Ekonomi & Bisnis

PermataBank Edukasi Nasabah Soal Esensi Kaya

13-09-2019

Surabaya, beritasurabaya.net - PermataBank secara konsisten memberikan edukasi nasabah melalui acara tahunan “Wealth Wisdom” sejak 2014 di Jakarta. Wealth Wisdom ini sebuah perspektif yang berbeda mengenai esensi dari kekayaan yang sesungguhnya, yang membahas mengenai perkembangan literasi keuangan, investasi dan isu terkini.

Pada tahun 2019 ini, tidak hanya digelar di Jakarta (14-15 Agustus 2019), saja tapi juga di Surabaya. Mengangkat tema besar ”Mindfully Wealthy in 21st Century”, PermataBank berharap setiap pengunjung nantinya dapat terinspirasi dan memaksimalkan kualitas hidup, kekayaan dan kebahagiaan mereka dengan kembali memiliki konsep mindful.

Dalam media gathering, Jumat (13/9/2019), Retail Banking Director PermataBank, Djumariah Tenteram, mengatakan, Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia dan menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan nasabah PermataBank Priority terbanyak. Sebagai apresiasi atas adanya pencapaian tersebut, Wealth Wisdom Surabaya ingin memberikan sebuah perspektif baru menyikapi era percepatan secara lebih baik sehingga kesehatan mental dan fisik tetap terjaga.

”PermataBank menyadari bahwa di era percepatan seperti saat ini, informasi mengenai pengelolaan “kekayaan” yang tepat harus disajikan dalam cara yang semakin relevan bagi masyarakat masa kini. Mengusung tema Mindfully Wealthy in 21st Century, PermataBank ingin memberikan kontribusi dalam bentuk sebuah paparan menarik akan pentingnya perkembangan literasi keuangan, memperhatikan keseimbangan gaya hidup, penggunaan teknologi serta menerapkan konsep mindful dalam keseharian untuk mendapatkan sebuah kualitas hidup yang lebih baik,”paparnya.

Head, Marketing Communication PermataBank, Glenn Ranti, menjelaskan, tema besar yang diangkat berangkat dari sebuah riset Wealth Wisdom Study yang telah dilakukan PermataBank di tiga kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Surabaya dan Medan. PermataBank melihat adanya sebuah perubahan dasar yang signifikan, dimana terjadi transisi kebiasaan masyarakat metropolitan cenderung memiliki tingkat stres yang lebih tinggi.

Di era percepatan saat ini nampaknya tidak lengkap jika tidak adanya sentuhan internet dalam perkembangannya, didapatkan data saat ini konsumsi internet di Indonesia mencapai 12 jam 30 menit dalam keseharian. Internet disadari atau tidak menimbulkan efek kecanduan bagi penggunanya.

”Era percepatan ini juga membuat 3 dari 4 orang terbiasa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu waktu, tentunya hal ini dilakukan untuk mempercepat apapun yang sedang ingin dicapai,”tukas Glenn.

Kecanduan menggunakan internet diimbangi dengan adanya perkembangan platform teknologi yang mumpuni, tanpa disadari kedua hal tersebut membuat masyarakat modern menjadikannya sebagai “teman setia” dalam keseharian. Mirisnya hal ini berpengaruh kepada tingkat intimasi kepada sesama, hampir 70 persen orang menggunakan smartphone pada saat makan bersama keluarga. Hal ini membuat kehangatan berkumpul bersama orang tercinta perlahan menjadi memudar.

Data lainnya, media sosial juga tidak lepas dari keseharian masyarakat Indonesia yang gemar berbagi kabar lewat jaringan internet, didapatkan data sebanyak 62 persen masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan untuk menggunakan media sosial setidaknya 4 jam dalam sehari. Media sosial menjadi salah satu lini komunikasi yang terbukti efektif dalam menyebarkan informasi.

Namun dampak lain yang timbul dari efektifitas media sosial ini adalah tren FOMO (Fear Of Missing Out), yang menyebabkan 2 dari 3 orang sebisa mungkin akan melakukan berbagai aktifitas yang sedang kekinian. Secara tidak langsung tren ini menimbulkan rasa ketakutan ketinggalan sesuatu yang sedang tren dimasanya.

Berbagai kondisi tersebut, kata Glenn, membuat masyarakat modern harus benar-benar bisa bijak menyikapi semua hal yang terjadi di era percepatan saat ini untuk dapat mempertahankan kualitas hidupnya. Jangan sampai setiap perkembangan yang ada tidak disikapi dengan tepat sehingga menyebabkan kondisi kesehatan mental dan fisik menjadi terganggu, terlebih membuat makna dari kekayaan yang dimiliki pudar secara perlahan.

”PermataBank memaknai kekayaan menjadi enam pilar yakni money, relationship, social giving, health, spirituality, dan experience. “Enam pilar tersebut yang membuat PermataBank percaya, bahwa ada faktor lain yang perlu dijaga selain materi dalam memaknai kekayaan yang sesungguhnya. PermataBank lewat Wealth Wisdom ingin memberikan sebuah kontribusi nyata akan pentingnya sebuah konferensi yang memberikan dampak positif kepada pengunjungnya mengenai isu terkini,”tambahnya.

Regional Head East Java, Wijani Tjendro, mengatakan, Wealth Wisdom di Surabaya, digelar Sabtu (14/9/2019) besok,  menghadirkan kelas-kelas yang komprehensif dan edukatif dengan rangkaian pembicara yang kompeten dibidangnya yakni Ben Soebiakto, Lilis Setiadi, Levina Faby, Wibowo Mujiono, Jhonny Thio Doran, Daniel Sunyoto, Arief Wana dan Risen Yan Piter. Pesertanya sendiri adalah nasabah dan komunitas.

”Jumlah nasabah PermataBank di Jawa Timur sebanyak 200.000. Sedangkan yang akan mengikuti acara besok di kisara 1200 orang. Kegiatan ini murni bentuk apresiasi buat nasabah karena kami ingin nasabah PermataBank bisa terinspirasi paparan narasumber dan memaknai esensi dari kekayaan yang sesungguhnya, bukan cuma dari materi saja,”pungkasnya. (nos)

Teks foto :

Kiri-Kanan : Direktur Retail Banking PermataBank, Djumariah Tenteram; Regional Head East Java of PermataBank, Wijani Tjendro dan Head of Marketing Communication PermataBank, Glenn Ranti.

Foto : Titin.

Advertising
Advertising