Seni & Hiburan

Gaungkan Pesan Penuh Makna Dari Timur

19-06-2020

Jakarta, beritasurabaya.net - Ditengah pandemi saat ini, mendengarkan musik mungkin menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Musik menjadi teman yang lintas bahasa dan lokasi, menemani di setiap situasi dan kondisi.

Musik menjadi bahasa universal yang dapat menjadi cara berkomunikasi dan wadah berkreasi, menyampaikan pikiran, perasaan dan minat seseorang tanpa terkecuali.

Dalam rangka Hari Musik Sedunia yang jatuh pada tanggal 21 Juni mendatang, mari kita simak salah satu kisah kreator dari Nusa Tenggara Timur, yang mencoba menawarkan perspektif baru dan mendobrak stereotip akan keterbatasan menjadi penghalang untuk belajar dan berkreasi.

Normal baru tampaknya datang dengan banyak keterbatasan, terutama dalam mobilitas dan interaksi kita. Tetapi hal tersebut bukan hal baru bagi Ariko Tibortius atau yang dikenal sebagai Riko, seorang guru di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) dari Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, untuk berbagi tentang bagaimana murid-muridnya dapat melewati keterbatasan yang mereka miliki, terus belajar dan tumbuh.

Bermula tanpa pendidikan formal sebelumnya untuk mengajar siswa berkebutuhan khusus, Riko memberanikan diri untuk mendaftarkan menjadi pengajar di sekolah untuk siswa penyandang disabilitas yang baru dibuka pada tahun 2016. Selain diberi pelatihan khusus oleh dinas pendidikan setempat, sebagai guru baru di sekolah yang juga relatif baru, Riko berusaha untuk membekali dirinya dengan pengetahuan dan keterampilan sebagai tenaga pengajar dengan mempelajari proses belajar-mengajar SLBN di provinsi lain melalui YouTube.

Terlepas dari keraguan masyarakat terhadap profesinya, menjadi guru di sekolah SLBN membuka perspektifnya terhadap anak-anak berkebutuhan khusus dan kenyataan yang terjadi di antara komunitas penyandang disabilitas di daerah tersebut. Seiring waktu, ia memahami bahwa bagian terpenting dari menjadi guru untuk siswa berkebutuhan khusus adalah melayani mereka, memperkuat minat mereka, sekaligus memperlengkapi mereka dengan ilmu mendasar.

“Salah satu hal yang paling berharga menjadi guru bagi para siswa ini adalah melihat senyum mereka setiap pagi. Terlepas dari apapun yang mereka alami di luar sekolah, mereka selalu membawa diri yang terbaik ke sekolah, siap belajar bersama dengan teman-teman mereka juga berbagi kebahagiaan kepada orang-orang di sekitar mereka,”kata Riko.

Untuk meningkatkan suasana hati para murid dan mendapatkan perhatian mereka, setiap pagi, Riko dan guru- guru di SLBN memainkan lagu “Laskar Pelangi” dari Nidji dan “Jangan Menyerah” dari D’’Masiv sebelum memulai kelas. Setelah menghabiskan waktu dengan siswa-siswi di sekolah tersebut, Riko bertekad untuk menggaungkan suara mereka dan memberitahu dunia bahwa keterbatasan bukanlah hambatan untuk terus belajar, tumbuh, dan mengejar passion/minat. Terlepas dari keterbatasan fisik, mereka adalah anak-anak istimewa dengan bakat unik yang sayang jika diabaikan atau diremehkan.

Sebagai salah satu contoh adalah Aldy, seorang siswa tunanetra berusia 15 tahun dengan suara khas dan bakat menulis lagu. Potensi Aldy sangatlah inspiratif dan harus diapresiasi, namun terkadang terlewatkan oleh masyarakat. Riko memutuskan untuk mempublikasikan video nyanyian Aldy di YouTube.

Sejak akhir 2018, semakin banyak orang mengenai siswa-siswi SLBN Labuan Bajo, terutama Aldy. Ia seringkali mendapat undangan untuk tampil di berbagai acara di seluruh kota, hingga di Jakarta. Satu hal yang terus memotivasi Aldy untuk berkarya adalah mengetahui bahwa ribuan orang menonton videonya; membuktikan bahwa suara dan cerita dia berharga dan didengar oleh kalangan luas.

“Ketika saya mengunggah video ini ke YouTube, saya berharap orang akan melihat talenta Aldy dan anak-anak lainnya. Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kekurangan dan keterbatasan bukanlah hambatan. Anak-anak dengan kebutuhan khusus memiliki talenta luar biasa yang harus kita dukung, perkuat dan rayakan.” imbuh Riko.

Aldy adalah remaja berusia 15 tahun yang berasal dari desa Jawang di kabupaten Manggarai Timur. Anak ke 3 dari 5 bersaudara dari orang tua yang berprofesi sebagai petani ini merupakan satu-satunya penyandang disabilitas di keluarganya. Ia mengenal musik pertama kali dari pamannya yang mengajarkan cara bermain keyboard. Dia menemukan sukacita dan keinginan untuk terus menghibur orang dengan nyanyian dan musiknya sejak itu.

Selain menjadi penyanyi, Aldy juga memiliki keinginan untuk menjadi penulis lagu. Baginya, menulis lagu membantu dalam menceritakan kisahnya, memperkenalkan kota asalnya juga bahasa setempat dengan lebih baik. Kini, Aldy dapat memainkan 3 instrumen, keyboard, gitar dan suling yang ia pelajari secara otodidak. Ia juga sempat meraih prestasi sebagai runner-up pertama di provinsi NTT untuk kompetisi menyanyi yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 2019.

Cerita Riko dan Aldy menarik perhatian Rian Ekky Pradipta dari D’’Masiv untuk berkolaborasi. Rian menyampaikan bahwa ia melihat bakat yang luar biasa yang ada di diri Aldy. Seorang anak dari Timur yang mungkin tidak memiliki fisik yang sempurna seperti kita semua, tapi memiliki semangat luar biasa untuk berkarya.

”Walaupun seorang tunanetra, tapi hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk dia bernyanyi dan membuat lagu. Kata ‘’Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya bagi hamba-Nya yang sabar dan tak putus asa’’ terwujud di diri Aldy,”ujarnya.

Jangan lewatkan kolaborasi Aldi, beberapa murid-murid SLBN Labuan Bajo dan Rian Ekky Pradipta dari D’’Masiv yang akan tayang di YouTube channel Rian Ekky Pradipta hari Minggu (21/6/2020), pukul 14:00 WIB. (nos)

Teks foto :

Aldy dan Riko bersama mempelajari lagu baru dengan hanya mendengar lagu tersebut di YouTube.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising