribusikan berbagai bantuan tanggap darurat bagi para pengungsi baru. Berbarengan dengan itu, program pemulihan pun mulai dilaksanakan, babak lanjutan dalam ikhtiar menyelamatkan Rohingya. (nos)

Advertising
Advertising