Pendidikan

Inovasi-nose c-19 ITS Diuji Cobakan Di RSI Surabaya

22-02-2021

Surabaya, beritasurabaya.net - Perjalanan alat inovasi canggih untuk skrining Covid-19, i-nose c-19, masih terus berlanjut. Alat yang dikembangkan oleh guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD dan tim dalam tahapan penambahan sampel untuk proses uji profiling.

Dalam rangka penambahan sampel, Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD dan tim melakukan penyerahan empat alat i-nose c-19 di RumahSakit Islam (RSI) Jemursari Surabaya, Senin (22/2/2021).

Selain bersama tim, profesor yang akrab disapa Ryan ini juga ditemani oleh Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITS Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA dan Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Agus Muhamad Hatta ST MSc PhD. Tidak ketinggalan, hadir pula Direktur Utama RSI Jemursari dr Bangun Trapsila Purwaka SpOG-K. Peresmian penyerahan alat dan uji profiling ini juga ditujukan pada RSI Ahmad Yani, Surabaya.

Dalam sambutannya, Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA mengungkapkan bahwa ini merupakan bagian dari perjalanan i-nose c-19. Setelah didemokan di Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), saat ini berlanjut untuk melangkah ke tahap selanjutnya, yakni pengambilan sampel dan melakukan pengujian di beberapa rumah sakit.

Selain di RSI Jemursari dan RSI Ahmad Yani, tim i-nose c-19 juga telah bekerja samadengan RSUD dr Soetomo dan National Hospital. “Inovasi baru bisa punya makna ketika sudah bisa dipakai di publik, untuk itu ini saatnya buat i-nose diujikan ke publik,”tutur mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 2009-2014 ini.

Sebagai Principal Inventor, Ryan juga menyampaikan perhatiannya pada masa pandemi yang menuntut untuk segera menghadirkan inovasi baru sebagai bentuk usaha bertahan di situasi ini. Namun, ia menambahkan bahwa untuk menghidupkan inovasi tidaklah mudah, tanpa penelitian yang lanjut maka bisa tertinggal dengan yang lain.

“Sama halnya dengan alat skrining Covid-19, yang semakin hari semakin banyak macam dan metodenya dari rapid antigen sampai PCR,” jelasnya.

Namun, guru besar Teknik Informatika ITS ini menegaskan bahwa inovasi alat skrining Covid-19 melalui bau keringat ketiak ini bukan sebagai pengganti tes swab PCR.Tetapi hanya alat skrining atau deteksi awal Covid-19 sebelum seseorang melakukan swab PCR dan sebagai alternative untuk mempercepat proses skrining.

“Cara kerjai-nose c-19 pun berbeda dengan rapid test berbasis antibody maupun rapid antigen,” papar Ryan.

Tidak hanya sampai di situ, ia melanjutkan bahwa i-nose c-19 saat ini keefektifannya sudah mencapai minimum 91 persen. “Diharapkan dengan semakin banyaknya sampel yang diujicobakan pada alat ini nantinya semakin dapat membantu keakuratannya,” ungkapnya.

Mengingat, i-nose c-19 mendeteksi bau yang berasal dari Volatile Organic Compound (VOC) yang terdapat dalam keringat ketiak, pengambilan sampel dilakukan dengan menghisap bau keringat melalui selang kecil. Kemudian disalurkan ke deretan sensor (sensor array) pada i-nose c-19. Setelah itu, gas bau tersebut  diubah menjadi sinyal listrik dan diolah menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Karena itu, dibutuhkan banyak ujicoba dengan berbagai macam orang dengan kondisi tertentu, seperti orang yang terkena penyakit TBC namun negative covid, orang yang positif covid namun tidak ada gejala dan lain-lain. Dalam hal ini akan menambah keakuratan dan keefektifan dari alat tersebut.

Penyerahan hibah i-nose c-19 ini mendapatkan sambutan baik dari pimpinan RSI. Dirut RSI Jemursari dr Bangun Trapsila Purwaka SpOG-K menyadari bahwa Covid-19 telah mempengaruhi seluruh dunia. Begitu juga seluruh dunia sedang berlomba untuk menggalakkan inovasi guna mendeteksi virus ini.

“Dengan tes swab PCR yang ada sebenarnya sudah mudah bagi masyarakat untukmengetahuinya,” katanya.

Namun ia mengatakan, tidak semua orang bisa mengeluarkan biaya untuk melakukan tes yang harganya masih terhitung mahal ini. Hal tersebut bisa disimpulkan bahwa diagnosis dengan cari ini masih menjadi masalah.

“Dengan hadirnya i-nose c-19 ini luar biasa menjawab kebutuhan, juga sudah memenuhi kaidah skrining sehingga bisa dipakai untuk massa,” tandasnya.

Nantinya, empat alat i-nose c-19 ini akan diletakkan diruang rawat inap dua unit dan di ruang rawat jalan dua unit. Karena ini untuk mendukung penelitian dari i-nose c-19, menurut Bangun, untuk pengaplikasiannya nanti, orang-orang yang akan dites harus sudah di-swab PCR terlebih dulu.

Hal ini berlaku untuk pasien dari luar maupun dari RSI sendiri. “RSI beruntung bisa diikutsertakan dalam penelitian ini. Ke depannya diharapkan bisa dijadikan tools karena murah dan cepat,” ucapnya bahagia.

Direktur DRPM ITS, Agus Muhamad Hatta ST MSc PhD atau yang akrab disapa Hatta juga turut memberikan rasa terimakasihnya kepada pihak RSI yang sudah menjadi katalis yang baik bagi pengembangan  i-nose c-19. “Diharapkan selama proses pengujian ini bisa berjalan dengan baik dan nantinya bisa sesuai dengan yang diinginkan,” ungkap Hatta penuh harap. (fat/nos)

Teks foto :

Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA saat mengecek hasil dari i-nose c-19 melalui fitur scan barcode.

Foto : Humas ITS.

Advertising
Advertising