Pendidikan

K3 Masih Sulit Dibudayakan di Tempat Kerja

13-02-2018

Surabaya, beritasurabaya.net - Meskipun pemerintah terus mendorong perusahaan menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), bahkan membuat undang-undang mengenai K3, hingga saat ini K3 masih sangat sulit dibudayakan di tempat kerja. Angka kecelakaan kerja masih relatif tinggi.

Hal ini diungkapkan Kepala Disnakertrans Provinsi Jawa Timur, Setiajit, pada Seminar K3 dengan tema “Behaviour Based Safety”, Senin (12/11/2018) kemarin, di Grha Dewaruci, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya. Seminar yang digelar Asosiasi Ahli Keselamatan Kerja (A2K3), bekerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Propinsi Jawa Timur (Disnakertrans Prov Jatim) dan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) merupakan penutup rangkaian acara di bulan K3 Nasional Tahun 2018 yang dipusatkan di Jawa Timur.

Setiajit mengatakan pekerja dan perusahaan belum berperilaku dan berpikir K3 ketika bekerja, bekerja tidak sesuai SOP, bekerja tidak sesuai kompetensi, kebiasaan bekerja yang salah dan merasa berpengalaman. “Contohnya, masih banyak operator boiler yang harusnya lulusan minimal D3, diisi lulusan SMA bahkan SD. Nah, ini yang sering menjadikan pekerja tersebut memiliki resiko kecelakaan kerja lebih tinggi,”ungkapnya.

Di sisi lain, tukas Setiajit, K3 selalu dianggap cost (biaya). Untuk itu, perlu diubah paradigma tersebut. K3 harus dianggap kebutuhan dan investasi.

Direktur PPNS, Eko Julianto, juga menambahkan bahwa budaya K3 harus dibangun sedini mungkin. “K3 masih belum jadi budaya. Seringkali kita lihat banyak pengendara motor tanpa helm dan tidak mematuhi lalu lintas. Kalau kita ingin K3 jadi budaya, K3 harus dikenalkan dan dibiasakan dari kecil. Bisa diajarkan dari usia TK dan SD,”ungkap Eko.

PPNS juga menciptakan lulusan K3 demi terpenuhinya kebutuhan “1 perusahaan minimal memiliki 1 ahli K3”. SDM yang memahami tentang K3 akan membantu para perusahaan, industri, dan masyarakat luas dalam menciptakan lingkungan yang aman.

Selain menghadirkan pembicara dari sisi pemerintah, seminar K3 ini juga mengadirkan dua pembicara dari kalangan praktisi. Mereka adalah Dr. Bambang Murtjahjanto, M.Sc.,P.E. seorang International QHSE Consultant dan Soehatman Ramli, M.B.A dari World Safety Organization Indonesia Office dan dosen di Binawan Health Institute. Acara ini dihadiri lebih dari 500 peserta yang terdiri dari pengawas, pelaku industri, dan mahasiswa dari berbagai kampus . (nos)

Teks foto :

Seminar K3 dengan tema “Behaviour Based Safety”, Senin (12/11/2018) di Grha Dewaruci, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising