Pendidikan

ITS Tawarkan Inovasi Teknologi Keselamatan Maritim

10-07-2018

Surabaya, beritasurabaya.net - Gelaran Maritime Safety International Conference (MASTIC) 2018 yang diadakan Departemen Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya masih berlangsung, Selasa (10/7/2018), di Bintang Resort, Kuta, Bali. Pada hari kedua ini, sebagai keynote speaker dari ITS, giliran Prof Dr Ir Ketut Buda Artana ST MSc menjelaskan perihal menjaga keselamatan operasi kapal dan instalasi kelautan.

Ia mengatakan, keselamatan lalu lintas laut telah menjadi isu penelitian penting di beberapa tahun terakhir karena tingginya angka kecelakaan maritim, terutama pada kasus tabrakan kapal laut. “Berdasarkan data statistik Lloyd's List Intelligence Casualty Statistics, kerugian tertinggi yang diakibatkan kecelakaan kapal pada rentang tahun 2007-2016, terdapat di Laut China Selatan, Indochina, Indonesia termasuk di dalamnya dan juga Filipina,” ungkap pria lulusan S3 Kobe University, Jepang ini.

Indonesia sebagai negara yang masih memiliki angka kecelakaan maritim yang tinggi, Ketut mencontohkan permasalahan yang terjadi di Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) sebagai akses menuju pelabuhan terbesar kedua di Indonesia, yakni Tanjung Perak. APBS dikenal sebagai jalur padat lalu-lintas laut. Serta terdapat banyak instalasi pipa minyak dan gas milik berbagai macam perusahaan.

“Yang menjadi masalah adalah risiko terjadinya kecelakaan kapal yang melibatkan pipa-pipa tersebut,” ujarnya.

Menurut Ketut, pipa bawah laut yang berada di wilayah APBS yang hanya berjarak sekitar 100 meter di bawah permukaan laut sangat berisiko, jika ada kapal karam dan akhirnya mengenai pipa. Atau juga ketika jangkar diturunkan dapat mengenai pipa bawah laut tersebut dan mengakibatkan dampak yang lebih besar.

“Seperti contoh kasus di teluk Balikpapan beberapa bulan lalu, jangkar kapal yang terbawah arus mengenai pipa minyak milik PT Pertamina dan menyebabkan kebakaran besar,” kata Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS ini.

Untuk itu, sebagai institusi pendidikan yang menjadi poros maritim di Indonesia Timur, seperti yang diketahui, ITS telah mengembangkan sebuah solusi global untuk meminimalisasi kemungkinan bahaya-bahaya tersebut dengan teknologi yang sudah dipublikasikan yaitu Automatic Identification System ITS (AISITS), di depan para pemerhati dunia maritim global.

Inovasi sistem peringatan dini pada dunia kemaritiman yang berhasil dikembangkan bersama Kobe University, Jepang ini dapat menampilkan data secara real time sebuah peringatan dini jika kapal mendekati zona bahaya. “AISITS akan mengirim alarm peringatan jika ia (kapal, red) memasuki zona bahaya jika di bawah kapal terdapat instalasi kelautan seperti pipa atau kabel bawah laut,” paparnya.

Untuk itu, imbuh pria yang juga menjabat Wakil Rektor IV Bidang Inovasi, Kerjasama, Kealumnian, dan Hubungan Internasional ITS ini, AISITS merupakan sebuah solusi yang sangat bagus jika bisa diterapkan nantinya di seluruh Indonesia atau bahkan dunia.

Menanggapi hal itu, Prof Masao Furusho dari Kobe University, Jepang mengusulkan agar ke depannya AISITS dapat dikembangkan dengan menggunakan virtual buoy. Pasalnya, biaya produksi bila dibandingkan menggunakan real buoy, jauh lebih murah menggunakan virtual buoy. “Virtual buoy juga merupakan sebuah terobosan baru di dunia maritim untuk ke depannya,” jelas Prof Furusho.

Ketut juga mengatakan, pada konferensi tingkat dunia ini, AISITS juga mendapatkan sambutan hangat Vice President Seashore Martime Service Limited, Kanada, Darell Hawkins Ia memiliki niatan untuk bekerjasama dan penelitian lebih lanjut dengan ITS atas teknologi AISITS ini agar dapat diterapkan di perusahaannya nantinya.

MASTIC 2018 secara resmi ditutup malam ini dengan memberikan penghargaan di kategori Best Paper dan Best Presenter bagi para pemakalah Penghargaan ini sebagai apresiasi telah menyambungkan ide dan gagasan mereka untuk meningkatkan keamanan maritim dunia. Di hari terakhir Rabu (11/7/2018) besok, para peniliti akan diajak berkeliling Bali untuk melihat kearifan lokal daerah yang juga menjadi poros wisata maritim dunia ini. (nos)

Teks foto :

Kiri-kanan : Prof Dr Ir Ketut Buda Artana MT MSc, Dr M Dhimas Widhi Handani Ketua Panitia, dan moderator Prof Ir I Ketut Arya Pria Utama MSc PhD.

Foto : Humas ITS.

Advertising
Advertising