Nusantara

Persepsi Kondisi Tertindas, Akar Terorisme

13-06-2017

Jakarta, beritasurabaya.net - Akar dari terjadinya permasalahan terorisme disebabkan persepsi kondisi tertindas secara terus menerus oleh negara-negara barat. Dan sebagian kalangan menganggap kondisi tersebut adalah ketidakadilan yang harus diubah dengan cara berjihad.

Hal ini disampaikan Waskejend MUI Pusat Amirsyah Tambunan, saat menjadi pembicara dalam kegiatan diskusi dengan para mantan narapidana kasus terorisme (napiter) di Hotel Balairung Matraman, Jakarta, Minggu (11/6/2017) lalu.

Jihad itu, kata Amrisyah, hukumnya wajib karena tujuannya perbaikan. Terorisme itu haram karena sifatnya merusak dan menghancurkan.

Guna mencegah masuknya pemahaman yang keliru kepada anak-anak bangsa, dirinya ingin membentengi generasi muda dari segi pendidikan, dan juga ekonomi. “Umat Islam harus mengisi penegakan keadilan dengan kekuatan pendidikan dan membangun kekuatan ekonomi. Mereka harus dididik agar tidak tumbuh bibit radikalisme dan terorisme,”kata Amirsyah.

Sementara Ketua Harian Tanfidziyah PBNU, Marsudi Syuhud memberi pencerahan kepada para peserta mantan napi kasus teroris agar mereka bisa me-manage kehidupan yang diberikan Allah dengan sebaik-baiknya. Hal ini dikatakan Marsudi dapat menjadi kunci pembuka pintu rezeki.

“Kita bangun kekuatan untuk merubah keadaan dari yang Allah tidak senang menjadi yang Allah senangi. Dari yang masyarakat tidak senangi, menjadi yang mereka senangi,”kata Marsudi.

Dirinya juga mengkutip salah satu perkataan yang paling populer di saat bulan Ramadhan. Hadits ini diyakini Marsudi dapat memudahkan terbukanya pintu rezeki, dan terbukanya pintu ampunan. 

“Pada bulan puasa ini ada hadits yang sangat terkenal yakni man shoma romadhona imanan wakhtisaban, ghufirolahu ma taqodama min dzanbih. Dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda : Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosanya yang telah lalu. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim),”jelasnya.

Untuk memudahkan mengalirnya rezeki, Marsudi mengingatkan agar seluruh umat membangun konektifitas dengan Allah sebagai Sang Khalik. Dari penjelasan tersebut Marzudi berharap umat muslim dapat mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta kedamaian dan kententraman dalam hidup bermasyarakat. (nos)

Teks foto :

Diskusi dengan para mantan narapidana kasus terorisme (napiter) di Hotel Balairung Matraman, Jakarta, Minggu (11/6/2017) lalu.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising