Kuliner

Menikmati Kuliner Di Pasar Malam Tjap Toendjoengan

04-05-2019

Surabaya, beritasurabaya.net - Menyambut HUT ke-726 Kota Surabaya, Pakuwon Group kembali menggelar Pasar Malam Tjap Toendjoengan hingga akhir Mei 2019. Pasar Malam ini digelar di Food Festival East Coast Center Pakuwon City dan.

Selain menyambut HUT Surabaya, Pasar Malam Tjap Toendjoengan ini menjadi tempat alternatif mencari kuliner khas Nusantara sekaligus pilihan untuk berbuka puasa selama Ramadhan. Penataan stan-stan di Pasar Malam ini terlihat lebih rapi dan luas dibanding tahun lalu.

Stan-stan beratap dari daun kelapa dengan kesan tradisional ini, menyediakan beragam jenis makanan dan minuman. Para pengunjung bisa diperoleh dengan harga yang relatif terjangkau dan cara membelinya dengan e-money dari Brizzi.

Seluruh penjual menggunakan celemek dan sarung tangan sehingga kebersihan terjaga saat melayani pengunjung. Sedangkan tempat makan juga disediakan lebih banyak, sehingga pengunjung tidak perlu antri tempat duduk terlalu lama seperti tahun lalu.

Beberapa kuliner legendaris yang bisa ditemukan di Pasar Malam ini, antara lain, Nasi Kuning Mungil THR, Kupang Lontong Balap Pak Warno, Nasi Madura, dan sebagainya. Meme Mulijo pemilik Depot Nasi Kuning Mungil THR, mengatakan, kegiatan Pasar Malam ini sangat positif dalam mendukung kuliner Nusantara terutama dari Surabaya.

”Ini momen yang bagus untuk lebih mengenalkan pada warga kota maupun dari luar Surabaya yang ingin menikmati kuliner Nusantara. Selain itu, harganya relatif terjangkau dengan suasana keramaian seperti di sebuah pasar malam,”tukasnya.

Diakui Meme, pada awal Pasar Malam yakni 1 Mei 2019 lalu, pengunjung relatif sepi karena hujan. Namun pada hari kedua, jumlah pengunjung yang datang ke stannya relatif lebih banyak dibanding periode yang sama dengan tahun lalu.

Sedangkan untuk penggunaan Brizzi, kata Meme, sebenarnya cukup membantu dalam mengurangi transaksi tunai. Hanya saja, dengan e-money, pemilik stan repot memutar uang untuk kulakan bahan-bahan makanan.

Pasalnya, dengan e-money, uang baru ditransfer ke pemilik stan dari hasil penjualan baru H+1. Bahkan pada pelaksanaan tahun lalu, uang hasil penjualan ditransfer secara bertahap sehingga kami agak kerepotan dalam mencatat hasil jualan.

”Mudah-mudahan tahun ini lebih lebih cepat ditransfer sehingga kami lebih tahu pendapatan yang diperoleh dalam sehari berapa dan cepat bisa diputar kembali uangnya. Di sisi lain, pengunjung memang diharuskan menggunakan e-money dan tidak boleh uang tunai,”tambah Meme, yang semalam bisa menjual 100 bungkus nasi kuning.

Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, mengatakan, jumlah stan di Pasar Malam tahun ini lebih banyak dibanding tahun kemarin. Tahun lalu sebanyak 62 stan dan saat ini lebih dari 90 stan.

”Potensi pengunjung ke Pasar Malam juga lebih besar terutama dari wilayah sekitar Food Festival. Penghuni apartemen saja lebih dari 10 ribu KK. Karena kami telah mengoperasikan 1526 unit apartemen,”ungkap Sutandi.

Sementara itu, Budi Feriyanto dari BRI Kanwil Jawa Timur menjelaskan, kerjasama dengan Pakuwon Group dalam menyediakan Brizzi bagi pengunjung ini merupakan kali ketiga. Brizzi hadir dalam desain khusus Pasar Malam Tjap Toendjoengan dan bisa di-top up dengan nominal berapapun.

”BRI membantu peserta Pasar Malam dengan meminjamkan alat gesek Brizzi. Bagi pengunjung yang melakukan transaksi di Pasar Malam, struk pembelian akan diundi dan bisa mendapatkan hadiah menarik dari kami,”paparnya.

Budi menambahkan kartu Brizzi selain digunakan di Pasar Malam Tjap Toendjoengan, juga bisa berfungsi sebagai e-toll maupun transaksi di retail channel modern lainnya. “Selama gelaran Pasar Malam, kami siapkan outlet pembelian Brizzi maupun top up. Penyediaan Brizzi ini upaya mendukung program Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) dari pemerintah,”tambahnya. (nos)

Teks foto :

Nasi ndeso Madura bisa dinikmati di Pasar Malam Tjap Toendjoengan Food Festival Pakuwon City Surabaya.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising