CSR

ACT-Pertamina Bantu Korban Rob Pekalongan

28-05-2018

Pekalongan, beritasurabaya.net - Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Pekalongan & Pertamina Regional IV kembali turun ke lokasi Rob Pekalongan. Kali ini tim membagikan 400 nasi kotak (untuk buka dan sahur) dan paket logistik berupa kebutuhan pokok di daerah korban banjir rob Kota Pekalongan, akhir pekan lalu.

Paket  tersebut berisi antara lain gula, mi instan, susu, teh, bumbu dapur, air mineral, biskuit , obat- obatan, selimut dan kebutuhan bayi. Warga penerimanya berasal dari Kelurahan Bandengan, Pabean, Kramat Sari, Panjang Wetan dan Panjang Baru yang terkena dampak rob yang berkepanjangan.

Koordinator ACT Kota Pekalongan, Abdilah, yang biasa disapa Abdy, menjelaskan bahwa ini bantuan yang ke empat kalinya sejak 22 Mei 2018 mengingat rob ini masih belum ada tanda-tanda akan surut. "ACT dengan sigap akan terus berusaha membantu warga yang terkena musibah banjir,"jelas Abdy.

Maya, salah satu warga panjang baru yang terkena dampak dari rob mengatakan sangat bersyukur telah mendapatkan bantuan dari ACT dan Pertamina Regional IV. “Saya sangat bersyukur sudah dapat bantuan sembako dari ACT dan Pertamina Regional IV, semoga Allah membalasnya” tandas Maya.

Selain Maya, Mbah Mar warga Bandengan yang juga terkena banjir hingga sampai dalam rumah setinggi lutut orang dewasa sangat berterimaksih kepada ACT dan Pertamina Regional IV yang telah memberikan bantuan kepada warga bendengan. Sebelumnya TIM  juga telah menyerahkan 150 selimut, obat-obatan dan kebutuhan lainya yang diberikan kepada warga yang terkena banjir dan rob di Pekalongan utara.

Koordinator Pengungsian, Maya mengatakan, sejak awal bulan ini warga dilanda rob dengan ketinggian 40 centimeter hingga satu meter lebih. Hal ini membuat sebagian warga terpaksa mengungsi dari kediaman mereka karena rumah dan seisinya tergenang banjir rob.

“Ada kurang lebih 500 warga bertahan di tempat pengungsian. Mereka setiap hari tidur dan salat tarawih di sini (tempat pengungsian, red),” kata Maya.

Terkait kebutuhan sehari-hari, juga dilakukan di tempat pengungsian. Sebab, dapur dan alat-alat masak di rumah turut tergenang. “Kalau maghrib rob tinggi, bahkan sampai sepinggang orang dewasa. Anak-anak juga bertahan di tempat pengungsian. Tapi mereka tetap sekolah, meskipun harus cincing karena akses menuju sekolah tergenang,” tandasnya. (nos)

Teks foto :

Distribusi bantuan kemanusiaan di Pekalongan.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising