Laporan Khusus

Peduli Lingkungan, KFC Ajak Konsumen Tolak Sedotan

02-11-2018

Surabaya, beritasurabaya.net - Jika Anda masuk ke gerai KFC, dispenser sedotan (straw) tidak terlihat. Kecuali, jika Anda butuh sedotan baru akan diberikan.

Kondisi ini sudah berlangsung sejak KFC Indonesia melakukan gerakan #Nostrawmovement tahun 2017. Dimulai dengan enam gerai di Jakarta, lalu meluas ke wilayah Jabodetabek sejak akhir 2017.

Pada Mei 2018, Gerakan Tanpa Sedotan ini menjadi gerakan nasional KFC dimulai bersamaan dengan peringatan Hari Terumbu Karang 2018 yang dirayakan setiap tanggal 8 Mei dan sehubungan dengan gerakan #beatplasticpollution yang diusung saat Hari Bumi Internasional 22 April 2018 lalu. Gerakan ini dilaksanakan di 630 gerai KFC di seluruh Indonesia.

Gerakan ini merupakan bentuk komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan dimana KFC mengajak konsumen untuk turut peduli kepada keselamatan laut dan kehidupannya dengan menolak sedotan plastik sekali pakai saat memesan minuman di restoran KFC atau dimanapun mereka menikmati minuman.

General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia, Hendra Yuniarto, pada temu media di Gerai KFC Basuki Rahmat Surabaya, Jumat (2/11/2018), menjelaskan, latarbelakang gerakan ini lebih pada kondisi nyata bahwa sampah sedotan plastik menduduki peringkat ke-5 penyumbang sampah plastik di dunia termasuk Indonesia. “Dengan menjadikan gerakan ini menjadi gerakan nasional KFC Indonesia, kami berharap dapat semakin mengurangi penggunaan sedotan plastik dan berkontribusi dalam penyelamatan laut Indonesia,”ujarnya.

Sejak dilaksanakan gerakan #Nostrawmovement di KFC di enam gerai pada Mei hingga akhir tahun 2017, lalu meluas ke 233 gerai KFC di wilayah Jabodetabek sejak akhir tahun 2017, pemakaian sedotan plastik di gerai KFC secara bertahap mengalami penurunan hingga 45 persen di setiap gerainya. Kemudian sejak dicanangkan sebagai gerakan nasional pada Mei 2018 lalu, KFC telah berhasil menurunkan pemakaian sedotan secara bertahap.

Sampai akhir tahun ini, kata Hendra Yuniarto, KFC menargetkan penggunaan sedotan akan turun hingga hingga 54 persen di 630 gerai di seluruh Indonesia.

Hendra Yuniarto menegaskan dalam setahun anggaran untuk menyediakan sedotan di 630 gerai KFC pertahun sebesar Rp2 miliar. Sedangkan kebutuhan sedotan perbulan untuk 630 gerai sebanyak 12 juta batang sedotan.

Sebenarnya yang menjadi target KFC bukan semata-mata pada penurunan pemakaian sedotan tetapi meningkatnya kesadaran konsumen tidak memakai sedotan saat minum di kafe maupun restoran. Jika kesadaran ini diawali dari gerai KFC, jika konsumen berada di kafe atau restoran lainnya juga bersikap hal yang sama tidak menggunakan sedotan kecuali benar-benar dibutuhkan.

”Gerakan yang dilakukan KFC Indonesia ini, ternyata mampu menggerakkan KFC di luar Indonesia seperti di Singapura, Hong Kong, Jepang. Bahkan brand juga ikut melakukan gerakan serupa,”paparnya.

Sementara itu, Outreach Specialist Divers Clean Action (DCA), Amrullah, menjelaskan, setiap tahunnya sekitar sepertiga biota laut termasuk terumbu karang, dan bahkan burung laut, mati karena sampah plastik termasuk sedotan plastik sekali pakai yang berakhir di lautan. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan mengingat terumbu karang berperan besar melindungi pantai dari erosi, banjir pantai, dan peristiwa perusakan lain yang diakibatkan oleh fenomena air laut

Terumbu karang juga merupakan tempat mencari makanan, tempat asuhan dan tumbuh besar bagi berbagai biota laut. Mengutip data Kementrian Lingkungan Hidup tahun 2017, Amrullah, mengatakan, sekitar 70 persen sampah plastik di Indonesia dapat dan telah didaur ulang oleh para pelaku daur ulang. Namun tidak demikian dengan sedotan yang karena nilainya rendah dan sulit didaur ulang maka tidak ada pelaku daur ulang yang bersedia mengambil. Rata-rata setiap orang menggunakan sedotan sekali pakai sebanyak 1-2 kali setiap hari, dan perkiraan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya mencapai 93.244.847 batang yang berasal dari restoran, minuman kemasan dan sumber lainnya (packed straw).

Walaupun hanya berukuran panjang 10 cm namun perlu 500 tahun lamanya agar sampah sedotan plastik dapat terurai secara alami. Sedotan sekali pakai umumnya berbahan plastik tipe polypropylene yang tahan lama, namun tidak terdegradasi secara alami, sehingga semakin lama menjadi butiran kecil yang disebut mikroplastik yang sangat berbahaya bagi ekosistem laut.

Polypropylene adalah bahan yang sangat berbahaya bagi tubuh. Tentu fakta ini sangat mengkhawatirkan dan membuat kita harus bergerak melakukan suatu perubahan,”ujarnya.

Melalui gerakan #Nostrawmovement ini KFC Indonesia berharap dapat meningkatkan kesadaran konsumen termasuk konsumen di Surabaya untuk lebih peduli dan berani menolak sedotan plastik sehingga sampah plastik terutama sedotan plastik sekali pakai akan semakin berkurang demi menyelamatkan laut, kehidupan di dalamnya dan juga manusia.

Gerakan #Nostrawmovement ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial PT Fast Food Indonesia yang memang fokus pada lingkungan dan pendidikan serta nutrisi anak-anak di pedalaman Indonesia. Saat ini KFC Indonesia melalui Komunitas 1000 Guru mengelola “Smart Center Project” yang membantu memberikan makan pagi bernutrisi bagi sekitar 5.000 anak sekolah dasar di 35 sekolah di pedalaman Indonesia. “Smart Center Project juga memberikan pelatihan kepada para guru di pedalaman serta bertujuan untuk mengentaskan buta aksara. (noer soetantini)

Teks foto :

General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia, Hendra Yuniarto (kiri) dan Outreach Specialist Divers Clean Action (DCA), Amrullah (kanan), saat menjelaskan gerakan #Nostrawmovement pada media di Surabaya.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising