Laporan Khusus

The NextDev “Candradimuka” Startup Anak Bangsa

05-01-2019

Belum menjadi pemenang di ajang Idea-X The NextDev, 27-28 April 2018, di Surabaya, tidak membuat patah arang tim Matakota, aplikasi smart city yang memungkinkan masyarakat dan pemerintah untuk memasukkan berbagai macam informasi. Menjadi satu diantara finalis dan bisa picthing di hadapan para juri The NextDev, justru melecut semangat tim Matakota terus berinovasi di masa depan.

Menurut Chief Executive Officer (CEO) Matakota, Erick Karya, saat ditemui penulis, Jumat (4/1/2019) kemarin, terpilih menjadi finalis saja merupakan hal yang patut disyukuri. Alasannya, bisa bertemu dengan mentor-mentor handal di bidangnya dan itu sangat membantu perkembangan startup (perusahaan rintisan) Matakota. Matakota dikembangkan oleh arek-arek Suroboyo sejak tahun 2016 dan telah meraih pendanaan dari angel investor.

”Di ajang tersebut, kami juga bertemu dengan beberapa startup yang memiliki karya-karya keren dan sangat inspiratif,”ujar Erick mengenang perjuangan Matakota menembus 10 besar finalis The NextDev 2018 di Surabaya.

Erick mengakui peserta startup lainnya juga sangat inovatif. Dari sisi social benefit sangat terasa dan cukup membantu user-nya untuk mendapatkan manfaat yang lebih, baik dari segi ekonomi maupun kebutuhan kehidupan sehari hari.

Erick mengaku beruntung bisa berpartisipasi di ajang Idea-X The NextDev 2018. Program CSR Telkomsel ini, merupakan satu diantara support system bagi startup yang baru memulai bisnisnya. Secara tidak langsung, The NextDev bisa menciptakan komunitas startup yang akan membuat jaringan Matakota menjadi lebih luas dan menjadi jembatan untuk memperbesar Matakota. Ini terbukti, setelah mengikuti ajang Idea-X The NextDev 2018, Matakota sukses menyabet gelar juara di ajang kompetisi Ytech 2018 dan berkesempatan mengunjungi Silicon Valley untuk mengenal lebih dalam ekosistem startup di Amerika.  

”Bisa diibaratkan The NextDev seperti “candradimuka” bagi perusahaan rintisan Indonesia dan sangat inovatif mendukung tumbuhnya startup Indonesia. Puluhan ribu startup berebut bisa lolos ke ajang ini dengan harapan yang sama seperti harapan Matakota. Meskipun dampak langsung bagi Matakota sendiri setelah masuk jadi finalis memang belum signifikan mengingat proses mentoringnya masih belum dimulai,”tambah Erick.

Kesuksesan serupa dibuktikan oleh Habibi Garden pemenang Telkomsel The NextDev 2016, menorehkan nama harum Indonesia di ajang Singtel Group Future Maker 2018, yang diadakan di Sydney Australia, November 2018. Habibi Garden meraih dua penghargaan yakni People Choice Award Asia Pasific Investment Summit 2018 dan Best of The Best Future Makers 2018, berhasil mengalahkan startup dari negara Australia, Singapura, Thailand, dan Filipina.

Pada kesempatan tersebut terdapat 10 aplikasi Singtel Group Future Makers yang berpartisipasi di ajang pencarian enterpreneur, startup, dan badan amal yang paling berdampak sosial melalui solusi teknologi terkini. Aplikasi tersebut adalah Habibi Garden dan Squline dari Telkomsel (Indonesia), Commsync dan ImmCalc dari Optus (Australia), Aevice Health dan XCLR8 dari Singtel (Singapura), BagoSphere dan The Spark Project dari Globe (Filipina), Local Alike dan VT Thai dari AIS (Thailand).

Para kontestan dari berbagai negara tersebut melakukan pitching atas karya mereka di hadapan para juri ahli Impact Investment Summit 2018 yang terdiri dari Lisa Cotton (Founder and CEO Ideology Group), Julian Harris (Executive Chairman search365.ai, Robobai.com, and Inawisdom.com), dan Sarah Pearson (Chief Innovation Officer di Australian Department of Foreign Affairs and Trade).

Atas kemenangan tersebut, seperti disampaikan GM External Corporate Communications Telkomsel, Denny Abidin, dalam keterangan pers, membuktikan bahwa karya anak bangsa telah diakui di tingkat Asia Pasifik. Kemenangan tersebut sekaligus menunjukkan tingginya kreativitas anak muda Indonesia untuk mencari solusi menggunakan teknologi bagi permasalahan yang ada di lingkungannya.

”Ini sesuai dengan upaya Telkomsel dalam membangun ekosistem digital di Indonesia, dimana salah satu komponen utamanya adalah kehadiran berbagai aplikasi yang berkualitas ciptaan anak negeri,”tukasnya.

Program CSR Telkomsel

Sebagai perusahaan yang dipercaya lebih dari 168 juta masyarakat Indonesia, Telkomsel berusaha terus memberikan kemanfaatan dalam berbagai aspek kehidupan baik bidang Tekhnologi, Ekonomi, Pendidikan, Sosial, Lifestyle dan Budaya termasuk dengan membuat program-program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Harapannya, jelas untuk memberikan dampak positif dari keenam aspek tersebut.

Era modern dan perkembangan teknologi telekomunikasi yang semakin berkembang, tentunya perusahaan dalam meng-create sebuah program, disesuaikan dengan visi dan misi perusahaan termasuk inline dengan tujuan pemerimtah dalam membangun ekosistem masyarakat digital. Program CSR Telkomsel tersebut seperti The NextDev, IndonesiaNEXT, #InternetBAIK, Bhaktiku Negeriku, TERRA dan program lainnya yang memang dalam kegiatannya dimaksimalkan pemanfaatannya selalu dihubungkan dengan teknologi telekomunikasi yang dimiliki.

Dalam membangun ekosistem masyarakat digital khususnya melalui The NextDev, Telkomsel melihat potensi sumber daya manusia (SDM) di Indonesia dan dampaknya buat masyarakat. Indonesia dengan lebih dari 260 juta penduduknya adalah negara dengan jumlah populasi terbesar di Asia Tenggara. Populasi yang besar, pertanda potensi yang besar.

Menurut data di ASEAN, berkat pola perkembangan jumlah penduduk selama satu dekade terakhir, Indonesia akan mengalami masa Demographic Bonus pada 2020, yang berarti setengah dari populasi Indonesia akan berusia di bawah 30 tahun. Banyaknya jumlah pemuda di Indonesia berarti banyak jiwa muda yang haus pengetahuan, senang mencoba hal-hal baru, tidak takut akan perubahan, dan menghasilkan karya-karya yang baru dan inovatif.

Demographic Bonus ini adalah sinyal positif bagi Telkomsel. Dari 2014 hingga 2016, terjadi peningkatan penetrasi internet di Indonesia sebesar lebih dari 50 persen, dari 88 juta ke 132 juta penduduk. Pada masa itu, berarti sudah sekitar 50 persen masyarakat Indonesia terkoneksi dengan internet.

Pada 2020, dengan perkembangan Telkomsel yang kini sudah menjangkau hingga 95 persen wilayah terpopulasi di Indonesia, ini artinya, tingkat penetrasi internet mampu meningkat sampai ke angka lebih dari 75 persen. Dengan interseksi masa Demographic Bonus dan tingkat penetrasi internet di beberapa tahun mendatang, dapat disimpulkan bahwa akan sangat banyak anak muda di Indonesia yang sudah mampu mengakses internet.

Telkomsel sudah membantu membuka jaringan telekomunikasi dan membangun ekosistem digital di seluruh penjuru Indonesia. Namun pertanyaan lanjutan yang muncul buat Telkomsel adalah, ekosistem digital seperti apa yang ingin dibangun?

Demographic Bonus yang terjadi juga dapat berarti inexperienced usage dan misconduct of internet usage bagi anak-anak muda yang masih belajar dan butuh pemahaman. Sebelum memasuki tahun puncak Demographic Bonus pada 2020, maka tantangan bagi Telkomsel adalah mengarahkan populasi untuk memanfaatkan ekosistem digital yang sudah dibangun dengan baik, mulai dari perihal media sosial, data dan riset, e-commerce, teknologi informasi, hingga teknologi keuangan dan perbankan.

Saat ini, beberapa program Telkomsel telah didesain khusus untuk mengarahkan populasi pemuda ke penggunaan internet yang positif, sekaligus memastikan bahwa ekosistem digital yang sudah dibangun dan dimanfaatkan sebaik mungkin seperti program The NextDev sendiri, kemudian #InternetBAIK dan IndonesiaNEXT.

Di sisi komersial, Telkomsel juga memiliki sebuah Innovation Center yang khusus untuk mengakselerasi bisnis teknologi digital agar mampu dipergunakan dengan baik di seluruh penjuru tanah air. Seperti halnya, Habibi Garden sedang menjalani inkubasi bisnis di Telkomsel Innovation Center.

Candradimuka Perusahaan Rintisan

Memang sangat tepat jika mengibaratkan program The NextDev seperti “candradimuka” bagi perusahaan rintisan yang ada di Indonesia. Banyak startup muda yang kreatif dan bisa dimanfaatkan oleh pemerintah atau Institusi/lembaga dalam hal pengembangannya, karena banyak karya anak bangsa yang harus diangkat, difasilitasi dan dikembangkan baik tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Telkomsel melalui The NextDev yang dikembangkan sejak 2015, sudah menemukan lebih dari 4.000 early stage startup yang dibesut oleh pemuda-pemudi terbaik di Indonesia. Bahkan pada 2017, The NextDev mengadakan program The NextDev Academy yang bertujuan membantu 20-25 early stage startup terbaik di Indonesia untuk mengembangkan model bisnis mereka, melengkapi pengetahuan dan kemampuan teknologi dan bisnis mereka, membukakan akses ke industri kreatif digital di Indonesia maupun luar negeri, hingga mengarahkan bisnis mereka agar mampu selalu menghasilkan dampak sosial yang positif.

Lalu seperti apa hasil penggemblengan di “candradimuka” ini ? Sebagian startup yang terlibat di The NextDev masih menjalankan solusi bisnis dan dampak sosial mereka di lokasi-lokasi domisili masing-masing. Sebagian startup lainnya sudah tidak bisa dibilang early stage lagi, dan sudah mulai memasuki tahap mature atau series A, seperti Habibi Garden, Eragano, Vestifarm, Squline, dan Marlin Booking.

Pada tahap awal pengembangan startup, mereka selalu mulai melakukan validasi bisnis dari market yang tidak terlalu besar. Dan The NextDev selalu memastikan mereka menjalankan tahapan-tahapan bisnis mereka dengan baik, dengan model bisnis yang baik, hingga mencapai tahapan-tahapan selanjutnya.

Seperti halnya, Habibi Garden dengan sensor Internet of Things agrikulturnya sudah melakukan validasi di beberapa lokasi di Indonesia, dan karyanya diminati oleh Filipina dan Australia. Hasil panen Eragano juga membantu semakin banyak pelaku agrikultur di Indonesia menemui pembeli yang tepat. Vestifarm membuka semakin banyak akses investasi terhadap pertanian dan peternakan.

Begitu pula, Squline perlahan tapi pasti terus menambah kurikulum kursus bahasa asing online mereka. Marlin Booking menghubungkan semakin banyak pelabuhan dan akses antarpulau dengan platform digitalnya. Indonesia akan sangat menarik di 2020 dengan startup-startup tersebut.

The NextDev saat ini juga sedang merangsang pertumbuhan startup di Indonesia Timur melalui program “The NextDev On The Mission”. Pada 2018, sejumlah pemuda di Kupang dan Ambon dibekali dengan kemampuan dasar koding dan manajemen proyek digital, sehingga mampu membuat early stage startup-nya sendiri, menciptakan produk yang mampu menghasilkan solusi dan dampak sosial yang positif, serta membangun ekosistem digital yang baik di Indonesia Timur.

The NextDev selama 4 tahun berturut-turut hadir di Indonesia demi mencari bibit-bibit startup baru yang berfokus pada social impact demi menghadirkan solusi bagi Indonesia telah menjaring lebih dari 4614 startup submission. Dari tahun ke tahun The NextDev meloloskan 20 startup dari seluruh Indonesia untuk mengikuti tahap inkubasi dan private mentoring, dengan harapan dapat mengembangkan startup-nya ke level selanjutnya.

Selama 4 tahun berlangsung, The NextDev telah melahirkan beberapa startup yang mampu bertahan dan melakukan inovasi serta pengembangan bisnis yang mempunyai impact luar biasa bagi Indonesia khususnya masyarakat. Contohnya, Habibi Garden, startup Internet of Thing/IoT yang fokus memajukan para petani melalui produk IoT-nya yang mampu membuat petani bisa berbicara dengan tanaman dan memberikan data yang real time terkait tanamannya. Dengan adanya produk IoT Habibi Garden, para petani bisa mengontrol pemberian nutrisi, volume air dalan lain sebagainya, sehingga bisa memaksimalkan hasil panen para petani.

Marlin Booking, startup yang memudahkan masyarakat pelabuhan untuk melakukan pemesanan tiket kapal ferry secara langsung. Marlin Booking telah menjalin beberapa kerjasama dan salah satunya dengan PT Pelindo II terkait digitalisasi system pelabuhan di Indonesia.

Dan masih banyak startup NextDev lainnya yang telah mengembangkan inovasinya menjadi bisnis yang berkembang seperti, Squline platform pembelajaran Bahasa asing, Karapan platform e-commerce untuk daging sapi berkualitas dan Growpal platform online untuk berinvestasi bidang perikanan.

Penghalang Harus Diatasi

Langkah Telkomsel dalam membangun ekosistem masyarakat digital melalui program The NextDev, dinilai Digital Marketing Director Modalku, Alexander Christian, sangat strategis dan tepat dalam mempermudah calon-calon enterpreneur teknologi untuk memperoleh akses ke edukasi, mentorship, dan juga akses ke pendanaan tahap awal. Ini tentu akan mempermudah mereka untuk berkembang.

Karena pada akhirnya, semakin banyak perusahaan rintisan yang berkembang, semakin cepat ekosistem digital di Indonesia menjangkau lebih banyak lagi lapisan masyarakat. “Jadi langkah yang dilakukan Telkomsel melalui The NextDev ini sudah cukup tepat sebagai bentuk komitmen Telkomsel membangun ekosistem masyarakat digital di Indonesia”tukas Alex.

Begitu pula dengan startup-startup yang masuk dalam program The NextDev, menurut Alex, secara konsep, inovasi yang diusulkan peserta program sangat beragam dan luar biasa. Ini karena dipengaruhi latar belakang mereka yang beragam pula, mereka bisa melihat mungkin masalah-masalah di masyarakat yang bisa dipecahkan dengan model bisnis mereka.

Melalui program akselerasi, beserta trainer, mentor dan juri, konsep mereka jauh lebih matang lagi untuk siap diluncurkan di masyarakat. Sementara ide-ide inovasi startup, relatif cukup unik dan berkaitan erat dengan masalah yang unik pula, misalnya model bisnis Agritech (perpaduan agriculture dengan technology). Namun jika dilihat secara objektif, bisa dibilang bahwa kualitas inovasi anak bangsa tidak kalah dibanding dengan negara lainnya.

Menanggapi tentang dampak signifikan dari pelaksanaan The NextDev, Alex menilai, cukup banyak karya aplikasi anak bangsa yang telah berkontribusi bagi bangsa kita. Seperti SekolahKoding satu diantara startup The NextDev, berkontribusi untuk kemajuan pendidikan dengan membantu 65.000 siswa meningkatkan kondisi kerja dan hidup mereka.

Dengan melihat dampak yang signifikan terhadap perkembangan perusahaan rintisan Indonesia, The NextDev layak disebut sebagai “candradimuka:, mendukung kesuksesan startup anak bangsa.

Ekosistem masyarakat digital Indonesia, diakui Alex, memang harus terus dikembangkan. Potensinya sangat luar biasa untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. ”IMF sendiri pernah menyatakan bahwa Indonesia bisa menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Namun bisa diwujudkan jika penghalangnya teratasi,”ujarnya.

Alex menyebut ada beberapa langkah untuk mengatasi penghalang yang ada yakni mempercepat inklusi finansial melalui layanan finansial digital; meningkatkan infrastruktur informasi dan teknologi di Indonesia, mengingat tingkat penetrasi internet di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara; melakukan edukasi untuk meningkatkan digital literacy.

Untuk itu, keterlibatan Telkomsel sebagai satu diantara operator telekomunikasi Paling Indonesia, tambah Alex, sangat penting, tidak hanya membangun ekosistem masyarakat digital saja tapi juga ikut mengatasi penghalangnya seperti meningkatkan infrastruktur informasi dan teknologi serta edukasi meningkatkan digital literacy. (noer soetantini)

Teks foto :

Suasana pitching peserta The NextDev Talent Scouting 2018, sebuah ajang pencarian startup pengembang aplikasi digital, di sela-sela Idea-X The NextDev di Surabaya, 27 April 2018. Telkomsel menggelar sesi pitching dalam ajang Idea-X The NextDev untuk memberikan kesempatan kepada peserta mempresentasikan aplikasi digital karya mereka yang bisa memberikan dampak sosial yang positif bagi masyarakat Indonesia.

Foto : Dokumentasi Telkomsel.

Advertising
Advertising