Laporan Khusus

BNI Surabaya Dijatah 300 Unit Rumah Murah

18-09-2018

Surabaya, beritasurabaya.net - PT Bank Negara Indonesia/BNI (Persero) Tbk Kantor Wilayah Surabaya mendapat jatah menyalurkan kredit pembiayaan rumah murah untuk 300 unit sampai akhir September 2018. Secara nasional, 3000 unit rumah.

Alokasi tersebut terkait dukungan BNI terhadap kebijakan pelonggaran makroprudensial dalam bentuk ketentuan Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV), yang dilakukan Bank Indonesia. “Realisasi hingga saat ini sudah 200 unit rumah yang sudah dibangun pengembang dengan tipe kecil. Proyek rumah murah berada di wilayah Sidoarjo, Mojokerto, Gresik dan Lamongan,”kata Senior VP CEO Region Surabaya, Muhammad Jufri, usai paparan publik di Gedung Bursa Efek Indonesia-Surabaya, Selasa (18/9/2018).

Jufri menegaskan terhadap kebijakan pelonggaran makroprudensial tersebut, BNI menerapkan pola kehati-hatian terhadap penyaluran kredit rumah. Mayoritas penerima kredit rumah murah adalah anggota TNI/Polri dan PNS.

Sedangkan sektor informal, kata Jufri, calon penerima kredit diseleksi melalui perusahaan dimana dia bekerja. “Biasanya, kami melihat kinerja korporat jika diluar TNI/Polri dan PNS. Dan penerima kredit harus benar-benar yang belum punya rumah sehingga tujuan dari pelonggaran LTV/FTV ini tercapai sekaligus ikut mempercepat program pemerintah 1 juta unit rumah,”ungkapnya.

Jufri optimistis sampai akhir September mampu memenuhi alokasi 300 unit rumah. Bahkan pemerintah sudah berancang-ancang menambah alokasi 5000 unit rumah untuk nasional.

Sementara kinerja BNI, AVP Hubungan Investor, Shinta Kristanti N, menjelaskan, hingga semester I tahun 2018, laba BNI tumbuh 16.0 persen yakni dari Rp6.41 triliun pada periode yang sama di 2017 menjadi Rp7.44 triliun. BNI juga mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 13.5 persen, didominasi oleh dana murah (CASA) yang komposisinya mencapai 63.8 persen dari total dana yang terhimpun. Ruang bagi BNI untuk menya|urkan kredit pun masih terbuka lebar, ditandai dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 87.3 persen pada semester l tahun ini.

Sumber pertumbuhan laba bersih BNI yang mencapai 16.0 persen. Menurut Shinta, jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan laba bersih di industri perbankan nasional yang per April 2018 baru mencapai 6.3 persen. Pertumbuhan laba bersih BNI tersebut ditopang oleh pertumbuhan Pendapatan Bunga Bersih yang meningkat 13.3 persen dan merupakan buah dari penyaluran kredit BNl yang tetap terkelola dengan optimal. Pendukung pertumbuhan laba bersih BNl lainnya adalah realisasi Pendapatan Non Bunga yang tumbuh 9.1 persen yoy, yakni dari Rp 4,65 triliun pada semester l Tahun 2017 menjadi Rp5.08 triliun pada Semester I tahun 2018.

“Dengan adanya peningkatan dari sisi Net Interest Income dan Non Interest Income, perbaikan kualitas aset serta upaya efisiensi OPEX yang telah dilakukan, BNl mampu menumbuhkan tingkat laba hingga mencapai 16.0 persen yoy. Peningkatan profitabilitas ini mendorong perbaikan Return of Equity (ROE) dari 15.6 persen menjadi 165 persen,”paparnya.

BNI juga mampu mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar Rp45,6 triliun atau sebesar 11.1 persen yoy dari posisi Rp412,18 triliun pada Semester I Tahun 2017 menjadi Rp457,81 triliun pada Semester I Tahun 2018. Pertumbuhan tersebut dikontribusi oleh kredit korporasi swasta yang meningkat 11.6 persen, kredit kepada BUMN sebesar 8.6 persen, kredit Segmen Kecil sebesar 14.0 persen dan kredit Segmen Menengah yang tumbuh 8.5 persen yoy.

Payroll loan juga masih menjadi prioritas BNI dalam menumbuhkan segmen konsumer dengan pertumbuhan sebesar 50.8 persen yoy. Pada periode yang sama Kartu Kredit dan BNI Griya (Kredit Pemilikan Properti) juga mencatatkan pertumbuhan yang terus membaik. masing-masing sebesar 5.5 persen dan 8.2 persen yoy. (noer soetantini)

Teks foto :

AVP Hubungan Investor, Shinta Kristanti N (kanan) dan Senior VP CEO Region Surabaya, Muhammad Jufri, saat press conference di Investor Summit Surabaya 2018.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising