Laporan Khusus

RISE Pacu Literasi Keuangan Penyandang Disabilitas

31-10-2018

Kuncoro (38) penyandang disabilitas, ditemani sang istri, terlihat tekun mendengarkan apa yang disampaikan pembicara pelatihan program pemberdayaan ekonomi berkelanjutan (Reach Independence & Sustainable Entrepreneurship/RISE) di Surabaya, di Gedung Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Convention Center, Surabaya, pertengahan Oktober 2018 lalu. Bagi Kuncoro warga Ampel, pelatihan yang diikuti selama 3 hari banyak memberikan hal baru.

Memang tidak sia-sia, meski harus menempuh perjalanan dari Ampel ke Gedung BK3S Convention Center yang berjarak sekitar 15 km dengan motor yang sudah dimodifikasinya, Kuncoro merasa lebih bersemangat untuk menata masa depan lebih baik lagi bersama istri dan seorang anaknya. Selama ini usaha asongan yang dijalani bersama istrinya, tidak menunjukkan kemajuan apapun.

”Saya hanya berpikir, terpenting ada untung sedikit buat makan anak istri. Apalagi saya tidak punya tempat tetap usaha dan terkadang harus menghindari penertiban dari Satpol PP. Ternyata dari pelatihan ini ada semacam dorongan kuat agar saya harus berubah demi masa depan anak saya,”cerita Kuncoro usai mengikuti pelatihan hari terakhir.

Kuncoro berharap pelatihan yang digelar Maybank Indonesia bersama Maybank Foundation, tidak hanya sekadar memberikan pengetahuan tapi juga permodalan yang bisa menunjang usaha asongan miliknya. “Mungkin ini langkah awal yang bisa membuka usaha saya menjadi lebih baik lagi. Karena selama ini, untuk mencari modal berdagang relatif sulit bagi penyandang disabilitas seperti saya,”tambah Kuncoro sembari menyalakan mesin motornya.

Hal senada juga disampaikan Andri Wibowo penyandang disabilitas dari Kota Mojokerto. Dirinya terasa “disentil” saat mengikuti pelatihan. Pasalnya, selama ini dirinya tidak pernah menyisihkan pendapatan dari usaha sampingan yakni jasa taman untuk seminar, pernikahan, sunatan dan sebagainya, termasuk produksi bunga dari kaos stoking.

”Saya baru menyadari betapa pentingnya menyisihkan sebagian hasil pendapatan usaha. Selesai pelatihan ini, saya akan menerapkan apa yang sudah disampaikan pembicara untuk mengembangkan usaha saya menjadi lebih baik lagi,”tukas Andri yang bekerja sebagai Satpam di Kantor Balitbang Pemkot Mojokerto.

Dari berbagai materi yang diperoleh selama pelatihan, Andri mengaku merasa beruntung. Namun akan lebih memacu semangatnya lagi, jika Maybank tidak berhenti sampai di pelatihan dengan pemberian materi saja tapi juga membantu permodalan.

Andri sendiri merupakan satu diantara peserta pelatiha RISE yang cukup kreatif dalam mengembangkan usaha sampingan sesuai dengan kemampuan fisik dan tenaga yang dimiliki. Saat menjaga kantor di malam hari, di sela-sela waktu yang ada, tangan terampilnya mencoba merangkai bunga dari kaos stoking yang dipadukan dengan ranting pohon yang sudah dikeringkan dan dipernis. Kemudian dikombinasikan dengan daun-daun plastik dan hasilnya, rangkaian bunga yang sangat indah.

”Produksi bunga dari kaos stoking ini dijual Rp 300 ribu dan dibuat saat ada permintaan. Saya mencoba membuat sesuatu yang berbeda dengan toko-toko bunga plastik, dengan memberikan aksen lampu,”promo Andri.

Sementara itu, CSR Head & Sec Maybank Indonesia Foundation Corporate Communication, Juvensius Judy Ramdojo, menjelaskan pelaksanaan program RISE di Surabaya.

Ada 80 penyandang disabilitas yang mengikuti pelatihan, memiliki beragam lini usaha, mulai dari penjahit, penjual makanan, penjual souvenir, jasa reparasi elektronik, warung kelontong, penjual kerajinan tangan, hingga usaha bengkel kendaraan. Program RISE bertujuan membangun dan meningkatkan kapabilitas usaha mikro-UKM penyandang disabilitas sehingga dapat memberikan dampak positif bagi komunitas di sekitarnya.

Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari dengan pendampingan selama 3-6 bulan.  Dalam masa tiga hari pelatihan, para peserta penyandang disabilitas dibekali dengan pengetahuan pengelolaan keuangan, strategi pemasaran dan perubahan pola pikir (mindset). Selanjutnya dalam program mentoring terstruktur selama 3-6 bulan, para peserta akan didampingi mentor secara personal untuk meningkatkan pendapatan dan kapasitas usaha, yang pada akhirnya bertujuan meningkatkan taraf hidup para penyandang disabilitas.

Pelatihan RISE di Surabaya merupakan kota kedua di regional Jawa Timur setelah sebelumnya dilaksanakan di Malang. Pelatihan RISE di Malang telah diadakan sebanyak 3 kali, yakni pada bulan Januari, Februari dan Juli.

”Dari 3 pelatihan tersebut, program RISE ini telah memberikan pelatihan kepada 141 peserta, dimana 134 diantaranya berasal dari komunitas penyandang disabilitas, dan orangtua pendamping penyandang disabilitas. Para peserta mempunyai usaha di bidang kuliner, kerajinan tangan, servis elektronik, pakaian dan jasa lainnya,”paparnya.

Pelatihan RISE di Malang telah berhasil meningkatkan penghasilan rerata per bulan 40 persen peserta teratas RISE Malang dari Rp650,351 menjadi Rp2,743,737 (322 persen). Sedangkan penghasilan keseluruhan peserta RISE di Malang meningkat sebesar 86 persen.

Untuk pelaksanaan program RISE di Surabaya ini, kata Juvensius, merupakan rangkaian program yang memberikan pelatihan kepada 2.200 penyandang disabilitas hingga 2019, di sedikitnya 16 kota di Indonesia. Dan Surabaya adalah kota ke-16, termasuk pelaksanaan proyek percontohan di Jakarta dan Yogyakarta, disusul daerah lain termasuk Bali, Bandung, Banten, Bantul, Bogor, Bekasi, Depok, Malang, Medan, Makassar, Magelang, Tangerang, dan Yogyakarta.

Dari evaluasi pelatihan dan monitoring yang sudah dilakukan, Juvensius mengatakan, secara umum 70 persen peserta telah berubah mindset-nya, sebanyak 30 hingga 40 persen dari peserta pendapatannya naik dan pendapatan peserta yang naiknya cukup ekstrim, misalnya, sebelum pelatihan pendapatan Rp100 ribu naik menjadi Rp3 juta, ada lebih dari 20 persen.

Rerata peserta sebelum mengikuti pelatihan, banyak hal yang perlu dibenahi dan diarahkan. Seperti kemasan produk, tidak adanya etik produk sehingga produk tidak bisa bersaing di pasaran, dan tidak ada perijinan.

Ia mencontohkan produk tongkat penyandang disabilitas di Solo tidak ada ijinnya sehingga dibeli rentenir dan oleh rentenir diberi label dan dijual dengan harga lebih mahal. Itu sebabnya, usai pelatihan dilakukan monitoring, kunjungan dan pendampingan berupa telepon jarak jauh.

Guna mendorong semangat peserta, Maybank memilih Top Ten terbaik dari peserta sehingga bisa menjadi contoh bagi peserta lainnya.

Inisiasi di Malaysia

Awal mulanya Program RISE diinisiasi di Malaysia dan telah diikuti lebih dari 1.300 peserta di negara asalnya. Pada 2016 mulai dikembangkan ke regional, termasuk ke Indonesia dan Filipina.

Head, Corporate Communication & Branding, Esti Nugraheni menambahkan melalui program RISE, Maybank Group turut mendukung upaya membangun komunitas berdikari, dengan menjangkau lebih banyak penerima manfaat dan berdampak positif bagi masyarakat, selaras dengan misi humanising financial services. Program ini juga selaras dengan misi ASEAN dan lima sasaran United Naitons Sustainable Development Goals yakni tanpa kemiskinan, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak dan mengurangi kesenjangan.

Esti menegaskan pemberdayaan ekonomi merupakan salah satu fokus corporate responsibility Maybank Indonesia.  Selaras dengan misi humanising financial services, Maybank Indonesia secara konsisten memberikan perhatian kepada individu maupun komunitas wirausaha penyandang disabilitas dengan berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan semangat pantang menyerah, percaya diri serta meningkatkan keterampilan hingga meningkatkan kapasitas usaha untuk mencapai masa depan yang mandiri dan sejahtera melalui program RISE.

Ia berharap program ini dapat membangun dan meningkatkan kapabilitas usaha mikro-UKM sehingga dapat memberikan dampak positif bagi komunitas di sekitarnya. Dengan peningkatan kapabilitas usaha, para penyandang disabilitas bukan hanya dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi sesama komunitas penyandang disabilitas tetapi juga dapat mempekerjakan orang lain, termasuk dari masyarakat marjinal di sekitarnya sehingga dapat memberikan multiplier effect bagi masyarakat di sekitarnya.  Dalam pelaksanaan program ini, Maybank Indonesia dan Maybank Foundation menjalin kemitraan dengan People Systems Consultancy.

Apresiasi OJK

Pelatihan program RISE di Surabaya mendapat apresiasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional IV Jawa Timur. Disampaikan Kepala OJK Regional IV Jawa Timur, Heru Cahyono, bahwa kegiatan yang dilakukan Maybank Indonesia bersama Maybank Foundation pada penyandang disabilitas di Surabaya ini patut dikembangkan oleh lembaga jasa keuangan lainnya. Karena dari perbankan baru Maybank memiliki program RISE yang ditujukan bagi penyandang disabilitas.

Heru menilai pelatihan ini bisa membantu penyandang disabilitas melakukan usaha dan mendapatkan usaha sendiri. “Ini suatu proyek rintisan yang bagus dan bisa dikembangkan Maybank maupun bank lainnya untuk membantu masyarakat penyandang disabilitas,”tukasnya.

Apalagi pelatihan dilaksanakan pada Oktober yang merupakan bulan inklusi industri jasa keuangan, baik perbankan, pasar modal maupun industri jasa keuangan non bank. Maybank ikut melakukan literasi dan meningkatkan inklusi keuangan.

Seperti diketahui pada 2019, secara nasional tingkat inklusi keuangan ditarget 75 persen dan saat ini masih 67 persen. Sementara di Jawa Timur, tingkat inklusi keuangan mencapai 73 persen dengan tingkat literasi keuangan 35 persen, jauh di atas nasional.

Upaya Maybank Indonesia dengan program RISE bagi penyandang disabilitas dapat meningkatkan literasi maupun inklusi keuangan. Harapannya, jika nantinya usaha penyandang disabilitas menjadi lebih bagus terbuka akses permodalan baik dari bank maupun pasar modal dan industri jasa keuangan lainnya.

Pelatihan kewirausahaan yang dilakukan Maybank, menurut Heru, bisa mengubah mindset dan memberi semangat pada masyarakat khususnya penyandang disabilitas untuk bisa bekerja independen. Dan berharap bisa ditingkatkan inklusinya, sehingga penyandang disabilitas ini bisa mendapatkan akses permodalan seperti masyarakat pada umumnya. (noer soetantini)

Teks foto :

Para penyandang disabilitas saat berdialog dengan Kepala OJK Regional IV Jawa Timur, Heru Cahyono (dua dari kiri), di sela pelatihan program RISE di Surabaya, pertengahan Oktober 2018 lalu.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising