Ekonomi & Bisnis

Nadzir Didorong Bersertifikasi, Dompet Dhuafa IPO

12-12-2018

Surabaya, beritasurabaya.net - Forum Wakaf Produktif (FWD) terus mendorong para nadzir yang belum punya ijin legalitas untuk segera mengurus legalitas. Bahkan yang belum bersertifikasi, bisa mengikuti program sertifikasi yang dilaksanakan Badan Wakaf Nasional dan Bank Indonesia.

Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal FWD, Abdul Ghofur, pada press conference ISEF 2018 ini mengambil tema “Strengthening National Economic Growth : The Creation of Halal Value Chains and Innovative Vehicles”, Rabu (12/12/2018).

Abdul Ghofur mengatakan FWD merupakan perkumpulan para nadzir yang sampai saat ini sudah beranggotakan 22 nadzir dari seluruh Indonesia. Para nadzir tersebut seluruhnya sudah bersertifikasi dan terstandarisasi.

”Para nadzir rata-rata profesional management training dengan pendidikan S1 dan S2. Mereka dididik menjadi amin nadzir. Jika ada nadzir yang belum bersertifikasi dan terstandarisasi, kami akan membantu dengan memberikan pelatihan dan sebagainya,”ujar Abdul Ghofur.

Para nadzir yang tergabung di FWD, sebut Abdul Ghofur, mengelola wakaf uang. Dalam pengelolaan wakaf, rata-rata mampu menghasilkan wakaf surplus antara Rp500 juta hingga Rp2 miliar setahun.

Yang terbesar wakaf surplusnya yakni Dompet Dhuafa sebesar Rp3 miliar setahun. “Pengelolaan dari wakafnya bisa dimanfaatkan untuk membangun rumah sakit, lapangan sepak bola, futsal, kebun, dan sebagainya,”tukasnya.

Abdul Ghofur menegaskan para nadzir ini adalah orang-orang yang memiliki social entreprenur yang mengumpulkan dana wakaf. Mereka orang-orang yang rela membagi keuntungan dari pengelolaan wakaf, yang dilakukan secara profesional.

”Di luar negeri, social entreprenuer adalah hal yang biasa dimiliki oleh orang-orang yang peduli dengan sesama. Bahkan mengirimkan dananya ke negara lain. Di Indonesia, bisa dipraktekan mirip dengan nadzir. Yang tidak dimiliki oleh negara lain, justru BMT (Baitul Man Tanwil) bentuk dari micro finance yang sangat kuat di negara kita. Jumlahnya sekitar 500 an dan juga menyalurkan dana bantuan,”paparnya.

Pada kesempatan yang berbeda di National Waqf Caring Day - ISEF 2018, Dirut Dompet Dhuafa, Imam Rulyawan, dalam paparannya “Wakaf Sejahterakan Bangsa Melalui Jejaring Pelayanan Kesehatan”, mengatakan, sebenarnya wakaf ini merupakan solusi yang konkrit untuk mengelola kesejahteraan bangsa. Ia mengutip pendapat mantan Gubernur BI, Agus Martowardoyo, bahwa hanya ada dua syariah yang bisa membuat bangsa ini sejahtera yakni zakat dan wakaf.

Dompet Dhuafa sendiri memiliki sertifikat Wakaf Nadzir dan sertifikat Nadzir Wakaf Uang. Dalam pengelolaan wakaf yang dijalankan dengan mitranya, Dompet Dhuafa membagi menjadi tiga jenis wakaf yakni wakaf aset, wakaf saham dan wakaf berjangka.

Dompet Dhuafa memilih menjadi Nadzir wakaf uang dengan pertimbangan pengelolaan dana wakaf di Indonesia masih relatif rendah dibanding negara lain. Data tahun 2007, menunjuukan Indonesia baru mengelola dana wakaf sekitar 2 persen sja. Sedangkan Singapura kelola dana wakaf 98 persen.

Padahal Indonesia disebut negara paling dermawan, mudah dan gampang berdonasi dan tidak pandang bulu siapa orang. Bangsa Indonesia punya jiwa volunter yang tinggi.

”Jika pengelolaan dana wakaf masih rendah, tentunya sosialisasi, edukasi, dan komunikasi harus digencarkan agar zakat dan wakaf menjadi bagian gaya hidup setiap orang,”tukasnya.

Dompet Dhuafa memilih jejaring pelayanan kesehatan bagi kaum dhuafa dalam ikut sejahterakan bangsa ini, dengan pertimbangan, potensi pasar yang bisa digarap dimana jumlah orang miskin masih cukup besar di Indonesia. Menurut data BPS, jumlah orang miskin 26 juta, sementaran faktanya mengacu data kelompok penerima bantuan iuran BPJS tercatat lebih dari 90 juta jiwa.

Dari data Menteri Kesehatan, di 2018 saja dana program kesehatan sebesar Rp80 triliun. Dari Rp80 triliun tersebut, Rp25 triliun diantaranya, dikucurkan untuk kelompok penerima bantuan iruan premi BPJS.

Pada 2019 ketika universal health coverage harus dijalankan, potensi dana berputar Rp269 triliun dan mampu berkontribusi menciptakan 2,3 juta lapangan kerja. Dipredikai dari total penduduk Indonesia, 169 juta diantaranya jadi peserta BPJS Kesehatan yang akan dilayani oleh 25.854 fasilitas kesehatan.

”Meskipun yang kami layani adalah para duafa, namun tetap mengacu pada standar pelayanan kesehatan umum. Dan tidak membuat biaya operasional rumah sakit jadi defisit, karena kami juga harus mencari keuntungan dengan memberlakukan unit cost sejak 2014, menerima pasien Jamkesda, Jamkesmas,”tambah Imam.

Dana yang ada di Dompet Dhuafa, sebut Imam, sebesar Rp78 miliar (dari seluruh unit usaha), keuntungan konsolidasi bersih dari 5 rumah sakit yang dikelola Dompet Dhuafa Rp1,6 miliar dan dana titipan BPJS Kesehatan sebesar Rp30 miliar. Jumlah donatur Dompet Dhuafa dari 1993 hingga saat ini sebanyak 200 ribu orang.

Dompet Dhuafa berencana melakukan Initial Public Offering (IPO) pada 2019. “Kami ingin mengetahui apakah kami mampu memberikan servis yang lebih baik daripada perusahaan lain yang sudah ber-IPO. Karena usaha-usaha yang kami lakukan base on waqf, perusahaan yang padat modal dan padat karya,”ujarnya.

Target lainnya, kata Imam, pada 2021 mendatang, Dompet Dhuafa ingin melayani 5 juta pasien Dhuafa dengan menyediakan 5 ribu tempat tidur. Artinya, di 2021, Dompet Dhuafa ingin memiliki 50 rumah sakit, 2000 klinik satelit, 50 apotek, 25 Optik dengan 39.300 sumber daya manusia.

”Dari sisi pencapaian dan pertumbuhan pasien per Oktober 2018 naik 41 persen dibanding periode yang sama di 2017. Kami akan melayani pasien Dhuafa di rumah sakit Dompet Dhuafa dengan servis layanan bintang 5,”pungkasnya. (nos)

Teks foto :

Dirut Dompet Dhuafa, Imam Rulyawan, dalam diskusi “National Waqf Caring Day”.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising