Laporan Khusus

Belum Tahu Cara Beramal, Ajak Konglomerat Berwakaf

10-12-2018

Surabaya, beritasurabaya.net - Potensi wakaf di Indonesia sangat luar biasa, namun potensi itu tidak berkembang. Bahkan banyak konglomerat belum tahu cara beramal yang tepat dan bermanfaat.

Hal ini ditegaskan Wakil Rektor 1 Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M. Fil, usai peluncuran Gerakan Indonesia Sadar Wakaf (GISWAF) di Masjid Al Akbar, Surabaya, Senin (10/12/2018).

Menurut Hamid Fahmi, konglomerat merupakan salah satu potensi yang bisa dikembangkan untuk berwakaf dan disatukan dalam GISWAF. Potensi lain yang bisa berwakaf yakni ada di perusahaan-perusahaan, pemilik tanah yang selama ini dibiarkan tidak produktif, dan individu-individu yang setiap bulan bisa berwakaf.

Kalau konglomerat mau berwakaf tidak sekadar berzakat, infaq maupun bersedekah, dana yang bisa dikelola dan dikembangkan menjadi luar biasa, bisa mencapai trilyunan. “Misalkan saja 100 juta umat Islam di Indonesia berwakaf Rp5000 per bulan sudah 500 miliar dana yang bisa dikelola dan dikembangkan. Masyarakat Islam akan menjadi sumber dana yang bisa mengalahkan konglomerat dan pemerintah tidak perlu cari hutangan keluar negeri,”paparnya.

Untuk itulah, Hamid Fahmi mengajak para konglomerat Indonesia ramai-ramai berwakaf. Dengan berwakaf, berarti konglomerat melakukan amal jariyah yang tidak akan pernah hilang uang maupun hartanya yang diwakafkan.

Yang menjadi tantangan saat ini, diakui Hamid Fahmi, masyarakat Indonesia masih terikat dengan zakat dan ini yang harus diubah. Masyarakat harus diedukasi bahwa berzakat, infaq maupun sedekah, hanya disalurkan dan hilang begitu saja.

Sedangkan dengan berwakaf, uang maupun barang yang diwakafkan bisa disalurkan dan bersifat abadi karena menjadi amal jariyah bagi orang yang berwakaf. Uang maupun barang yang diwakafkan menjadi sesuatu yang menghasilkan dan bermanfaat untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Ia mencontohkan jika seseorang mau mewakafkan tanah 10 hektar, tanah tersebut akan disertifikatkan dan dibuat sukuk. Untuk sukuk (jika di Surabaya, tanah 10 hektar bisa di kisaran Rp1 triliun) akan menjadi modal dan dikembangkan, misalnya, menjadi pendanaan infrastruktur dan hasilnya nanti bisa dikembangkan lagi.

”Ini merupakan wakaf produktif, dan tanahnya tetap tidak boleh dijual. Bisa pula mewakafkan tanahnya dalam jangka waktu sekian tahun dan bisa diambil kembali. Dari hasil data awal ada lebih dari 4,5 miliar meterpersegi tanah di Indonesia, kurang produktivitas,”tukasnya.

Terkait dengan International Centre for Awqaf Studies (ICAST), Hamid Fahmi menjelaskan, ICAST adalah ilmu mengenai wakaf yang dikembangka UNIDA. Ada pendidikan S2, training, kajian fiqih dan semua persoalan wakaf bisa diselesaikan di ICAST.

Kegiatan ICAST, sebenarnya sudah mulai, hanya saja jenjang pendidikan S2 perlu ijin Dikti. Karena tidak ada jenjang pendidikan S1 untuk wakaf di seluruh dunia. Kami sudah lobi dan prosesnya sudah mulai dilaksanakan.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Difi A. Johansyah, menegaskan, banyak contoh-contoh manfaat dari wakaf dan sangat bisa dilaksanakan bagi mereka yang belum berwakaf. Wakaf merupakan gerakan yang tidak sulit dilakukan, tidak harus kaya, jumlah yang diwakafkan bisa dalam bentuk apapun dan wakaf ditujukan untuk apa. Ini menunjukkan wakaf lebih fleksibel dan leluasa dibanding zakat, infaq dan sedekah.

GISWAF ini, kata Difi, membuka cakrawala baru, membutuhkan banyak nadzir pengelola wakaf yang benar-benar profesional dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) yang mengawasi pengelolaan wakaf. Masyarakat juga bisa mengetahui regulasi wakaf melalui buku Wakaf Fiqih hasil kerjasama Bank Indonesia dan BWI dimana pendanaan pembuatan buku juga diambilkan dari dana wakaf.

”ICAST sendiri menjadi harapan bersama dalam pengembangan wakaf di Indonesia, karena akan menjadi pusat studi khusus mengenai wakaf. Hasil risetnya bisa disebarluaskan secara nasional dan siapa saja yang ingin belajar wakaf bisa ke UNIDA Gontor. GISWAF ini siap dilaksanakan mengingat regulasi dan infrastruktur juga sudah ada, tinggal memperkuat SDM yang mengelola wakaf. Dan GISWAF akan menjadi “bola salju” yang terus menggelinding,”ujarnya.

Ke depan, tambah Difi, GISWAF menjadi gerakan untuk membantu usaha-usaha yang dikembangkan masyarakat baik dari sisi pendampaingan maupun permodalan. “Efek dari wakaf ini luar biasa terutama untuk pemberdayaan ekonomi syariah dan permudah akses bagi masyarakat kecil mendapatkan permodalan usaha. Jika dikelola sesuai aset manajemen pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi termasuk membuka lapangan kerja,”tegasnya.

GISWAF adalah program edukasi wakaf yang diprakarsai oleh UNIDA Gontor, Bank Indonesia dan Badan Wakaf Indonesia. Program ini berupa roadshow atau safari nasional 3 bulan sekali ke masing-masing provinsi di Indonesia dengan menggandeng elemen lembaga terkait.

“GISWAF telah memiliki program lanjutan yang sistematis, terarah dan terukur. Harapannya, program ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih mendalam kepada masyarakat terkait wakaf,” jelas Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Syamsul Hadi Abdan.

GISWAF lahir dari semangat untuk memanfaatkan potensi ekonomi umat Islam di Indonesia yang besar. Ketua Badan Wakaf Indonesia Provinsi Jawa Timur, Faisal Haq, menegaskan wakaf pertama kali dalam Islam adalah wakaf uang yang saat itu langsung dapat dimanafaatkan untuk pembangunan masjid. “Pada masa sekarang, kami berharap dapat mendorong jumlah wakaf uang ini,” jelasnya.

Upaya BI, BWI dan UNIDA Gontor ini mendapat dukungan sepenuhnya dari Kementerian Agama. “Kementerian Agama saat ini terus memacu sektor sosial melalui penguatan zakat dan wakaf. Dengan adanya program seperti ini, kami sangat terbantu terlebih dengan adanya materi wakaf dalam kurikulum sehingga dapat membuka cakrawala generasi muda masa kini,”tutur Direktur Pembedayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Republik Indonesia,M. Fuad Nasar. (noer soetantini)

Teks foto :

Kiri ke kanan : Direktur ICAST, Syahruddin, M.Sc.Fin; Wakil rektor 2 UNIDA Gontor, Dr. Setiawan bin Lahuri, Lc., MA; Kepala Departemen Ekonomi & Keuangan Syariah BI, Anwar Bashori; Wakil Rektor 1 UNIDA Gontor, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M. Fil; Kepala Perwakilan BI Prov. Jatim, Difi A. Johansyah; Ketua BWI Jatim, Prof. Dr. H. A. Faishal Haq, M. Ag; Direktur Pemberdayaan Zakat & Wakaf Kementerian Agama, M. Fuad Nasar, M.Sc; Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Syamsul Hadi Abdan danKetua Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Drs. Akrim Mariyat, Dipl.Ad.Ed, dalam peluncuran GISWAF di Masjid Al Akbar Surabaya.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising