Pendidikan

Mahasiswa ITS Gagas Inovasi Olah Sampah Organik

15-10-2020

Surabaya, beritasurabaya.net - Tiga mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi, Fakultas Vokasi yang tergabung dalam tim SansBoss yang mengusulkan inovasi teknologi untuk mengolah sampah organik rumah tangga. Mereka mengembangkan teknologi control suhu dan kelembaban berbasis Internet of Things (IoT) guna mengembangbiakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Larva lalat itulah yang kemudian digunakan mengolah sampah organic skala rumah tangga.

Dijelaskan oleh Ketua Tim SansBoss, Achmad Maulana Ali Ulumuddin, kegiatan rumah tangga selalu menyisakan sampah-sampah organik seperti sisa bahan makanan. Sampah sejenis itu bahkan tidak jarang menimbulkan bau tak sedap dan mencemari lingkungan.

“Bahkan, timbunan sampah organic juga menjadi tempat hidup para serangga berbahaya,” ungkapnya.

Alan, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa sebelumnya budidaya lalat BSF telah dimanfaatkan untuk pengolahan sampah organik di Indonesia. Larva BSF dapat mendegradasi sampah organik dengan mengekstrak energi dan nutrient dari sampah sayuran, sisa makanan, bangkai hewan, dan kotoran sebagai bahan makanannya.

Hal ini menggerakkan Alan bersama dua rekannya, yakni Evan Yudha Pratama dan Gita Marcella Khoirun Nissa, untuk mempelajari berbagai artikel ilmiah mengenai metode pengolahan sampah tersebut. Meski mudah dikembangbiakkan, mereka menemukan fakta bahwa larva BSF jauh lebih aktif pada kondisi yang hangat.

“Saat kondisi lingkungan tepat, maka larva BSF mampu mendegradasi sampai dengan 80 persen jumlah sampah organik yang diberikan,”paparnya.

Dikatakan Alan, larva BSF akan bertumbuh dengan optimal pada temperature sekitar 29-33° C dan tingkat kelembapan sekitar 29-33 persen. Mengingat kondisi cuaca di Indonesia yang tidak menentu, ketiganya merancang inovasi teknologi yang mampu mengatur tempat budidaya larva lalat BSF agar selalu dalam kondisi optimal.

“Sehingga larva mampu berkembang dengan aktif dan memakan sampah organik dalam jumlah besar dengan cepat,” jelas mahasiswa angkatan 2017 ini.

Berbekal ilmu otomasi dan system kontrol yang didapat di bangku perkuliahan, mereka melengkapi inovasi yang dinamai KOMBO ini dengan sensor suhu, sensor kelembapan udara, dan exhaust fan. Sehingga, dapat dilakukan mekanisme control otomatis terhadap suhu dan kelembapan tempat budidaya.

“Alat ini juga dilengkapi dengan system IoT, sehingga pemantauan kondisi tempat budidaya dapat dilakukan dari jarak jauh melalui aplikasi gawai,” tambahnya.

Tidak sia-sia, inovasi yang dituangkan dalam judul KOMBO: Sistem Kontrol Otomatis Berbasis IoT untuk Budidaya Maggot Black Soldier Fly sebagai Upaya Pemanfaatan Sampah Organik dan Pengganti Bahan Pakan Ternak ini berhasil mendapatkan pengakuan tingkat nasional. Dibawah bimbingan dosen, Herry Sufyan Hadi ST MT, inovasi ini menyabet juara kedua dalam ajang Research and Development Competition (RnDC) 2020 yang diselenggarakan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), beberapa hari lalu. (fat/nos)

Teks foto :

Anggota tim Sansboss ITS, Gita Marcella Khoirun Nisa, menunjukkan rancangan KOMBO.

Foto : Humas ITS.

Advertising
Advertising