Ekonomi & Bisnis

Pengakses SID Rata-Rata 20-30 Orang, SLIK 139

09-01-2018

Surabaya, beritasurabaya.net - Jumlah pengakses Sistem Informasi Debitur (SID) Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur sebelum pengalihan fungsi sepenuhnya kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 1 Januari 2018, terus meningkat. Rata-rata perhari di kisaran 20 hingga 30 orang.

Hal ini ditegaskan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah, dalam Bincang-Bincang Media (BBM), Selasa (9/1/2018), yang juga dihadiri Kepala OJK Regional IV Jawa Timur, Heru Cahyono.

Difi menjelaskan SID merupakan tempat memperoleh informasi tentang kesehatan kredit seseorang yang biasa digunakan perbankan atau lembaga jasa keuangan untuk mempertimbangkan seseorang layak menerima kredit atau tidak. Pengalihan fungsi ke OJK, juga sesuai amanat UU No 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan. Pengalihan fungsi tersebut telah melalui masa transisi sejak 31 Desember 2013.

”Dengan pengalihan fungsi tersebut, Bank Indonesia menghentikan operasional dan layanan SID kepada seluruh Pelapor SID dan masyarakat sejak 31 Desember 2017. Selanjutnya, pengelolaan sistem informasi perkreditan hanya dilaksanakan OJK melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK),”tambahnya.

Sementara itu, Kepala OJK Regional IV Jawa Timur, Heru Cahyono mengatakan sejak SLIK dikelola per 1 Januari 2018, cukup banyak. Mulai tanggal 2 hingga 8 Januari tercatat 139 orang yang meminta layanan SLIK.

”Mereka yang datang ada yang meminta informasi dan komplain. Informasi yang diberikan melalui SLIK yakni informasi debitur (iDeb) melalui aplikasi iDeb Viewer berjalan lancar dan sesuai dengan jaringan komputer yang tersedia,”paparnya.

SLIK merupakan infrastruktur penting di sektor jasa keuangan yang dapat digunakan oleh pelaku industri untuk mitigasi risiko, khususnya risiko kredit sehingga dapat membantu menurunkan tingkat risiko kredit bermasalah. Selain itu, keberadaan SLIK juga mampu mendukung perluasan akses kredit/pembiayaan.

Manfaat bagi kreditur, sebut Heru, antara lain, membantu dalam mempercepat proses analisis dan pengambilan keputusan pemberian kredit; menurunkan risiko kredit bermasalah di kemudian hari dan dapat mengurangi atau meminimalkan ketergantungan Pelapor atau pemberi kredit kepada agunan konvensional.

Bagi debitur atau masyarakat umum, Heru menjelaskan, keberadaan SLIK dapat dimanfaatkan untuk mengetahui data kredit perbankan seperti data pokok debitur, plafon kredit, baki debet, kualitas kredit, beban bunga, cicilan pembayaran serta denda atau penalti pinjaman. SLIK juga bisa memberikan informasi mengenai status agunan serta rincian penjamin kredit.

Sedangkan manfaat SLIK bagi masyarakat, akan mempercepat waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh persetujuan kredit. Bagi nasabah baru, khususnya yang tergolong sebagai Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), akan mendapat akses yang lebih luas kepada pemberi kredit dengan mengandalkan reputasi keuangannya tanpa harus tergantung pada kemampuan untuk menyediakan agunan.

Jumlah LJK yang telah menjadi pelapor SLIK per Desember 2017 berjumlah 1.648 yang terdiri dari Bank Umum, BPR, BPRS, Lembaga Pembiayaan, LJKL (kecuali Lembaga Keuangan Mikro), dan koperasi simpan pinjam. Jumlah pelapor tersebut akan meningkat mengingat cakupan pelapor wajib pada SLIK akan lebih luas, yakni BPR, BPRS, dan perusahaan pembiayaan yang belum menjadi pelapor, wajib menjadi pelapor SLIK paling lambat tanggal 31 Desember 2018.

Perusahaan Modal Ventura, Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur (PPI), dan pergadaian yang belum menjadi pelapor, wajib menjadi pelapor SLIK paling lambat tanggal 31 Desember 2022. Sedangkan Lembaga Keuangan Mikro, Peer to peer lending, serta Lembaga lain di luar LJK seperti Koperasi Simpan Pinjam dapat menjadi pelapor SLIK apabila telah memenuhi syarat dan mendapat persetujuan oleh OJK. (nos)

Teks foto :

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah (kiri) dan Kepala OJK Regional IV Jawa Timur, Heru Cahyono (kanan) saat menjelaskan soal pengalihan fungsi SID ke SLIK.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising