Laporan Khusus

Tongdun Bantu Fintech Akselerasi Keuangan Inklusif

17-01-2019

Jakarta, beritasurabaya.net - Tongdun International, penyedia layanan manajemen risiko terkemuka, mengadakan Seminar FinTech dengan tema “Accelerating Financial Inclusion: How to Mitigate Risks while Capitalizing on Opportunities” (Percepatan Keuangan Inklusif: Bagaimana Memitigasi Risiko sekaligus Memanfaatkan Peluang) yang menghadirkan pembicara dari Tongdun dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rabu (16/1/2019). Seminar FinTech ini menyoroti perkembangan regulasi dan kebijakan fintech terbaru di Indonesia, keberhasilan Tongdun di China serta membahas studi kasus pelanggan Tongdun terkait penerapan teknologi dan solusi perusahaan di berbagai sektor perbankan dan keuangan.

Acara ini bertujuan membantu para pelaku bisnis fintech di Indonesia memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh ekonomi digital melalui percepatan keuangan inklusif. Indonesia telah dan akan terus mendominasi ekonomi digital di Asia Tenggara.

Berdasarkan penelitian Google-Temasek bertajuk e-Conomy SEA 2018: Southeast Asia's Internet Economy Hits an Inflection Point,Indonesia merupakan negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, mencapai USD27 miliar pada 2018. Angka tersebut akan terus meningkat tiga kali lipat hingga USD100 miliar pada 2025.

Meskipun demikian, Indonesia masih tertinggal dalam hal keuangan inklusif. Menurut World Bank, hanya 48,9 peren orang dewasa Indonesia yang memiliki rekening bank pada 2018, sementara secara global rata-rata 69 persen orang dewasa memiliki rekening bank.

“Lebarnya kesenjangan terkait keuangan inklusif antara Indonesia dan negara-negara lain di dunia merupakan peluang besar bagi fintech untuk menjembatani. Dengan 69 persen populasi Indonesia sudah memiliki telepon seluler dan penggunaan telepon pintar terus bertambah, fintech dapat membantu Indonesia mengejar ketertinggalan dari negara lain dalam hal keuangan inklusif,” ujar Co-Founder & Partner, Tongdun Technology, Jackal Ma.

Negara-negara di Asia Tenggara memiliki begitu banyak kebudayaan, bahasa, bahkan tingginya tingkat pemakaian teknologi menghadirkan sejumlah tantangan tersendiri. Di sisi lain, perkembangan fintech di Asia Tenggara masih berada pada tahap awal sehingga masih mengandung potensi bisnis yang tidak terbatas. Sejak Desember 2018, sebanyak 88 perusahaan fintech telah mendapatkan lisensi dari OJK serta 150 perusahaan lainnya telah mengajukan lisensi.

Terlepas dari pertumbuhan industri fintech tersebut, banyak pelaku bisnis fintech di Indonesia masih perlu memperkuat teknologi dan reputasi mereka untuk bisa diterima oleh para konsumen lokal. Tongdun Technology sebagai sebuah perusahaan pihak ketiga penyedia layanan manajemen risiko dan pengambilan keputusan yang profesional, telah memberikan pinjaman P2P, keuangan mikro, perbankan, asuransi, dan lain-lain, dengan pemasaran, manajemen risiko, anti-penipuan, dan solusi operasi yang cerdas dan sangat efisien.

Konsep Cross-Industry Joint Defense yang unik, akumulasi data besar-besaran dan teknologi pemrosesan data yang kuat dari Tongdun, misalnya, telah menjadi senjata ampuh untuk melindungi pinjaman P2P dan platform fintech keuangan mikro lainnya terhadap penipuan identitas, aplikasi palsu serta risiko lainnya.

“Selain itu, solusi kami dapat membantu fintech di Indonesia untuk tidak hanya meningkatkan bisnis mereka tetapi juga membangun kredibilitas yang kuat guna memperkuat peran mereka sebagai akselerator keuangan inklusif yang andal,” kata Jackal Ma menyimpulkan. (noer soetantini)

Teks foto :

Jackal Ma dan Lawrence Lu.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising