Ekonomi & Bisnis

Kinerja RFB Surabaya Meningkat 17.45 Persen

11-10-2019

Surabaya, beritasurabaya.net - Kinerja PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) Cabang Surabaya sepanjang Januari hinggga September 2019, mampu mencetak kinerja yang cukup positif. Ini terbukti dengan total volume transaksi sebanyak 128.237 lot atau tumbuh 17,45 persen dibandingkan tahun lalu di posisi yang sama.

Pertumbuhan kinerja transaks, disampaikan Pimpinan Cabang RFB Surabaya, Leonardo, di sela media gathering di Kantor RFB Surabaya, Jumat (11/10/2019), ditopang oleh kontribusi volume transaksi bilateral sebanyak 89.959 lot dan multilateral sebanyak 28.278 lot.

Sementara itu, hingga kuartal III tahun ini, total nasabah baru yang berhasil dihimpun sebanyak 237 nasabah, atau naik 23,44 persen dibandingkan kuartal III tahun 2018 sebanyak 192 nasabah. “Layanan yang memuaskan kepada nasabah dengan tim yang solid, mendorong kinerja pertumbuhan nasabah baru terus positif,”tandas Leonardo.

Pada kesempatan yang sama, Leonardo juga memberikan edukasi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) dan Produk Derivatif Indeks. Kegiatan ini merupakan rangkaian program edukasi RFB untuk lebih mendekatkan produk investasi berjangka kepada masyarakat agar mengenal peluang dan risikonya

Leonardo menjelaskan, industri berjangka komoditi dimulai dari perdagangan beras di Dojima, Jepang pada tahun 1710. Lalu berkembang sistem forward di Amerika Serikat sampai terbentuk Chicago Board of Trade (CBOT) dan bertumbuh bursa-bursa berjangka komoditi lainnya di berbagai negara.

Selanjutnya, di Indonesia, didirikan PT. Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) pada tahun 1999 yang memiliki misi dan fungsi utama sebagai sarana price discovery, sarana hedging, dan sarana investasi terhadap komoditi di Indonesia dari perubahan kurs.

”Selain BBJ, institusi lain yang terlibat sebagai penyelenggara investasi di Perdagangan Berjangka adalah PT. Kliring Berjangka Indonesia (KBI) yang berfungsi melakukan proses kliring pada setiap transaksi perusahaan pialang berjangka yang menjadi anggotanya,”paparnya.

Topik edukasi lainnya terkait produk derivatif Indeks. Leonardo menjelaskan bahwa kontrak produk derivatif di industri berjangka komoditi terbagi dua yakni multilateral, seperti kontrak berjangka olein, kopi, kakao, timah dan bilateral yang terbagi tiga yakni, kontrak berjangka locogold, forex dan index.

Untuk saat ini, ujar Leonardo, ada indeks Hanseng dan Indeks Nikkei. Pergerakan produk derivatif ini termasuk high risk, high return. Semua posisi harus diperhitungkan dengan cermat dengan memperhitungkan analisis fundamental dan teknikal.

"Meski indeks memiliki peluang keuntungan yang cukup baik, namun harus diakui saat ini kontrak berjangma emas merupakan primadona seiring kenaikkan tren harga emas yang positif dalam beberapa waktu terakhir,"pungkasnya. (nos)

Advertising
Advertising