Ekonomi & Bisnis

BI Petakan UMKM Konvensional Menuju Syariah

12-12-2018

Surabaya, beritasurabaya.net - Bank Indonesia (BI) terus berupaya petakan UMKM di Indonesia dari UMKM konvesional menuju UMKM syariah yang menghasilkan produk halal. Ini seiring dengan pengembangan mata rantai produk halal menembus pasar ekspor.

Kepala Departemen Pengembangan UMKM BI, Yunita Resmisari pada Bincang-Bincang Media “Penguatan Halal Value Chain, Rabu (12/12/2018), di Grand City Convex, menjelaskan, pemetaan ini dilakukan dengan penerapan prinsip halal oleh UMKM yang dimulai dari bahan baku, bagaimana prosesnya dan sumbernya.

Setelah itu, capacity building UMKM melalui pelatihan-pelatihan. “ Ini untuk menambah kapasitas UMKM agar mereka tetap bertahan dalam menjalankan prosedur halal. Selain itu, menjaga agar UMKM terbiasa dengan membangun infrastruktur yang sesuai dengan penerapan prinsip syariah,”tukas Yunita.

Begitu UMKM sudah terbiasa memproduksi produk halal, kemudian masuk tahapan pembiayaan syariah. “Jadi dari hulu sampai hilir harus jelas prosedurnya dan setelah itu dihubungkan dengan pasar. Dan ini sangat penting untuk mendorong terus menerus kapasitas produksinya,”tambahnya.

Berapa jumlah UMKM yang sudah mengantongi sertifikasi halal, Yunita mengakui, belum ada data pasti mengingat saat ini masih dalam tahapan proyek percontohan. Bahkan BPS juga belum memiliki datanya.

Kenapa UMKM konvensional harus digiring menjadi UMKM syariah, ini tak lain, karena potensi pasar produk halal untuk diekspor sangat besar. Pasar domestik juga cukup menggiurkan bagi penembangan produk halal.

”Kami melihat ada potensi yang bisa diambil dalam mengembangkan produk halal. Negara-negara mayoritas non muslim juga membutuhkan hal yang sama karena produk halal sudah menjadi bagian lifestyle, seperti halnya gaya hidup back to organic. Gaya hidup halal tidak hanya menyehatkan diri sendiri tapi juga lingkungan,”ungkapnya.

Pasar-pasar tradisional yang menjadi potensi ekspor produk halal Indonesia, Yunita menyebut, ASEAN. Di luar ASEAN, Asia Tengah seperti Turki, Turkmenistan. Sedangkan Eropa, Inggris juga berpotensi menjadi pasar produk halal dari Indonesia.

Untuk negara Inggris ini, kata Yunita, sedang dijajaki produk kopi bersertifikasi halal. Dengan label halal, mereka lebih yakin dengan prosesnya.

Penjajakan ini prosesnya cukup panjang mengingat selera orang Inggris untuk kopi adalah varian blend atau campuran dan bukan single original. Mereka minta ekspor yang benar-benar biji kopi.

”Nah, yang menjadi persoalan adalah kalau biji kopi nilainya tidak setinggi jika sudah diolah jadi bubuk. Kopi bubuk ini jumlah mereknya mencapai ratusan yang ada di Indonesia,”tukasnya.

Selain kopi, bumbu-bumbu masakan sangat diminati negara-negara ASEAN, kemudian disusul produk fashion.

Operation Manager PT Cahaya Pasifik Raya Pabrik Kopi Inspirasi dengan merek Dohar, Turangga Kopi Ijo khas Tulungagung, Feliyana Saridewi, mengatakan, usaha kopinya baru berjalan 2 tahun. Meski demikian, produknya sudah bersertifikasi halal dan terstandarisasi.

Sejak awal membangun bisnis kopi, kata Feliyana, fokusnya ke pasar ekspor. “Business Matching ini baru pertama kali ikut. Produk kopi kami secara kualitas bisa diandalkan termasuk kemasannya,”tegasnya.

Pabrik kopi memproduksi kopi dengan merek Dua Roda yang memproduksi biji kopi. Sedangkan merek Dokar membidik segmen menengah atas dengan beragam kemasan seperti kopi sachet maupun kemasan besar.

Untuk kopi sachet biasanya untuk memasok warung-warung di Tulungagung pada tahun pertama. Saat ini, sudah merambah pasar Surabaya, Sulawesi, Kalimantan, dengan penjualan konsep reseller. Kopi dengan kemasan besar dijual di toko oleh-oleh baik di Tulungagung maupun di Surabaya.

Pabrik kopi yang dimiliki ini, tambah Feliyana, berkapasitas produksi 800 kilogram untuk digoreng. Sedangkan yang grinding tidak sebesar yang digoreng. Pabrik dilengkapi dengan 3 mesin packing.

”Di business matching ISEF ini, kami bisa belajar banyak, spek seperti apa yang diinginkan buyer. Kami sangat terbantu dengan kegiatan ini mengingat produk kami layak ekspor dan lengkap perijinannya,”pungkasnya. (nos)

Teks foto :

Operation Manager PT Cahaya Pasifik Raya Pabrik Kopi Inspirasi, Feliyana Saridewi, dengan contoh produknya yang dipamerkan di ISEF 2018.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising