Seni & Hiburan

IFI Surabaya Silaturahmi Budaya di Sumenep

29-04-2018

Surabaya, beritasurabaya.net - Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya untuk pertama kalinya mengadakan pertunjukan di Madura, menampilkan kolaborasi seni tari Prancis dan Sumenep serta diiringai musik karya musisi Jawa Timur. Acara ini diselenggarakan bekerjasama dengan Kabupaten Sumenep.

Penampil asal Prancis, duo penari hip-hop kelompok French Wingz akan berkolaborasi dengan seniman tari Topeng Madura, pencak silat dan diiringi karya musik dari kelompok musik asal Jawa Timur, Kayon dan musik Tong Tong Sumenep. Acara bertajuk Labâng Mèsem Le Spectacle 2018 : Silaturahmi Dua Budaya (Rencontre de deux cultures) akan digelar Rabu (2/5/2018), pukul 19.00 WIB, di depan Labâng Mésem, nama pintu gerbang Keraton Sumenep.

Lokasi tersebut dipilih karena Keraton Sumenep lekat dengan kekayaan warisan budaya kabupaten Sumenep. Masing-masing seniman, dari Prancis, Madura (Sumenep dan penampil tari pembuka dari Pamekasan), dan musisi Jawa Timur akan menampilkan karya mereka. Acara dipungkasi dengan pertunjukan karya baru nan unik, sebuah kolaborasi seni yang pertama kali terjadi antara hip-hop Prancis, seni tari Topeng dan pencak silat Sumenep serta musik yang dibawakan oleh Kayon, kelompok musisi asal Jawa Timur.

Dalam siaran pers yang diterima beritasurabaya.net, Minggu (29/4/2018), Penanggung Jawab Budaya & Komunikasi IFI Surabaya, Pramenda Krishna A, menjelaskan, French Wingz yang terdiri dari duo penari hip-hop, Archad (Archade Ali) dan Crackers (Stevens Tailiasson) merupakan finalis ajang pencarian bakat Got to Dance di Jerman dan finalis Incroyable Talent di stasiun TV Prancis M6. Archad yang spesialis breakdance dan hip hop telah memiliki karir internasional dan bekerja sama dengan sejumlah merk ternama. Sementara Stevens alias Crackers, jago akrobatik dan punya pengalaman bekerja di komunitas sirkus dan komedi musikal di berbagai tempat di Prancis. Dari Champs-Elysées di Paris sampai Times Square di New York, “duo invertebrata” yang identik dengan koreografi akrobatik ini membawa sentuhan Prancis melalui sebuah bahasa universal yakni tari hip hop.

French Wingz pertama kali tampil di Indonesia pada 25 Januari 2018 dalam rangkaian acara Malam Berbagi Ide (La Nuit des Idees) di Jakarta. Dalam tur di Indonesia kali ini, French Wingz akan mengunjungi tak hanya Jakarta tetapi juga Medan, Yogyakarta, Madura dan Bali serta berkolaborasi dengan seniman Indonesia.

Mengenai tur di Indonesia kali ini, duo French Wingz, Archad dan Crackers mengatakan, sangat menyenangkan dengan kunjungan yang ketiga kalinya ke Indonesia. Kali ini akan menjadi tur yang sebenarnya bagi mereka.

A real opportunity to show our work in the different part of Indonesia. And this tour is special because we will have to make some collaboration with locals dancer from Jakarta and Surabaya (Madura), and this is maybe the first and the only chance to live this experience,”tukasnya.

French Wingz menampilkan pertunjukan tarian dengan gaya street dance dengan sentuhan Prancis. Archad dan Crackers secara tak sengaja bertemu pada tahun 2008, ketika berkompetisi di Paris.

Crackers mulai menari sejak usia 16 tahun. Ia adalah penari Hip Hop dan juga penampil sirkus. Pemenang kompetisi Hip Hop Session di Prancis yang juga penari musikal dalam film Scooby Doo. Archad adalah pemerhati Hip Hop. Pada tahun 2000 untuk pertama kalinya ia bergabung dengan grup lokal bernama “Afro Jam” dan terhitung sebagai ajang internasional terbesar seperti Ready to Rumble (Jerman), Affront Ul’team (Prancis), R-16 (Korea Selatan), dll. Mereka telah melakukan tur dunia (Malaysia, Indonesia, USA, Brazil, Australia, dll.) tampil pada berbagai jenis pertunjukan dan memberi workshop seputar budaya hip-hop.

Seniman dari Sumenep yakni Rukun Pewaras asli kelompok tari topeng turun temurun. Tari topeng merupakan bentuk kesenian teater rakyat tradisional yang paling kompleks dan utuh.

Hal tersebut disebabkan dalam kesenian topeng mengandung unsur cerita, unsur tari, unsur musik, unsur pedalangan, dan unsur kerajinan, sehingga bentuk kesenian ini dianggap paling pas untuk digunakan sebagai media dakwah dengan tanpa menghilangkan unsur hiburannya yang kental dengan aroma kerakyatan. Topeng dalang mulai menjadi bagian dari hiburan kalangan ningrat atau keraton, setelah sebelumnya identik dengan teater rakyat. Ini terjadi di kurun abad-18. Seni inipun mulai merambah Madura sebagai efek perkawinan politik para raja.

Takenuda merupakan nama kelompok Pencak Silat asli Sumenep, sedangkan Pencak Silat adalah seni beladiri asli Indonesia. Sebuah budaya produk lokal yang memiliki banyak pemahaman didalamnya, bergantung kultur daerahnya masing-masing.

Masyarakat Madura sejak dulu nenek moyangnya dikenal ulet dan suka menjelajah ke tanah seberang. Hal ini masih mentradisi hingga kini di kalangan masyarakat Madura.

Banyak faktor yang membuat mereka rela meninggalkan tanah tumpah darahnya. Salah satunya kondisi alam yang keras dan sulitnya pekerjaan dan kondisi tanah pertanian yang cenderung tandus. Watak mereka terus ditempa oleh kondisi alam yang keras tersebut, sehingga banyak dari mereka kemudian menyeberang ke daerah lain dan berkembang di tempat tersebut.

Kalau kita lihat hampir disemua daerah di Indonesia ini suku Madura selalu ada, sebagai perantau dan penjelajah yang ulet, mereka merasa perlu untuk memiliki satu bentuk pertahanan diri yang sangat berguna pada kondisi genting dan hal tersebut adalah pencak silat. Keagungan pencak silat sudah terpatri di dada putra-putri asli Madura, karena itu tak heran apabila masyarakat Madura lebih memilih belajar silat ketimbang beladiri lain.

Al Barokah adalah nama kelompok musik Tong Tong khas Madura yang terdiri atas alat musik perkusi. Jenis musik ini sangat populer di kalangan masyarakat Sumenep dan Madura dalam beberapa dekade terakhir ini.

Di kabupaten lain lebih dikenal dengan nama musik ul daul, dikategorikan sebagai jenis musik perkusi, biasanya dimainkan dan didukung oleh sekitar 45 orang personil mulai dari pemain musik sekaligus penyanyi dan mereka yang sebagai pendorong kereta.

Berbagai jenis alat musik perkusi ini, di tempatkan di atas sebuah kereta hias yang penuh dekorasi ukiran khas sumenep madura, dan biasanya didukung oleh tata cahaya/lampu yang meriah dan warna warni,serasi dengan dekorasi yang ada sehingga penampilan musik tong-tong ini lebih istimewa dan populer dilaksanakan di malam hari.

Ide munculnya musik ini berawal dari tradisi masyarakat madura ketika membangunkan masyarakat untuk makan sahur di bulan puasa. Satu-satunya kabupaten di Madura yang rutin menggelar festival musik tong-tong ini adalah Kabupaten Sumenep dengan peserta mengundang dari 4 kabupaten di Madura.

Dalam popularitasnya, musik tong-tong sumenep ini di dalam daerah selalu kita sajikan sebagai pertunjukan tradisional termasuk ketika kedatangan wisatawan yang berkunjung menggunakan kapal pesiar dan dalam skala internasional telah diundang pada sebuah acara kesenian di kota Adelaide sebuah kota di negara bagian Australia di tahun 2016 lalu.

Akan tampil pula Kayon sekelompok pemusik yang beranggotakan 9 (sembilan) orang dengan latar belakang keahlian musik yang berbeda beda. Sebagian dengan latar belakang string klasik dan sebagian lagi dengan latar belakang etnik khas Indonesia.

Suwandi Widianto (Wandi) sebagai vokal dan etnik komposer. Pambuko Kristian (Pambuko) pada kendang dan vokal. Catur Fredi Wiyogo (Catur) pada alat musik tiup. Yuddan Fijar Sukma Timur (Yuddan) pada gamelan. Mochamad Pungki Hartono (Pungki) pada gamelan. Tomy Agung Sugito (Tomy) pada string klasik komposer dan biola. Marda Putra Mahendra (Marda) pada cello. Danu Hisa Kumala (Danu) pada biola. Dwi Rendra Sugiatma (Rendra) pada biola.

Walaupun berbeda latar belakang musikalitas, kesembilan musisi yang tergabung dalam Kayon memiliki visi yang sama, yaitu ingin membuka mata dan telinga dunia bahwa perpaduan etnik dan klasik adalah sebuah keindahan. (nos)

Advertising
Advertising