Perempuan

Peran Kartini Masa Kini Dalam Roda Perekonomian

20-04-2020

Jakarta, beritasurabaya.net - Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April untuk memperingati jasa kepahlawanan R.A. Kartini, pelopor kebangkitan perempuan Indonesia. Semangat Kartini terus mendarah daging pada setiap generasi dan terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.

Saat ini, perempuan tidak lagi hanya mengurus rumah tangga, melainkan juga turut berperan dalam roda perekonomian keluarga, daerah, hingga bangsa. Salah satunya para peserta Gapura Digital dan Womenwill, program besutan Google untuk melatih UKM mendigitalisasi bisnisnya yang akan berbagi pengalaman mereka dalam menjalankan peran sebagai penggerak roda perekonomian keluarga. Para Kartini ini adalah Arni Susanti pemilik Bengke Paruik, Ristin Jatnika pemilik Mere Naturals dan Monika Diah Pramodho Wardhani pemilik Karin Kukis.

Kartini masa kini: Andalkan teknologi digital untuk mempertahankan bisnis di masa ketidakpastian. Kartini masa kini tidak hanya mereka yang berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya perempuan, namun mereka yang juga memilih untuk berperan sebagai salah satu penggerak perekonomian keluarga.

Seperti yang dilakukan Arni Susanti, wanita berusia 33 tahun yang menjadi Kartini masa kini dengan mengelola bisnis keluarga dan menjadi salah satu penggerak ekonomi di Kota Padang, Sumatera Barat.

Arni mendirikan Bengke Paruik, bisnis yang bergerak di industri makanan ringan, sejak tahun 2015, dengan dibantu oleh tiga orang karyawan. Arni memproduksi sendiri cemilan yang dijual seperti marning jagung, serundeng talas, dan serundeng ubi secara offline maupun online serta melayani reseller dan pencari konsumen.

Selama enam tahun mengelola bisnis keluarga ini, Arni mengalami berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan modal, kesulitan mengatur keuangan hingga menurunnya permintaan produk. Untuk menghadapinya, Arni mengasah kemampuan digital marketing dan pengelolaan bisnis melalui berbagai sumber yang mudah ditemukan di Google.

Arni kemudian mengetahui informasi mengenai program Gapura Digital dan Womenwill dari seorang tim Gapura Digital di Padang pada tahun 2018. Setelah beberapa kali mengikuti kelas Gapura Digital dan Womenwill, Arni terpilih sebagai fasilitator Womenwill di Padang.

Di sini, Arni mengenal Google Primer sebagai aplikasi belajar mengelola bisnis, mendaftarkan Bengke Paruik di Google Bisnisku, dan membangun relasi dengan banyak orang yang kemudian menjadi supplier, pelanggan, hingga reseller. Lebih dari itu, Arni juga berupaya meningkatkan penjualannya dengan memasarkan produknya di media sosial.

Kini, ketika Indonesia tengah mengalami masa ketidakpastian, Arni kembali menghadapi tantangan. Kapasitas produksi terpaksa diturunkan karena Arni meminta karyawannya untuk tetap di rumah dan hanya memproduksi makanan ringan yang bisa dibuat sendiri.

Selain itu, pemesanan dari luar kota juga menurun sehingga penjualan di dalam kota sangat dimaksimalkan. “Jika biasanya kami bisa memproduksi 50 kilogram berbagai makanan ringan dalam seminggu, kini hanya bisa memproduksi sesuai pesanan yang diterima saja. Hal ini pun berdampak terhadap penjualan kami yang menurun sebesar 40 persen dalam satu bulan terakhir,” ungkap Arni.

Demi mempertahankan bisnisnya, Arni memaksimalkan kemampuannya dalam digital marketing. Meski tokonya tutup untuk sementara, Arni tetap memasarkan produk yang tersedia secara online. Arni mempromosikan produknya lewat media sosial kepada teman dan masyarakat di sekitarnya agar mereka tahu bahwa Bengke Paruik tetap beroperasi di masa ketidakpastian ini.

Sejak tahun 2018, Arni sudah mulai aktif mengelola profil bisnisnya di Google Bisnisku dan memperkenalkannya kepada pelanggan maupun teman-temannya lewat foto, video, hingga penawaran terhadap pengikutnya. Selain itu, berbagai komentar yang diterima dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk mengembangkan bisnisnya sesuai dengan permintaan dan kebutuhan pelanggan.

Di masa ketidakpastian ini, Google Bisnisku berperan penting terhadap perkembangan Bengke Paruik. Masyarakat sekitar, teman, dan calon konsumen dapat mengetahui jam operasional yang sudah diubah. Selain itu, tokonya sudah terdaftar di Google Maps sehingga memudahkan para kurir untuk menemukan lokasinya ketika hendak mengambil pesanan konsumen yang memesan secara online.

“Di masa ketidakpastian seperti ini, diperlukan usaha lebih untuk memasarkan produk kita agar UKM yang kita kelola mampu bertahan. Pemasaran online dengan memanfaatkan berbagai fitur dan aplikasi menjadi salah satu solusi yang bisa diandalkan para pelaku bisnis untuk survive periode ini,” ujar Arni.

Kartini masa kini: Ajak karyawan belajar bersama mengelola bisnis di masa social distancing. Peringatan Hari Kartini tahun ini dirayakan dengan sedikit berbeda karena sedang diberlakukannya kebijakan social distancing. Kebijakan pemerintah untuk meminta masyarakat berkegiatan di rumah seperti bekerja, belajar, dan beribadah menjadi tantangan baru bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Namun hal tersebut tak menyurutkan niat Ristin Jatnika, pemilik usaha minyak aromaterapi, Mere Naturals, yang berpusat di Bandung, untuk tetap mengajak karyawannya untuk belajar bersama mengelola bisnis selama masa bekerja dari rumah.

Mere Naturals tercipta berawal dari kekhawatiran dan kebutuhan Ristin akan produk natural karena kondisi kulit anaknya yang sensitif serta desakan ekonomi keluarga. Pada kondisi ini, Ristin memutuskan untuk belajar membuat minyak aromaterapi untuk buah hatinya.

Awalnya minyak ini hanya digunakan secara pribadi untuk anaknya, namun karena merasa banyak Ibu di luar sana yang mungkin mengalami hal yang sama dan membutuhkan minyak aromaterapi buatannya. Akhirnya, Ristin memutuskan untuk memasarkan produknya dengan nama Mere Naturals. Pada masa social distancing ini, Ristin berbagi pengalamannya dalam memberdayakan karyawan selama bekerja dari rumah.

“Pada masa social distancing, saya memilih untuk menghentikan kegiatan produksi sementara waktu agar karyawan tidak perlu datang ke kantor. Namun, beberapa kegiatan bisnis tetap berjalan, seperti pengemasan produk dimana karyawan yang bertugas mengerjakan ini bisa bekerja bergantian setiap harinya. Selain itu, karena Mere Naturals juga dipasarkan secara online, karyawan yang bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan sales and marketing tetap dapat bekerja dari rumah masing-masing,” ujar Ristin.

Meski menerapkan work from home, Ristin meminta karyawan menggunakan waktu ini sebagai kesempatan untuk belajar tentang pengelolaan bisnis seperti cara memasarkan produk secara online, mengenal target konsumen, dan pentingnya memberikan layanan terbaik kepada konsumen. Belajar mengelola bisnis bagi Ristin adalah hal yang penting, tidak hanya bagi pemilik bisnis, tapi juga bagi semua karyawan yang terlibat dalam jalannya bisnis tersebut.

Karyawan Mere Naturals kebanyakan adalah perempuan-perempuan yang putus sekolah karena berbagai alasan. Hal ini mendorong Ristin untuk memotivasi mereka agar tetap belajar secara informal.

Tidak hanya untuk melancarkan jalannya bisnis Mere Naturals, tetapi juga untuk mengembangkan diri, kemampuan, dan keterampilan karyawannya. Apalagi, di era teknologi saat ini, belajar bukanlah lagi hal yang sulit karena banyak sumber yang bisa didapatkan hanya dengan bermodal akses internet. Media belajar mengelola bisnis yang sering mereka gunakan adalah Google Primer.

Ristin mengungkapkan ia pertama kali menggunakan Google Primer pada tahun 2017. Di sini, ia belajar cara pengelolaan bisnis, mulai dari keseimbangan dalam mengelola bisnis, membangun hubungan yang baik dengan karyawan dan membinanya, menggaet investor, hingga meningkatkan CRM (customer relationship management).

Ia merasa pelajaran ini juga perlu diketahui oleh para karyawannya agar mereka juga bisa memahami pentingnya memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen terhadap pengembangan bisnis. Mulanya, Ristin  selalu menyampaikan materi yang telah dipelajari di Google Primer kepada karyawan, namun dengan kemudahan mengakses Google Primer akhirnya mereka mulai belajar langsung dari aplikasi tersebut.

Selama operasional kantor berlangsung normal, seminggu sekali karyawan Mere Naturals selalu melakukan rapat untuk mengetahui perkembangan bisnis Mere Naturals sekaligus berbagi dan berdiskusi tentang pengetahuan yang telah dipelajari dalam minggu tersebut.

Namun, karena saat ini Mere Naturals juga menerapkan social distancing, maka Ristin meminta karyawan untuk belajar di rumah masing-masing dan akan kembali berdiskusi bersama ketika Mere Naturals sudah beroperasi dengan normal.

Kartini masa kini: Siap penuhi kebutuhan konsumen meski bekerja dari rumah. Kartini masa kini tidak lagi hanya mereka yang berperan dalam memajukan pendidikan perempuan, namun juga para perempuan yang berani mengambil langkah untuk keluar dari zona nyaman dan memulai bisnis untuk menggerakkan perekonomian keluarga.

Perkenalkan, Monika Diah Pramodho Wardhani atau biasa disapa Monik, pemilik Karin Kukis. Wanita berusia 48 tahun ini memutuskan untuk terjun sebagai pengusaha kue setelah menghabiskan 11 tahun bekerja di dunia perbankan. Sebagai seorang wanita yang tetap ingin mengurus keluarga namun tetap berkarya, Monik akhirnya melabuhkan pilihannya di Industri makanan, yakni kue.

Karin Kukis mulai dipasarkan pada Desember 2004 dengan menyediakan kue kering saat hari raya. Melihat tingginya minat konsumen, Monik berkomitmen untuk mengembangkan bisnisnya dengan mengikuti kursus di Bogasari Baking Course.

Bermodalkan talenta yang telah diasah, Karin Kukis mulai memproduksi dan memasarkan aneka kue seperti kue kering, kue basah, hingga kue ulang tahun. Saat itu, pelanggan Karin Kukis semakin banyak dan omzetnya pun meningkat.

Meningkatnya permintaan kue kering sejalan dengan meningkatnya persaingan bisnis di industri tersebut. Untuk tetap tampil beda dan memiliki keunikan produk, sejak September 2018 Karin Kukis mulai menjual kreasi kukis karakter yang dikemas dalam toples, plastik, hingga custom cookies bouquet.

Satu hal yang menjadi keunikan Karin Kukis adalah kepuasan konsumen dalam menuangkan ide mereka dalam cookies bouquet yang dipesan. Selama 15 tahun menggeluti bisnisnya, berbagai tantangan telah dilalui Monik.

Saat ia dihadapkan dengan pola berbelanja konsumen yang menginginkan kemudahan, ketepatan, dan kecepatan dalam mendapatkan sebuah produk, Monik mengenal program Gapura Digital melalui salah satu tayangan di televisi dan mengikuti kelas tersebut pada 30 September 2018.Pada program ini, Monik belajar untuk membuat konten dan foto menarik untuk dipublikasikan. Di sini juga Monik mengenal fitur Google Bisnisku dan mulai menggunakannya untuk mempromosikan Karin Kukis. Lewat Karin Kukis, Monik juga dapat melihat testimoni konsumen terhadap produknya, sekaligus mendapat masukan dari konsumennya.

Kini, tantangan kembali menghampiri, tidak hanya Karin Kukis, melainkan di Indonesia secara keseluruhan. Ketika masyarakat diminta untuk melakukan berbagai kegiatan di rumah, kegiatan produksi dan penjualan Karin Kukis mengalami penurunan.

Selama satu bulan terakhir, produksi Karin Kukis menurun hingga 50 persen, sementara penjualannya menurun sebesar 60 persen. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat Monik untuk menyediakan kreasi kukis karakter kepada konsumennya dengan dibantu oleh tiga karyawan di bagian produksi dan administrasi.

Selama ini Karin Kukis memang dipasarkan secara online, sehingga Monik tidak perlu beradaptasi lagi dalam memasarkan produk secara online. Namun, untuk menginformasikan pelanggannya bahwa ia tetap melayani pembeli, jam operasional Karin Kukis di Google Bisnisku tetap dicantumkan.

Monik juga tetap konsisten membuat konten dan foto menarik untuk dipublikasikan di Google Bisnisku, media sosial, maupun e-commerce yang dikelola. Upaya yang dilakukannya membuahkan hasil dengan tetap adanya pelanggan meski bekerja dari rumah.

“Meski saat ini permintaan kukis karakter menurun, saya tetap optimis bisa memasarkan kue yang saya buat. Terlebih saat ini menjelang bulan Ramadan, biasanya permintaan kue meningkat dan saya akan memanfaatkan momen ini untuk menaikkan penjualan Karin Kukis meski masih berada di masa bekerja dari rumah. Saya yakin rekan-rekan pemilik UKM lainnya juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan, dengan tidak berhenti berusaha dalam mencari strategi yang tepat dalam menggaet konsumen,” ujar Monik. (nos)

Teks foto :

Tiga “Kartini” berbisnis memanfaatkan teknologi digital.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising