Ekonomi & Bisnis

Garuda Rugi Besar, Perlu Solusi Komprehensif

10-08-2017

Jakarta, beritasurabaya.net - PT. Garuda Indonesia (Persero) terus merugi dan muncul tanda kebangkrutan bila tidak ada solusi kongkret. Hal ini tercermin dari hasil laporan keuangan Garuda Indonesia yang mencatatkan kerugian sebesar USD 283,7 juta atau sekitar Rp. 3,8 triliun.

Angka tersebut meningkat hingga 200 persen dari kerugian pada kuartal pertama sekitar USD99,0 juta atau setara  Rp. 1,319 triliun. Ketua Bidang Organisasi Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Anggawira, Kamis (10/8/2017), menyarankan ke depannya harus ada solusi komprehensif agar tidak terus merugi.

Ongkos operasional penerbangan Garuda Indonesia, disebutkan oleh Anggawira, mencapai lebih dari dari Rp. 16 triliun lebih tinggi dari kuartal pertama sebesar Rp. 8 triliun. “Hingga saat ini kami melihat biaya bahan bakar merupakan sumber terbesar biaya operasional dengan presentase di atas 50 persen kemudian disusul dengan biaya pembelian pesawat, reparasi, pembayaran asuransi yang semua dihitung menggunakan kurs dollar USD sementara produk jasa penerbangan domestiknya dijual dengan nilai rupiah,” papar Anggawira.

Tingginya ongkos operasional rupanya juga berpengaruh pada hutang Garuda Indonesia yang nilainya cukup besar. Untuk hutang jangka pendek di kuartal kedua total hutang mencapai USD1,891 juta sedangkan hutang jangka panjang sebesar USD1,163 juta .

Sementara di kuartal sebelumnya tercatat USD1,798 juta untuk hutang jangka pendek dan USD1,174 juta untuk hutang jangka panjang. “Hutang yang membelit Garuda Indonesia harus menjadi konsen pemerintah,”imbuh Anggawira.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mencatat kerugian bersih (net loss) selama semester pertama 2017 sebesar USD283,8 juta. Di luar non-recurring expense, total kerugian bersih perseroan mencapai USD138 juta. (nos)

Advertising
Advertising