Laporan Khusus

Berkat Bantuan BI, Kualitas Kopi Wonosalam Meningkat

29-11-2020

Wonosalam, beritasurabaya.net - Bicara soal kopi seolah tidak akan ada habisnya. Pasalnya, jenis kopi di Indonesia sangat beragam.

Indonesia merupakan produsen kopi keempat terbesar di dunia setelah Brazil, Kolombia dan Vietnam. Jawa Timur menjadi produsen kopi terbesar di Indonesia yang dipasok dari Wonosalam Jombang, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, Malang dan Kediri.

Dalam Media Gathering Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, yang diikuti lebih dari 40 media, 27-29 November 2020, di Wonosalam Jombang, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Difi A. Johansyah, mengatakan, kopi Indonesia khususnya dari Jawa Timur kualitasnya sangat bagus. Bahkan petani kopi mampu menghasilkan kopi premium dengan harga yang mahal. 

"Sementara dari potensi pasar sangat besar sehingga BI mengarahkan para petani kopi agar menghasilkan produk kopi premium. Memang di sisi lain, ada kelemahan bahwa produktivitas kopi kita masih rendah. Dengan binaan dan bantuan dari BI, diharapkan petani kopi bisa memproduksi kopi secara berkelanjutan  sepanjang tahun,"ujarnya.


Apalagi selama pandemi Covid-19 ini, bisnis kopi tidak terpengaruh malam meningkat pesat. Permintaan aka kopi sangat tinggi.

"Di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini masyarakat enggan keluar rumah. Mereka kalau minum kopi membuat sendiri dan ini mendongkrak permintaan kopi,”tukasnya.

Dari sektor pertanian kopi, ungkap Difi, juga tidak terpengaruh dampak kopi. Bahkan dalam beberapa festival, sempat kehabisan kopi yang dijual selama festival.

Demand akan kopi trennya terus meningkat. Bahkan ada ahli perkopian bilang di tahun 2045 nanti dunia akan kehabisan kopi. Jadi bisnis pertanian yang tetap eksis meski pandemi Covid-19 yakni bisnis kopi,”tuturnya.

Sementara yang menjadi tantangan bisnis kopi, yakni membuat kualitas mutu kopi yang konsisten. Ini sulit karena Indonesia sangat dipengaruhi musim.

“Selain itu, cara mengeringkan dan petik kopi di setiap daerah berbeda-beda. Dan ini menjadi tantangan tersendiri. Tinggal butuh sentuhan bagaimana caranya untuk meningkatkan produksi dan kualitasnya, karena demand sudah ada," ujarnya.  


Dukungan BI untuk petani kopi Wonosalam

Guna meningkatkan kualitas mutu dan kapasitas produksi petani kopi di Jawa Timur,  BI  Jawa Timur telah memberikan beragam fasilitas. Diantaranya, petani kopi di Wonosalam Jombang.

Fasilitas yang diberikan BI untuk petani kopi yakni bibit kopi yang diambil dari Puslit Kopi & Kakao Jember, alat proses produksi seperti mesin pengupas kulit kopi, mesin penggiling serta bantuan pendampingan dari hulu ke hilir.

Deputi Kepala Perwakilan BI Jawa Timur, Harmanta, menjelaskan,  kualitas kopi lokal Wonosalam sudah sangat bagus. Tinggal ditingkatkan untuk mencapai standar ekspor.

Guna memenuhi standar layak ekspor, Harmanta menjelaskan, komoditas dituntut harus memiliki kualitas, kontinuitas, dan kapasitas. “Misalkan, Bank Indonesia memberikan 14.500 bibit kopi Arabika, 2.500 jenis kopi Liberika dan 3.500 jenis kopi Robusta kepada petani binaan di wilayah ini. Tidak cuma bibit, tapi BI juga membantu alat proses produksi agar kualitas kopi yang dihasilkan menjadi lebih maksimal dan kapasitas produksi juga meningkat,”papar Harmanta.

Untuk pendampingan juga dilakukan BI dari hulu hingga hilir, mulai pembibitan yang bagus, pasca panen hingga packaging-nya. Dia juga menyebut salah satu varietas kopi unggulan unik, yang hanya berkembang di Wonosalam seperti jenis Liberika. 

Menurut Harmanta,  saat ini kopi sudah menjadi lifestyle dimana-mana. Liberika yang di tempat lain kurang bisa berkembang, di Wonolosalam justru bisa dijadikan andalan. "Dengan bantuan dan pendampingan, BI berharap ada value added bagi petani di Wonosalam,” ujarnya.


Kopi Wonosalam Merambah Pasar Luar Negeri

Produki kopi Wonosalam mampu menghasilkan kopi 15 ton pertahun. Dan mampu merambah pasar luar negeri seperti Singapura. Sementara pasar dalam negeri, di Jawa Timur, Bali, Sumatera dan Kalimantan.

Ketua Kelompok Petani Kopi Wojo (Wonosalam Jombang), Unit Pengolahan Hasil (UPH) Kopi Desa Carangwulung, Wonosalam, Jombang, Yayak, mengatakan, biji kopi produksi para petani Wojo mampu menarik pasar Singapura. Ini perkembangan yang sangat bagus, meski belum mampu memenuhi permintaan pasa Singapura untuk produk premium. Ini lebih banyak karena biji kopi hasil panen belum mencukupi.

Kelompok Petani Kopi Wojo merupakan salah satu klaster binaan BI di Jombang. Saat ini, beranggotakan 25 petani yang memiliki lahan 30 ha.

Sebelum dibantu BI, mereka hanya mampu memproduksi biji kopi 1-2 ton per tahun dengan proses produksi manual. Dengan bantuan peralatan dan pendampingan, kini mencapai 15 ton per tahun.

Peningkatan ini ditampung oleh pasar maupun kedai-kedai kopi yang membutuhkan pasokan rutin setiap bulan. Pihaknya terus berusaha terus meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan pasar. Kalau bisa, juga memperluas pasar ke negara-negara selain Singapura.

Yayak memaparkan, para petani di kelompoknya memproduksi biji kopi grade 1. Saat dipetik, semua buah kopi berwarna merah segar dan harus diproses langsung untuk memperoleh cita rasa kopi yang bagus.

Untuk prosesnya, ada proses kering dan basah. Proses kering secara natural, sedangkan proses basah secara full wash dan semi-wash. Untuk menghasilkan biji kopi grade 1, harus menerapkan rangkaian proses secara benar.

Yayak menjelaskan, dulu ketika pemetikan dan proses dilakukan asal-asalan, tidak menghasilkan biji kopi grade 1. Hal ini membuat harga biji kopi jenis Robusta hanya Rp.28 ribu-Rp.30 ribu per kilogram. Kini harganya mencapai Rp. 40 ribu per kilo setelah pemetikan dan proses dilakukan sesuai standar.

Untuk jenis Arabika kini mencapai Rp.80 ribu per kilo, Liberika Rp.75 ribu per kg. Untuk ExcelsaRp.65 ribu per kilogram. Menurut Yayak, petani kopi berperan sangat penting dalam menentukan kualitas biji kopi grade 1. Petani perannya mencapai 60 persen, kemudian roastery 30 persen, dan barista 10 persen.

BI memberikan bantuan kepada Kelompok Petani Kopi Wojo berupa peralatan di antaranya huller, alat penyerap kadar air dan alat penjemur biji kopi. Dalam bantuan tersebut, BI memberikan target hasil panen dapat meningkat 10 persen hingga 20 persen.

“Namun ternyata hasil panen bisa meningkat lebih dari 20 persen. Hal ini menggembirakan sekaligus memacu semangat para petani di kelompok ini untuk menghasilkan panen lebih besar,”tukasnya.

Yayak berharap, kelompoknya bisa terus mendapatkan bantuan modal dan ilmu dari BI selain peralatan, sehingga dapat lebih meningkatkan produksi. Yayak menambahkan untuk kulit kopi yang terbuang diolah kembali menjadi pupuk dan dibawa kembali ke kebun. (noer soetantini)

Teks foto :

1.Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Difi A. Johansyah

2.Deputi Kepala Perwakilan BI Jawa Timur, Harmanta.

3.Para istri petani kopi diberdayakan untuk membantu menyortir biji kopi.

4.Beragam jenis kopi Wonosalam Jombang.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising
Pemadam Kebakaran
Surabaya Pusat
031-3533843-44
Surabaya Utara
031-3712208
Surabaya Timur
031-8411113
Surabaya Barat
031-7490486
Surabaya Selatan
031-7523687
Rumah Sakit & Klinik
RSUD Dr. Sutomo
031-5020079
RS Darmo
031-5676253
RS ST Vincentius A Paulo
031-5677562
RS William Booth
031-5678917
RS Adi Husada
031-5321256
Kepolisian
Polda Jatim
(031) 8280748
Polrestabes
(031) 3523927