Perempuan

Wanita di Dunia Kerja & Kepemimpinan Terhambat

19-03-2016

Jakarta, beritasurabaya.net - Meskipun kian banyak wanita yang memiliki jenjang pendidikan lebih tinggi dibandingkan laki-laki di kawasan Asia Pasifik, namun masih terdapat kesenjangan gender yang besar yang menghalangi wanita untuk mencapai potensi mereka secara penuh, baik dalam lingkungan kerja maupun keberadaan mereka di posisi-posisi kepemimpinan.

Temuan ini diperoleh berdasarkan indeks terbaru dari MasterCard mengenai Perkembangan Wanita (Women's Advancement) yang dikeluarkan bertepatan dengan International Women's Day yang jatuh pada tanggal 8 Maret 2016 lalu. Di 12 negara dari 18 negara di Asia Pasifik, jumlah wanita yang mendaftar di universitas melebihi jumlah laki-laki, di mana Selandia Baru (141,8), Australia (137,5) dan Thailand (134,5) menempati peringkat teratas.

Sementara itu, kemajuan yang signifikan terjadi di Indonesia di mana jumlah penerimaan di tingkat pendidikan tingkat lanjut tumbuh dari 87,2 di tahun 2007 menjadi 105,1 di tahun 2016. Namun demikian, pencapaian pendidikan tersebut tidak tercermin pada jumlah partisipasi tenaga kerja di banyak negara.

Meskipun lebih banyak wanita yang melanjutkan pendidikan tinggi di beberapa negara seperti Selandia Baru, China, dan Filipina, namun secara umum wanita masih memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk bekerja. Secara keseluruhan, Selandia Baru berada di peringkat pertama (78,0) untuk kesetaraan gender, diikuti oleh Australia (76,0) dan Filipina (71,4).

Di negara lainnya seperti Jepang (49,5), Bangladesh (45,5), Sri Lanka (44,3), India (38,0) dan Pakistan (23,4) memiliki skor indeks yang menunjukkan bahwa masih banyak lagi yang dapat dilakukan untuk mencapai kesetaraan gender. Indeks ini mengukur tingkat sosial ekonomi wanita di 18 negara di Asia Pasifik dan terdiri dari tiga indikator utama yang berasal dari sub-indikator tambahan: Kemampuan-Capability (Pendidikan Menengah, Pendidikan Tinggi), Pekerjaan-Employment (Partisipasi dalam Lingkungan Kerja, Pekerjaan Reguler) dan Kepemimpinan-Leadership (Pemilik Bisnis, Pemimpin Bisnis, Pemimpin Politik).

Indeks skor di atas menunjukkan proporsi wanita terhadap setiap 100 pria. Skor 100 menunjukkan kesetaraan gender.  Group Head, Communications, Asia Pacific MasterCard, Georgette Tan, Sabtu (19/3/2016), mengatakan kesenjangan gender dalam hal akses pendidikan telah berkurang selama bertahun-tahun, namun kita tetap harus menempuh jalan yang panjang agar para wanita di seluruh Asia Pasifik memiliki kesetaraan yang sama dalam dunia bisnis dan politik.

"Kurangnya perwakilan wanita pada posisi-posisi penting di berbagai organisasi dan rendahnya partisipasi wanita dalam perekonomian, ditambah dengan implementasi undang-undang atau peraturan mengenai kesetaraan yang tidak tidak konsisten, terus menjadi tantangan terbesar bagi para wanita dan hal ini terlihat di semua negara terlepas dari laju pembangunan ekonomi di masing-masing negara,"ungkapnya.

Ia menegaskan akses merupakan hal yang sangat penting untuk melibatkan wanita dalam perekonomian, mengingat bahwa wanita masih tidak memiliki akses yang sama pada berbagai kesempatan kerja atau bahkan jaringan sosial sebagaimana yang didapatkan oleh pria. Berbagai faktor yang mempengaruhi kontribusi ekonomi yang dilakukan oleh para wanita dalam lingkungan kerja juga perlu ditangani, termasuk faktor sosial budaya yang spesifik di masing-masing negara (country-specific socio-cultural), kepercayaan tradisional (traditional beliefs), dan kebijakan pemerintah.

"Mengatasi kesenjangan kesetaraan gender dan meratakan lapangan pekerjaan akan bermanfaat tidak hanya bagi wanita, namun juga berlaku bagi perekonomian global secara keseluruhan,"tukasnya. (nos)

Advertising
Advertising