Laporan Khusus

Infrastruktur Genjot Penetrasi Pengguna Internet

09-08-2018

Surabaya, beritasurabaya.net - Penetrasi pengguna internet terus tumbuh didukung dengan pembangunan infrastruktur, jumlah kepemilikan smartphone maupun komputer. Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2017, penetrasi pengguna internet sebesar 54,68 persen atau 143,26 juta jiwa dari total populasi penduduk Indonesia.

Sementara jumlah pengguna internet di 2016 sebesar 132,7 juta jiwa. “APJII targetkan sampai akhir 2018, tingkat penetrasi pengguna internet bisa mencapai 60 persen. Penetrasi pengguna internet berdasarkan karakter kota/kabupaten, tertinggi ada di wilayah urban, wilayah rural-urban 49,49 persen dan terendah wilayah rural 48,25 persen,”kata Ketua Umum APJII Pusat, Jamalul Izza, di sela Musyawarah Wilayah (Muswil) APJII Jawa Timur 2018, Kamis (9/8/2018), di TS Hotel Surabaya,

Jamalul menegaskan komposisi pengguna internet berdasarkan jenis kelamin, mayoritas laki-laki 51,43 persen dan perempuan 48,57 persen. Sedangkan komposisi pengguna internet berdasarkan usia, terbanyak di rentang usia 19-34 tahun (49,52 persen).

”Sedangkan penetrasi pengguna internet berdasar usia tertinggi di rentang usia 13-18 tahun sebesar 75,50 persen. Untuk perangkat yang dipakai mengakses internet komputer/laptop pribadi 4,49 persen, smartphone atau tablet pribadi 44,16 persen, menggunakan keduanya 39,28 persen dan lainnya 12,07 persen,”paparnya.

Jamalul menegaskan APJII terus mendorong agar pengguna internet di tanah air bertambah. Ada banyak manfaat yang bisa didapat dari penggunaan jejaring di dunia maya.

Selain mendorong penetrasi internet di masyarakat, APJII juga mendorong pertumbuhan konten lokal. Jika semakin banyak konten lokal maka akan ada pemasukan pajak ke negara dan penggunaan konten lokal juga ikut meningkat.

Jamalul menyebut, tahun lalu pengakses konten lokal hanya 30 persen dan saat ini naik menjadi 45 persen. Untuk menumbuhkan konten lokal, pemerintah perlu terlibat di dalamnya.

Selama ini cukup banyak konten lokal yang bagus namun tidak bisa berkembang karena kekurangan finansial. Memang ada sejumlah konten lokal yang bisa besar, itupun ketika didanai oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Gojek dan Bukalapak.

Terkait dengan Muswil APJII Jawa Timur, Jamalul menjelaskan, Muswil ini merupakan kegiatan yang digelar 3 tahun sekali setelah 90 hari Munas. Muswil untuk memilih ketua dan pengurus yang baru. APJII sendiri memiliki 12 wilayah dan ada yang melakukan Muswil serentak.

Muswil yang digelar ini mengangkat tema “Meningkatkan Peran Sentral APJII Membangun Ekosistem Internet Di Daerah”. Tema ini sejalan dengan program pemerintah “Nawa Cita” membangun infrastruktur dari wilayah pinggiran ke tengah.

”APJII mendukung program pemerintah, bagaimana mengupayakan daerah terpencil bisa terkoneksi internet sehingga tingkat penetrasi internet lebih tinggi lagi. Bicara di Jawa Timur atau Surabaya saja, masih banyak daerah pinggiran yang belum terkover internet,”ungkapnya.

Tidak berhenti di situ saja, setelah terkoneksi internet, APJII harus memikirkan bagaimana kelanjutannya dan apa yang harus dilakukan. Kemudian, APJII juga terus menerus mengedukasi masyarakat terkait konten-konten negatif dan berita hoax. ”Untuk kampanye dan edukasi, APPJII melakukan melalui Miss Internet Indonesia,”tambah Jamalul.

Sampai saat ini jumlah anggota penyedia jasa internet yang tergabung di APJII sebanyak 480 dan anggota non penyedia jasa internet seperti pemerintahan, pendidikan, kesehatan, milir, lebih dari 1200.

Jumlah anggota APJII Jawa Timur sebanyak 52 perusahaan. Jamalul menambahkan APJII satu-satunya asosiasi yang diberi mandat dari organisasi Asia Pasifik di Australia untuk mendistribusikan IP Adress/IP Number. (noer soetantini)

Teks foto :

Pengurus APJII Pusat dan Jawa Timur dalam Muswil APJII Jawa Timur 2018.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising