Ekonomi & Bisnis

Hadapi Tantangan, BPRS Diminta Lebih Adaptif

24-06-2019

Batu, beritasurabaya.net - Sebagai bagian dari sistem keuangan di Indonesia, industri perbankan syariah khususnya BPRS tidak lepas dari berbagai tantangan yang dihadapi. Tantangan dan tingkat kompetisi yang dihadapi oleh industri BPR/S saat ini cenderung semakin ketat dengan berkembangnya perusahaan Fintech, Lembaga Keuangan Mikro (LKM), serta layanan Laku Pandai dan program KUR dengan bunga 7 persen.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kepala OJK Regional IV Jawa Timur, Heru Cahyono, menekankan, bahwa BPRS di Jawa Timur harus mampu lebih adaptif dan kreatif dalam menyusun berbagai strategi bisnis, baik strategi dalam menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat maupun strategi dalam menjalankan kegiatan operasional bank se-efektif dan se-efisien mungkin.

Revolusi industri 4.0 telah merubah paradigma masyarakat dunia dan banyak menawarkan peluang bagi perbankan dan hal tersebut harus ditangkap oleh BPRS. “Oleh karena itu, kami berharap agar pengembangan strategi bisnis yang dilakukan oleh BPRS di Jawa Timur bukan hanya berfokus pada produk yang dipasarkan (product based) namun bergeser (shifting) pada ide-ide untuk melakukan kolaborasi mengembangkan platform bersama (platform based), baik dengan sesama BPRS dalam satu industri, maupun berkolaborasi dengan Bank Umum Syariah atau lembaga jasa keuangan syariah lainnya seperti asuransi syariah, fintech syariah dan LKM Syariah,”papar Heru pada “Evaluasi Kinerja dan Capacity Building BPRS” periode Semester I tahun 2019, Senin (24/6/2019), di Hotel Golden Tulip, Batu.

OJK Kantor Regional IV Jawa Timur selalu mendorong dan mendukung upaya-upaya sinergi dalam pengembangan industri keuangan syariah yang diwujudkan dalam bentuk peluncuran tabungan berencana gerakan menabung milenial (Tabungan Gaul iB) pada 21 Mei 2019 di Hotel JW Marriot Surabaya. Tabungan yang digagas oleh Kantor OJK Regional IV Jawa Timur dan dikembangkan bersama dengan ASBISINDO Kompartemen BPRS Jawa Timur ini merupakan produk simpanan berbasis digital banking yang spesifik  dipasarkan oleh BPRS di Jawa Timur untuk segmen milenial, khususnya pelajar SLTA dan  Mahasiswa.

Selain itu, pada hari ini OJK Kantor Regional IVJawa Timur meluncurkan APEX BPRS-Bank Jatim Syariah. Lembaga APEX diharapkan dapat menjadi pooling of Funds untuk membantu BPRS di Jawa Timur mengatasi kesulitan likuiditas karena mismatch, menjadi wholesale financing BPRS, dengan menyediakan pembiayaan linkage serta pembiayaan dana bergulir, menjadi clearing house untuk keperluan payment system BPRS dengan menggunakan Jatim Electronic Transfer System (JETS), serta memberikan pelatihan dan pendampingan kepada BPRS.

”Kami peduli dengan kesiapan BPRS dalam mengimplementasikan regulasi mengenai tata kelola, manajemen risiko, fungsi kepatuhan dan fungsi audit intern. BPRS didorong untuk segera memenuhi kebutuhan SDM, menyusun kebijakan dan prosedur serta meningkatkan kapasitas infrastruktur teknologi informasi.,”tukasnya.

Hal penting lainnya yang juga dibahas dalam eveluasi yang dihadiri Pemegang Saham, Direksi, Komisaris dan Dewan Pengawas Syariah dari 27 BPRS se Jawa Timur, yakni pentingnya modal bank sebagai risk buffer dan pemenuhan ketentuan permodalan, Heru Cahyono berharap agar BPRS dapat mengantisipasi dan mengupayakan sejak dini kewajiban pemenuhan modal inti minimum yang harus dipenuhi pada akhir tahun 2020, terutama bagi BPRS dengan modal inti kurang dari Rp3 miliar dan Rp6 miliar. (nos)

Teks foto :

Evaluasi Kinerja yang digelar OJK KR IV kali ini mengangkat tema “Meningkatkan Daya Saing BPRS Melalui Inovasi dan Sinergi di Era Revolusi Industri 4.0”.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising