Laporan Khusus

#InternetBAIK Pondasi Ekosistem Masyarakat Digital

04-01-2019

Maisaroh (10 tahun) tampak asyik dengan Tablet di pangkuannya. Jari jemari siswi kelas 4 SD di Surabaya ini begitu lincahnya membuka konten-konten yang ada di YouTube.

Begitu ada konten yang menarik, jari jemarinya berhenti sejenak untuk melihat apa isi konten tersebut. Tidak sampai 2 menit, sudah berganti konten lainnya, yang diakses dengan koneksi cepat layanan data LTE.

Untungnya, konten-konten yang ditonton Maisaroh merupakan konten positif, seperti tutorial memasak, tutorial memanfaatkan barang-barang bekas dan beberapa aplikasi yang terkait dengan tutorial pengerjaan soal-soal mata pelajaran. Sedangkan konten negatif, kata Anik (30 tahun) sang ibunda yang mendampingi Maisaroh berselancar di YouTube, tidak bakal ditemukan di Tablet yang digunakan anaknya.

”Tablet Maisaroh, memang sudah ada fitur pengontrol agar tidak bisa mengakses konten-konten negatif. Dan menggunakan Tablet hanya setelah pulang dari sekolah, jadi buat refreshing anak saja serta saat belajar karena ada aplikasi yang sudah saya unduh untuk materi latihan soal-soal mata pelajaran,”tukas Anik.

Menurut Anik, hidup di kota besar seperti Surabaya, banyak hal negatif yang bisa mempengaruhi kehidupan anak-anak. Arus informasi dan kebiasaan bermain gadget seolah-olah menyatu dengan gaya hidup anak-anak di perkotaan.

Anik bersyukur, masih bisa bersikap bijaksana dengan penggunaan gadget pada anak-anaknya sejak mereka masih balita. Sang kakak sudah di SMA dan membawa handphone sendiri, otomatis sang adik juga ingin punya gadget sendiri.

”Kami tidak melarang anak-anak menggunakan gadget, tapi kami selalu mengarahkan apa yang layak dan baik untuk ditonton dan yang tidak layak ditonton. Tidak hanya dari handphone tapi juga di media sosial lainnya serta televisi. Selain itu, gadget buat anak-anak sudah dilengkapi fitur sebagai pengunci konten-konten negatif,”paparnya.

Bagi Anik, gadget mempunyai dua sisi yang berbeda yakni bisa mendorong anak-anak menjadi lebih kreatif jika konten-konten yang ditonton adalah konten yang bersifat edukatif dan menginspirasi. Sebaliknya, bisa merusak moral anak-anak, jika terbiasa menonton konten-konten yang tidak sesuai dengan usia mereka.

”Maisaroh sendiri sudah mengenal gadget sejak usia 3 tahun. Karena konten-konten yang ditonton waktu itu, lebih banyak games edukasi dengan kata pengantar Bahasa Inggris, tidak sulit lagi belajar Bahasa Inggris di sekolah,”tambahnya.

Hal berbeda dirasakan Sri Suprapti (55 tahun) nenek dari 4 cucu yang tinggal di Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan, Madura. Afghan (6 tahun) cucu keduanya yang tinggal bersama dirinya, terkadang berperilaku aneh yang tidak sepantasnya dilakukan anak seusianya. Padahal Afghan hanya menggunakan gadget saat orang tuanya menjenguk di hari libur.

”Yang membuat khawatir saat Afghan bermain dengan teman-temannya di luar rumah. Karena teman-temannya pada pegang handphone dan mungkin saja menonton hal-hal yang tabu dilihat. Imbasnya, begitu pulang sekolah TK B, terpaksa seluruh pintu digembok dan dia tidak bisa bermain di luar rumah,”tukas Suprapti dengan nada jengkel.

Ini gambaran nyata yang ada dalam kehidupan masyarakat kita baik yang tinggal di perkotaan maupun di daerah pinggiran. Kasus Afghan merupakan kasus yang memang tidak bisa dianggap remeh. Banyak kasus yang lebih parah bahkan dikategorikan kriminal, akibat sering mengakses konten negatif yang berbau pornografi kemudian melakukan pemerkosaan.

Kebiasaan mengakses konten kekerasan dan radikalisme di dunia maya juga menyebabkan terjadinya kejahatan cyber, bullying, hingga aksi kejahatan di dunia nyata. Masih banyak hal miris yang dialami anak-anak akibat serbuan informasi yang luar biasa dahsyatnya baik diperoleh dari gadget maupun dari tayangan televisi.

Banyaknya anak usia sekolah yang sudah mengenal konten-konten negatif, dibenarkan oleh Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sidodadi II/154 Surabaya, Anis Ribut Ananingsih. Bahkan pernah ketahuan di suatu kelas ada sekelompok siswa menyaksikan konten negatif.

Tetapi masalah tersebut terjadi, cerita Anis, sebelum ada program #InternetBAIK dari Telkomsel dan sudah teratasi oleh guru kelas. Sekaligus orang tua juga juga dipanggil ke sekolah mengingat siswa di sekolah yang dipimpinnya, mayoritas anak-anak yang kurang perhatian dari orang tua.

Sebelum ada program #InternetBAIK ke SDN Sidodadi II/154, tutur Anis, pemahaman anak-anak didik terhadap internet saat berada di sekolah, hanya sebatas referensi materi yang ditugaskan oleh guru, tidak tersurat dalam buku, games, lagu, serta informasi media massa yang sedang in pada saat ini. ”Namun terkadang hal-hal yang tidak diinginkan untuk ditonton dari situs tertentu keluar dengan sendirinya. Sementara karakter siswa SD rasa ingin tahu tentang hal-hal baru relatif tinggi. Dan tanpa pengawasan yang kurang dari pihak orang tua, himbauan yang kurang dari guru, imbasnya yang ditonton terkadang tidak layak untuk mereka, ya tetap saja ditonton,”ungkapnya.

Anis menegaskan penggunaan gadget di sekolah sangat dibatasi dan sekolah mempunyai aturan seluruh siswa tidak diperbolehkan membawa gadget. Alasannya, penggunaan gadget tanpa pengawasan sangat berbahaya terutama mengakses hal-hal terkait pornografi.

Penggunaan internet di sekolah hanya untuk guru dan karyawan serta siswa kelas 6 saat belajar try out. ”Dengan adanya #InternetBAIK Telkomsel masuk ke SDN Sidodadi II/154 pada awal November 2018, memberikan dampak positif bagi para siswa. Apalagi di sekolah bersamaan diadakan program Dispendik try out online sehingga sangat membantu siswa dalam mengerjakan soal-soal try out. Anak-anak juga bisa mengunduh materi terkait mata pelajaran yang akan di-USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional)-kan,”paparnya.

Anis berterima kasih kepada Telkomsel atas materi #InternetBAIK yang bermanfaat sekali karena mayoritas anak didik masih kurang pemahaman tentang berinternet sehat. Ia berharap materi yang disampaikan dapat diterapkan anak-anak didik sehari-hari.

Program #InternetBAIK Telkomsel yang merupakan bagian upaya membangun ekosistem masyarakat digital sejak usia dini, tambah Anis, perlu dikembangkan secara berkesinambungan. Selama ini, usaha-usaha yang dilakukan stakeholders dalam membangun ekosistem masyarakat digital sudah berjalan baik, namun belum maksimal.

Menurut Anis, selain #InternetBAIK, pengawasan orang tua, guru, dan masyarakat, terhadap penggunaan gadget pada anak-anak harus ditingkatkan lagi. Para orang tua juga dapat memberikan kegiatan positif buat anak-anaknya dengan mengarahkan mereka mengakses konten-konten yang mengandung unsur religius seperti lagu-lagu Islami maupun pengetahuan umum yang menjadi trending topic di masyarakat.

#InternetBAIK, Komitmen Telkomsel

Sebagai operator telekomunikasi paling Indonesia dan terdepan, Telkomsel terus berupaya membuka isolasi layanan komunikasi di seluruh wilayah Tanah Air.. Dari data yang ada, dalam waktu tiga tahun terakhir ini, Telkmsel mengoperasikan 568 base transceiver station (BTS) di 568 desa tanpa sinyal di Tanah Air. Seluruh BTS di wilayah terisolir tersebut tersebar di 14 provinsi yakni Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Jambi, Nusa Tenggaran Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantar Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Dari 568 BTS tersebut, 47 diantaranya merupakan BTS 4G yang memungkinkan masyarakat memanfaatkan layanan data yang berkualitas untuk meningkatkan produktivitas. Kehadiran BTS di wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak memperoleh akses telekomunikasi ini mempertegas komitmen Telkomsel dalam membangun dan memajukan seluruh negeri, tidak hanya kota dan daerah, yang menguntungkan secara bisnis. Telkomsel secara konsisten juga menghadirkan infrastruktur jaringan di wilayah-wilayah terdepan dan terluar di Indonesia.

Guna meningkatkan kualitas jaringan dan menciptakan excellent customer experience mendukung penggunaan trafik data yang tinggi, hingga akhir September 2018 Telkomsel telah membangun 50.755 BTS 4G. Sehingga, total BTS on-air Telkomsel mencapai 183.283 unit, dengan 72,5 persen di antaranya merupakan BTS 3G/4G.

Pengembangan jaringan ini mendukung layanan prima kepada para pelanggan Telkomsel. Pada kuartal III 2018, jumlah pelanggan Telkomsel mencapai 167,8 juta di seluruh Indonesia, dimana 112,6 juta di antaranya merupakan pengguna layanan data.

Dengan luasnya jangkauan infrastruktur jaringan dan kualitas layanan, tidak hanya dampak positif yang diperoleh tapi ada dampak negatif yang membayangi kehidupan generasi muda di masa mendatang jika tidak segera disikapi dengan bijaksana. Berangkat dari kekhawatiran dampak negatif tersebut, Telkomsel membuat program corporate social responsibily (CSR) yang disebut program #InternetBAIK.

“BAIK sendiri merupakan singkatan dari Bertanggung Jawab, Aman, Inspiratif, dan Kreatif. Program ini menggabungkan materi digital parenting, digital literacy dan digital creative dan diluncurkan sejak Mei 2016,”kata Manager Youth and Community Region Jawa Timur Telkomsel, Patrice Richard Jecky Rey, saat dihubungi Jumat (4/1/2019).

Patrice menjelaskan penggunaan Internet yang bertanggung jawab artinya memanfatkan Internet secara tepat sesuai dengan norma dan etika. Aman berarti pengguna Internet terlindungi dari segala potensi kejahatan dan dampak buruk dari Internet.

Inspiratif artinya mendorong pemanfaatan Internet untuk hal-hal yang positif dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pengguna dan orang di sekitarnya. Sementara kreatif berarti menciptakan ekosistem digital yang produktif sebagai wadah pengembangan daya cipta dan kreasi yang bermanfaat secara luas bagi masyarakat.

Bentuk kegiatan program, pada umumnya dilaksanakan di aula sekolah dengan mengumpulkan sejumlah siswa dari perwakilan kelas. Dan acara sosialisasi dikemas dalam konsep games edukatif yang interaktif. Dihadirkan pula Blogger, Youtuber dan Conten Creator yang sedang hits dan terkenal di masing-masing daerah untuk dapat sharing tentang penggunaan internet secara baik, sehat dan bermanfaat.

Tujuan kegiatan, kata Patrice, antara lain, memberikan edukasi di kalangan remaja khususnya siswa SMP/SMA di wilayah Jawa Timur agar dapat menggunakan internet dengan dengan baik dan benar. Memberi pembekalan bagi guru untuk dapat memberikan pengawasan terhadap penggunaan internet bagi siswanya serta menjalin kerjasama yang baik dengan pihak sekolah.

”Saat di SDN Sidodadi II/154, kami memberikan edukasi penggunaan internet sehat kepada pelajar tingkat sekolah dasar. Hal ini selaras dengan usaha pemerintah dalam memerangi hoax dan kejahatan yang timbul dari aktivitas internet,”ujarnya.

Tujuan lainnya, me-recall pengetahuan internet kepada pelanggan Telkomsel khususnya segmen Youth (anak muda). “Melalui #InternetBAIK, kami ingin mengubah kebiasaan buruk penggunaan sosial media di kalangan anak muda dengan penekanan pada sosial media mereka merupakan salah satu cerminan diri,”tegasnya.

Dengan suksesnya program #InternetBAIK, Patrice berharap pihak sekolah dan Telkomsel sudah mengenal satu sama lain yang berujung positif dalam kerjasamanya lainnya di masa yang akan datang.

Meski baru berjalan tahun ketiga, program #InternetBAIK, memberikan dampak positif secara signifikan. Ini dapat dilihat, dari beberapa sekolah sudah mengkampanyekan internet anti hoax.

Bisa pula dari sosial media yang digunakan oleh anak-anak muda. Seiring dengan digelarnya program #InternetBAIK, semakin banyak akun yang mulai berkreasi. Bukan hanya akun-akun yang mengindahkan mata saja, namun juga memberikan insight dan ilmu yang baik. Seperti akun yang berisi infografis, tips, dan info update seputar hal lokal daerah. Contohnya, @kedirisukasuka; @kulinerkediri; @explorekediri dan sebagainya.

Dari program #InternetBAIK, ungkap Patrice, mendorong munculnya banyak program challenge, baik di kabupaten maupun kota-kota besar yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan tema tentang pembuatan video wisata di masing-masing kabupaten/kota, yang dikompetisikan bagi kalangan pelajar.

”Dengan adanya program #InternetBAIK ini, diharapkan kedepannya akan semakin membawa dampak positif terhadap perilaku generasi muda dalam interaksi digital. Dengan demikian, bisa terbangun suatu ekosistem yang positif dan produktif melalui kreatifitas dan inovasi berkesinambungan,”kata Patrice.

Patrice menambahkan Telkomsel juga melihat ekosistem digital di Indonesia perlu dibangun beriringan dengan semangat yang positif, dalam hal ini termasuk melalui cyberwellness bagi pelajar SD sehingga ekosistem digital di Indonesia dapat terbangun dengan pemahaman mengenai pemanfaatan Internet secara BAIK (Bertanggung Jawab, Aman, Inspiratif dan Kreatif) sejak dini.

Di Jawa Timur, program #Internet BAIK, sudah dilaksanakan di 35 sekolah dengan jumlah siswa dan guru sekitar 11.215 orang. (noer soetantini)

Teks foto :

Milenial Telkomsel secara interaktif menyampaikan materi #InternetBAIK (Bertanggung Jawab, Aman, Inspiratif dan Kreatif) kepada murid SD Negeri Sidodadi II Surabaya pada kegiatan Millennials Goes To School “Dari Anak Muda Untuk Indonesia”, 9 November 2018.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising