Pendidikan

Doktor ITS Cetuskan BehavEx Model

06-03-2020

Surabaya, beritasurabaya.net - Menuju status kelas dunia, banyak peneliti dari perguruan tinggi di Indonesia berlomba mempublikasikan penelitiannya agar terindeks secara internasional. Tren inilah yang membuat mahasiswa doktoral Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Diana Purwitasari, melakukan riset mengenai kinerja dan kepakaran peneliti untuk disertasinya.

Diana menuturkan bahwa pemerintah Indonesia sedang gencar mendorong kultur publikasi guna meningkatkan iklim riset. Tak ayal, hal itu karena posisi Indonesia yang dianggap tertinggal jauh dengan negara lain dalam mempublikasikan jurnal ilmiah maupun seminar internasional.

Riset untuk disertasinya ini disampaikan dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor, akhir Februari lalu. Dalam rangka meningkatkan hasil penelitian berdaya saing tinggi, kata Diana, Indonesia berupaya memperbaiki pembangunan berkelanjutan (SINTA).

SINTA sendiri hadir sebagai pengukur kinerja peneliti, jurnal, maupun institusi terkait dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih lanjut, penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) 2016 ini memaparkan bahwa sebenarnya fitur SINTA telah dilengkapi dengan skor kinerja peneliti dari indeks Scopus dan Google Cendekia.

Namun serupa H-indeks, SINTA masih berfokus pada jumlah publikasi dan sitasi. “Jika diteliti, H-indeks beberapa peneliti melonjak drastis sehingga kurvanya tidak normal,” ungkap Diana sembari menyajikan kurva hasil penelitiannya.

Ibu satu anak ini menganggap bentuk kurva yang tidak normal itu patut dicurigai sebagai indikator adanya kartel sitasi. Kartel sitasi terjadi karena sitasi berlebihan yang bahkan tidak lagi dilakukan perorangan, tetapi berkelompok yang mengakibatkan meningkatnya H-indeks tersebut.

Dalam praktiknya, menurut Diana, kartel sitasi dapat terjadi melalui dua pendekatan. Yang pertama adalah gift authorship, yakni membujuk untuk disitasi pada teman maupun kolega. Sedangkan yang kedua melalui pendekatan coercif, yakni paksaan.

“Topiknya sebenarnya tidak seratus persen sama atau tidak terlalu berdekatan, tapi karena satu dan lain hal kemudian ada nama yang dimasukkan atau disitasi,” tutur perempuan yang menuntaskan program masternya di Saga University, Jepang ini.

Diana melanjutkan, ada masalah lain yaitu berubahnya ketertarikan seseorang terhadap bidang yang diteliti (interest change). Bahwasanya memang benar, minat seseorang dapat berubah dari waktu ke waktu karena pengaruh peneliti lain, apalagi jika dilakukan kolaborasi berkelanjutan. Untuk itu diperlukan suatu instrumen yang dapat mengukur kepakaran seseorang terhadap suatu bidang tertentu.

Dilatarbelakangi masalah-masalah tersebut, Diana akhirnya melaksanakan penelitian Behaviour for Expertise (BehavEx) Model. BehavEx Model ini merupakan sistem pengindeks kinerja kepakaran yang dilengkapi dengan metode pengukuran kinerja yang memperhitungkan motivasi peneliti dari kultur atau behaviour (perilaku) publikasi di bidangnya.

“Penelitian ini dilakukan untuk meneliti kebiasaan menulis dan bukan kontennya. Kontennya juga diteliti, tapi bukan secara kualitas melainkan konsistensi konten itu sendiri dari tiap tahunnya,” terang perempuan berhijab ini.

Diana menyatakan, BehavEx Model memiliki 17 fitur yang salah satunya adalah fitur dinamitas produktivitas dan behaviour (eksplorasi atau konsistensi). Tahapan yang diperlukan ada empat, mulai dari identifikasi topik (clustering), analisis jaringan peneliti, ekstraksi fitur, hingga memeringkatkan kepakaran (rank expertise).

Sebelum menutup orasi ilmiahnya, Diana menyimpulkan bahwa BehavEx Model dapat mengekstraksi fitur yang berfokus pada perubahan bidang penelitian dan tidak terlalu berfokus pada sitasi. Karena kelebihan ini pula, Dr I Ketut Eddy Purnama dari tim penguji menggadang-gadang BehavEx Model ciptaan Diana agar dapat diterapkan di ITS nantinya.

Menanggapi hal tersebut, Diana mengungkapkan kesiapannya dalam menganalisa lebih lanjut sebelum diterapkan di ITS. Ia berharap, BehavEx Model ciptaannya dapat diterapkan di lingkup ITS terlebih dahulu sebagai percontohan. “Kalau sudah oke, bisa diangkat ke nasional,” tandasnya. (ra/nos)

Teks foto :

Diana Purwitasari ketika menyampaikan presentasi disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Departemen Teknik Elektro ITS.

Foto : Humas ITS.

Advertising
Advertising