Laporan Khusus

RTA & Tlutur Hiburan Akhir Pekan Dirumahaja

23-10-2020

Jakarta, beritasurabaya.net -  Galeri Indonesia Kaya bersama Garin Nugroho menghadirkan program yang membahas seni pertunjukan yang diberi judul #PentasDaringRuangKreatif. Program ini merupakan bagian dari Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia yang telah digelar sejak 2016 yang lalu dengan menghadirkan serangkaian kegiatan mulai dari, roadshow Bincang Kreatif Seni Pertunjukan, seleksi Art Project Development Proposal, Pitching Forum, Workshop, Mentoring proses produksi seni pertunjukan.

Sebanyak 22 narasumber, mulai dari seniman, produser, promotor, akademisi, hingga seniman muda juga sudah berbicara ke sekitar 2.805 peserta sejak awal digelar. Garin Nugroho, Ratna Riantiarno, Eko Supriyanto, Iswadi Pratama, Subarkah Hadisarjana, Hartati, Sari Madjid adalah beberapa nama yang turut serta berbagi pengalaman dan pengetahuannya tentang seni pertunjukan Indonesia.

Direktur Program Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, Jumat (23/10/2020), mengatakan, setelah sukses menampilkan kegiatan bertajuk Sunar Rahwana dan Ngawak minggu lalu, program yang diberi judul #PentasDaringRuangKreatif minggu ini akan menyuguhkan lakon bertajuk RTA dan Tlutur.

“Semoga beragam program yang kami suguhkan tidak hanya sekedar menghibur namun dapat terus menambahkan semangat kecintaan kita kepada budaya Indonesia melalui karya-karya seniman Indonesia yang telah kami pilih dari 14 komunitas seni untuk program Galeri Indonesia kaya bersama Garin Nugroho,” ujarnya. 


Pementasan berjudul RTA yang diproduksi oleh Semut Production yang dapat disaksikan pada Sabtu (24/10/2020) pukul 15.00 di www.indonesiakaya.com dan akun Youtube IndonesiaKaya. Melalui pementasan ini, Semut Production ingin mengangkat fenomena kondisi yang tidak baik antara semua hubungan dengan menampilkan bentuk karya yang sebaliknya yaitu keadaan yang harmonis setiap umat di Bali.

“Karya tari kontemporer ini ingin menyampaikan kepada penonton untuk menyadari toleransi sebagai bagian terpenting dalam diri. Dengan mengangkat fenomena hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan manusia yang disebut dengan Tri Hita Karana. Semoga melalui #PentasDaringRuangKreatif ini tidak hanya menghibur penikmat seni dirumah namun dapat menghargai perbedaan dan menjadikan kebersamaan harta utama yang kita miliki,” ujar Garin Nugroho yang menjadi mentor untuk komunitas ini.

Semut Production yang bergerak di bidang seni pertunjukan tradisi dan kontemporer berbasis kebudayaan Bali ini didirikan sejak 2016 di Denpasar, akan menyuguhkan pertunjukan kontemporer dengan pola gerak tari berdasar dari teknik tari Bali. Pementasan ini menggunakan properti dari rotan serta nyanyian keagamaan sebagai visualisasi konsep yang ditarikan oleh 5 penari perempuan dan 4 penari laki-laki mengenakan kostum berwarna abu-abu.

Para penikmat seni juga diajak untuk menyaksikan karya komunitas Seni Atmantara bertajuk Tlutur sebuah pertunjukan yang mencoba mengkolaborasikan dua tembang bernuansa sedih yaitu Tlutur dan Lingsir Wengi yang dapat disaksikan pada Minggu (25/10/2020) pukul 15.00 di www.indonesiakaya.com dan akun Youtube IndonesiaKaya.

Komunitas seni yang berasal dari kota Solo ini akan menampilkan pertunjukan kontemporer bertajuk Tlutur yang mengkolaborasikan seni teater, pertunjukan wayang kulit, dan alunan musik gamelan. Pertunjukan dimulai dengan adegan monolog Dewi Utari yang sedih dan merasa kehilangan sang pujaan hati, Abimanyu yang terbunuh di medan laga. Sukma Abimanyu melayang gelisah karena rindu pada Dewi Utari dan ingin menemuinya meskipun keduanya sudah berada di alam yang berbeda.

Riskha Candra Herjunawa selaku sutradara, menjelaskan, pertunjukan ini bermula dari sebuah ide dan gagasan yang muncul ketika beberapa film menggunakan tembang Lingsir Wengi yang identik dengan hal gaib. Berangkat dari hal tersebut, kami ingin bereksperimen dan mencoba mengkomparasikan tembang Lingsir Wengi dan Tlutur yang erat dipakai untuk mendukung suasana sedih yang erat dipakai dalam pertunjukan tradisi, khususnya di Surakarta.

“Melalui proses mentoring bersama Budi Ros, kami mencoba menghadirkan pertunjukan kolaborasi antara Teater, Wayang, dan Gamelan dan dikemas seringan mungkin, diharapkan para penikmat seni dapat memperoleh komparasi yang dapat memberikan pemahaman yang lebih lanjut tentang dua tembang tersebut,”ujar Riskha. (noer soetantini)

Teks foto :

Pertunjukan ini bermula dari sebuah ide dan gagasan yang muncul ketika beberapa film menggunakan tembang Lingsir Wengi yang identik dengan hal gaib.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising