Laporan Khusus

Resistensi Antibiotik Berdampak Ke Sektor Ekonomi

05-08-2018

Surabaya, beritasurabaya.net - Resistensi antibiotik tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan tapi juga berdampak pada sektor ekonomi. Apabila resistensi antibiotik ini tidak ditangani dengan baik akan berdampak di 2050.

Demikian ungkap Benyamin Sihombing, dr., M.P.H sebagai WHO Representative dalam simposium bertema “Fight Againts Tropical Disease in the Era of Borderless World”, Minggu (5/8/2018), di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Simposium ini bagian dari rangkaian acara Airlangga Medical Scientific Week (AMSW) 2018.

Dampak resistensi antibiotik, kata Benyamin, diprediksi terdapat 10 juta orang meninggal per tahun dan menghabiskan uang sebanyak USD100 triliun. Resistensi antibiotik yang terjadi di dunia bermula ketika mikroba seperti bakteri, virus dan parasit berubah atau bermutasi setelah terpapar oleh obat antibiotik dan obat-obatan ini menjadi tidak efektif untuk menangani penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, ataupun parasit.

”Tantangan yang dihadapi dunia saat ini adalah banyak peresepan antibiotik oleh dokter, pasien tidak menyelesaikan sesuai anjuran penggunaan antibiotik, lemahnya pengontrolan infeksi di rumah sakit dan klinik, kurangnya kebersihan dan lemahnya sanitasi, penggunaan antibiotik pada peternakan dan pertanian, dan berkurangannya penemuan antibiotik baru,”paparnya.

Sebagai pemateri kedua, Dr. Amirah binti Amir sebagai Asia-Pacific Representative membawakan materi mengenai “Handling Malaria Disease in The Era of Resistance”. Malaria tetap menjadi salah satu masalah yang paling dahsyat dalam penyakit infeksi.

Kata Amirah, setiap tahun, sekitar 212 juta orang terinfeksi dan 429.000 kematian disebabkan oleh infeksi parasit. Plasmodium Falciparum adalah spesies parasit malaria paling mematikan yang terkait dengan tingginya mortalitas dan morbiditas yang diakibatkan infeksi Plasmodium Falciparum. Parasit ini memasuki tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.

Ironisnya, P. Falciparum telah menjadi resistensi terhadap hampir semua obat antimalaria lainnya yang tersedia saat ini, seperti sulfadoxine/pyrimethamine, mefloquine, halofantrine, dan quinine. “Oleh karena itu penting bagi mahasiswa dan dokter untuk mengetahui cara menangani penyakit Malaria di Era Resistensi antibiotik,”ujarnya.

Dr. Domicus Husada, M.D. Pediatricians pemateri lainnya, membawakan materi mengenai “An Experiences on Tackling of Diphtheria Epidemic in East Java”. Pada kesempatan kali ini ia menjelaskan soal difteria. Difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Cornyebacterium diphtheriae. Tanda umum difteri adalah menebalnya lapisan mukosa di belakang tenggorokan yang ditandai dengan adanya bercak berwarna putih atau biasa disebut pseudomembrane.

Difteri dapat mengancam jiwa karena komplikasi seperti kesulitan bernapas dan gagal jantung. Indonesia telah mengalami wabah Diphtheria pada tahun 2017. Antara Januari dan November 2017, pemerintah telah mencatat 593 kasus tersebar di 20 provinsi dan Jawa Timur adalah salah satunya. Oleh karena itu, menarik untuk mendengar tentang bagaimana dokter berpengalaman mengatasi wabah difteri khususnya di Jawa Timur. 

Setelah kegiatan simposium berakhir, dilakukan pengumuman pemenang lomba. Lomba Literature Review-Poster Ilmiah, Essai Ilmiah, Poster Publik, serta Research Paper Competition AMSW 2018 diselenggarakan oleh Forum Ilmiah dan Studi Mahasiswa (FORISMA) sebagai salah satu program kerja 2018 Forum Ilmiah dan Studi Mahasiswa (FORISMA) Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan sikap kritis dan peduli berbagai kalangan, terutama mahasiswa kesehatan terhadap berbagai masalah kesehatan yang sedang melanda Indonesia saat ini, serta mampu memberikan suatu solusi yang inovatif sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih baik untuk dunia, khususnya Indonesia ke depan yang lebih sehat. Kegiatan ini akan mengusung tema berupa Antimicrobial Resistance. 

AMSW terdiri dari 4 cabang lomba yakni Literature Review, Poster Public, Essai Ilmiah, dan Research Paper. Untuk masing-masing cabang lomba mengusung tema “Tropical Medicine: Establishing Approaches toward Disease Eradication and Widespread Control” yang terdiri dari beberapa sub tema yakni Travel Medicine, Emerging and Re-Emerging Infectious Disease, Neglected Tropical Disease, dan Non Infectious Disease in the Tropic.

AMSW 2018 kali ini diikuti oleh 27 Universitas di Indonesia, dengan jumlah peserta yang mendaftar 354 peserta, dan yang lolos untuk final 110 peserta. Untuk pemenang lomba Research Paper : Juara Pertama dimenangkan oleh Nayla Rahmadiani dari Universitas Brawijaya, Juara Kedua dimenangkan oleh Alvin Saputra dari Universitas Airlangga, dan Juara Ketiga dimenangkan oleh Noviana Pravita Dewi dari Universitas Sebelas Maret.

Pemenang lomba literature review : Juara Pertama dimenangkan oleh Ghea Mangkuliguna dari Universitas Katolik Atma Jaya, Juara kedua dimenangkan oleh Mutiara Rahma Amari dari Universitas Padjajaran, dan Juara ketiga dimenangkan oleh Fachreza Aryo Damara dari Universitas Padjajaran.

Pemenang lomba Essai Ilmiah : Juara Pertama dimenangkan oleh Putera Dewa Haryono dari Universitas Indonesia, Juara kedua dimenangkan oleh Glenardi dari Universitas Atma Jaya, dan Juara ketiga dimenangkan oleh Madha Qoyyulledy dari Universitas Jember.

Pemenang lomba Poster Publik : Juara Perta dimenangkan oleh Gilda Hartecia dari Universitas Airlangga, Juara Kedua dimenangkan oleh Daniell Edward dari Universitas Indonesia, dan Juara Ketiga dimenangkan oleh Nadhifah dari Universitas Airlangga. (noer soetantini)

Teks foto :

Para pemateri simposium berfoto bersama di akhir acara.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising