Laporan Khusus

Sektor Riil Kunci Pengembangan Ekonomi Syariah

11-12-2018

Surabaya, beritasurabaya.net - Pertumbuhan pembiayaan syariah dari total kredit saat ini sudah mencapaiangka 5,9 persen. Namun beberapa tahun cenderung melambat saat mendekati angka 5 persen.

Menurut Menteri Perekonomian Republik Indonesia, Darmin Nasution, saat membuka Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2018, Selasa (11/12/2018) malam, di Grand City Convex Surabaya, constrain permasalahan pengembangan ekonomi keuangan syariah bukan terletak pada pembiayaan syariah karena perbankan kita sudah siap terus mengembangkan pembiayaan syariah. Tetapi justru pada perlambatan pertumbuhan sektor riil syariah, sehingga diperlukan strategi dan upaya mendorong sektor riil, baik dari logistik maupun infrsatruktur yang memadai.

Darmin menegaskan tidak hanya perlu mendorong perbankan syariah, namun juga mendorong kegiatan berbasis syariah. Dalam konteks reformasi ekonomi, pemerintah sejak 4 tahun lalu membangun infrastruktur besar-besaran di seluruh Indonesia. Mulai jalan tol, kereta api, pelabuhan laut, udara, bendungan dan sebagainya.

Ini, kata Darmin, langkah yang cukup unik dalam perjalanan bangsa kita. Contohnya, jalan raya Anyer-Panarukan yang dalam sejarah bangsa dibangun oleh pemerintah kolonial lebih dari 200 tahun lalu. Rasanya tahun depan akan dilupakan karena kita sudah membangun jalan tol dari Anyer sampai Panarukan.

”Begitu pula langkah pemerintah dalam melakukan reforma agraria. Dan tahun depan, pemerintah mengadakan pendidikan dan pelatihan vokasi besar-besaran. Dalam kaidah ekonomi ini, langkah pemerintah merupakan suatu strategi supply side, yang tidak sekadar konektivitas tapi membuka ruang lahirnya kapasitas masyarakat dalam berusaha, dan sebagainya,”paparnya.

Darmin menegaskan, saat ini kita lebih siap melakukan transformasi ekonomi dibanding masa lalu. Dan ini kunci perkembangan dan pembangunan ekonomi dimana masyarakat bisa melahirkan kegiatan yang lebih menjamin kehidupannya.

Mungkin masyarakat ada yang tetap bertani tetapi kemudian dikombinasikan dengan metode seiring tersedianya infrastruktur yang melahirkan logistik modern dan efisien. Kita perlu mengorganisir diri mencoba merubah kebiasan kita dan sangat bisa lahir dari pemikiran dan pendidikan pesantren. Bagaimana kita bekerjasama, sama-sama membicarakan bibitnya yang dipakai, budidayanya seperti apa, pasca panennya bagaimana. Mencoba menghubungi off taker supaya nantinya ada yang membeli.

”Pembiayaan syariah akan berkembang dengan cepat kalau di sektor riil berkembang lebih baik. Tidak bisa diselesaikan dari sudut perbankan syariah saja atau pembiayaan syariah yang lain. Tapi kita bisa dorong berbagai kegiatan mungkin, yang awalnya tidak punya label syariah menjadi berlabel. Dan ini akan lebih bisa menarik kegiatan keuangan ekonomi syariah. Transformasi ekonomi perlu peran aktif kita semua, kyai, alim ulama, pesantren untuk kemudian melahirkan satu mata kerja baru.,”tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo juga menyatakan bahwa ekonomi syariah di Jawa Timur mempunyai potensi yang cukup tinggi. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan kredit syariah di Jawa Timur yang mencapai 12,38 persen (year on year) dan lebih tinggi dibandingkan kredit konvensional yang hanya 10,9 persen (year on year).

Pada perhelatan ISEF hari pertama tersebut, dilakukan pula high level discussion “Fastabiqul Khairat melalui Pesantren sebagai Salah Satu Rantai Nilai Halal”.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan 3 program pengembangan kemandirian ekonomi pesantren untuk mendukung pesantren sebagai basis arus ekonomi Indonesia. Pertama, pengembangan berbagai unit usaha berpotensi yang memanfaatkan kerjasama antar pesantren. Kedua, mendorong terjalinnya kerjasama bisnis antar pesantren melalui penyediaan virtual market produk usaha pesantren sekaligus business matching. Ketiga, pengembangan holding pesantren dan penyusunan standarisasi laporan keuangan untuk pesantren dengan nama SANTRI (Standar Akuntansi Pesantren Indonesia) yang dapat digunakan oleh setiap unit usaha pesantren.

Program kemandirian pesantren yang ditempuh didasari oleh kekuatan pesantren sebagai basis arus ekonomi Indonesia yakni SDM pesantren yang memiliki jumlah dan ikatan komunitas yang kuat sehingga memiliki potensi sebagai sumber permintaan dan produksi berbagai kegiatan ekonomi; daya juang pesantren yang tinggi berpotensi besar apabila dikombinasikan dengan kemampuan kewirausahaan, dan konsep pemberdayaan ekonomi pesantren sebagai bagian dari ibadah.

Selain pengembangan kemandirian pesantren, dilaksanakan pula seminar “Kontribusi Pembiayaan dan Pasar Keuangan Syariah pada Pembangunan Nasional” ISEF 2018. Dukungan Bank Indonesia terhadap pembiayaan dan pasar keuangan syariah salah satunya dengan rencana peluncuran Sukuk Bank Indonesia.

“Instrumen ini bertujuan untuk menambah alternatif instrumen pasar uang syariah yang tradable dan dapat menjadi solusi jangka pendek kebutuhan likuiditas perbankan,”jelas Deputi Gubernur Bank Indonesia, Erwin Rijanto, pada sambutan seminar tersebut. Instrumen Sukuk tersebut akan melengkapi instrumen moneter syariah BI yang ada saat ini seperti Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Fasilitas Bank Indonesia Syariah (FASBIS), reverse repo syariah, dan repo SBSN. (noer soetantini)

Teks foto :

Pembukaan ISEF 2018 oleh Menteri Perekonomian Republik Indonesia, Darmin Nasution.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising