Perempuan

Hampir Setahun, Temuan Isu Hoaks Sebanyak 1.354

16-01-2021

Jakarta, beritasurabaya.net - Selama periode 23 Januari 2020 hingga 15 Januari 2021, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI mencatat temuan isu hoaks Covid-19 di media sosial sebanyak 1.354. Sementara penanganan hoaks oleh Polri terdapat 104 kasus di 28 wilayah Polda/Bareskrim dengan 104 tersangka yang diproses.

Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Mira Tayyiba, dalam diskusi daring yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) bertemakan “Peran Jurnalis Perangi Hoaks (Covid-19 dan Vaksin), Sabtu (16/1/2021).

Mira menjelaskan dari Statistik Penanganan Hoaks Covid-19 Kemenkominfo, total sebaran konten pada platform media sosial  sebanyak 2.141 dimana 1.895 ditindaklanjuti (take down) dan 246 konten hoaks dalam proses. Platform media sosial yang terbanyak ditemuan hoaks yakni Facebook (1.613 temuan); Twitter (486 temuan); YouTube (22 temuan) dan Instagram (20 temuan). Sedangkan temuan hoaks terkait vaksin Covid-19 sampai 15 Januari 2021 kemarin, sebanyak 66 temuan.

“Secara umum, beberapa ahli menyatakan bahwa berita bohong(fake news) dapat beredar karena didorong oleh tiga faktor yakni adanya motivasi atau niat untuk menyebarkan suatu berita; adanya alat dan layanan untuk membuat atau mendapatkan berita; adanya platform atau jaringan sosial (social networks) sebagai media penyebaran berita palsu dan informasi yang salah terkait Covid-19,”papar Mira.


Menurut WHO, kata Mira, pandemi saat ini merupakan yang pertama dalam sejarah yang terjadi di saat teknologi dan media sosial sedang digunakan secara masif. Kemenkominfo telah melakukan penanganan konten negatif di ruang digital dengan upaya peningkatan literasi dan penanganan hoaks dari hulu ke hilir.

Peran perempuan, ungkap Mira, juga sangat penting dalam memerangi konten hoaks. Diantaranya, melakukan edukasi literasi digital dapat dimulai dari kelompok terkecil yakni keluarga dan kerabat terdekat, misalnya melalui grup Whatsapp dan media sosial, seperti Facebook dan Instagram.

Di tingkat yang lebih besar, jurnalis perempuan juga dapat melakukan edukasi ke masyarakat lebih luas melalui tulisan atau liputannya.  Kampanye Budaya Cek, Ricek dan Kroscek dengan melakukan self-filtering, yakni selalu memverifikasi informasi yang diterima, dengan cara  mencermati sumber yang tertera; membandingkan dengan informasi lain dari sumber terpercaya, atau melalui situs cekfakta seperti Instagram @MissLambeHoaks, serta laman kominfo.go.id, trustpositif.kominfo.go.id, cekhoaks.id, stophoax.id, dan turnbackhoax.id.

Selain itu, mencermati konten secara menyeluruh dan tidak berhenti pada judul. Kemudian bisa pula dengan melakukan aduan konten negatif. Kementerian Kominfo menerima laporan dan aduan terkait indikasi konten hoaks, disinformasi, dan/atau konten negative lainnya melalui kanal-kanal berikut: aduankonten.id dan Whatsapp 08119224545;  Patroli Siber Kominfo; Aduan K/L atau Institusi Pemerintahan lainnya.

Hadir sebagai narasumber kedua, Direktur P2PML yang juga Jubir Vaksin Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia, M Epid, memaparkan Strategi Komunikasi Vaksinasi Covid-19.

Sepanjang masa pandemi, kata dr Siti Nadia, perilaku pencegahan Covid-19 belum konsisten dan belum sepenuhnya menjadi bagian dari norma masyarakat seperti praktik 3M sebagai perilaku kunci kurang dari 35 persen. Tingkat pengetahuan tentang gejala dan penularan Covid-19 di Indonesia masih termasuk rendah (kurang dari 15 persen) dan efikasi diri dalam menghadapi pandemi ini juga rendah (34 persen).

Paparan akses rendah (kurang dari 30 persen) terhadap sumber-sumber informasi yang kredibel, misalnya, tenaga kesehatan, ilmuwan/pakar, dan informasi resmi dari WHO. “Tidak itu saja, sebanyak 74 persen mengetahui tentang vaksin, 65 persen bersedia menerima vaksin jika disediakan pemerintah dan 8 persen menolak,”tukasnya.

Menurut dr Siti Nadia, ada tiga komponen penting dalam komunikasi risiko, yakni Bicara. Pihak berwenang, pakar, dan tim respons harus cepat menyampaikan informasi tentang dasar kejadian dan tindakan perlindungan yang dapat dilakukan orang. Kemudian,  Dengar. Para responden, pakar, dan pihak berwenang harus cepat menilai dan memahami ketakutan, kekhawatiran, persepsi, dan pandangan mereka yang terkena dampak.

Dan Kelola rumor. Wabah penyakit sering disertai dengan adanya desas-desus palsu dan informasi yang salah.

Dalam diskusi daring yang berlangsung selama 1 jam 30 menit, dr Siti Nadia juga menyampaikan Pembagian Kelompok Sasaran (Wave I) yang divaksin. Selain itu, juga menjelaskan rambu-rambu komunikasi untuk mengenali dan menghentikan hoaks serta edukasi anti hoaks. Semua informasi mengacu pada: web kemkes.go.id, covid19.go.id dan Call Center (119/1500567). Jika ada keraguan terhadap suatu isu dapat menghubungi PIC Koordinator per wilayah. (nos)

Teks foto :

1.Diskusi daring Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI).

2.Jika ingin mengetahui informasi yang benar tentang Covid-19 bisa merujuk pada akun media sosial resmi Covid-19.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising
Pemadam Kebakaran
Surabaya Pusat
031-3533843-44
Surabaya Utara
031-3712208
Surabaya Timur
031-8411113
Surabaya Barat
031-7490486
Surabaya Selatan
031-7523687
Rumah Sakit & Klinik
RSUD Dr. Sutomo
031-5020079
RS Darmo
031-5676253
RS ST Vincentius A Paulo
031-5677562
RS William Booth
031-5678917
RS Adi Husada
031-5321256
Kepolisian
Polda Jatim
(031) 8280748
Polrestabes
(031) 3523927