Ekonomi & Bisnis

Tekan Investasi Bodong, 10 Tahun Capai Rp92 Triliun

22-10-2020

Surabaya, beritasurabaya.net - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mengedukasi kepada masyarakat untuk menekan kasus investasi ilegal alias bodong. Masih terus berjatuhan korban akibat investasi bodong di Tanah Air dan menjadi tantangan bagi pemerintah termasuk OJK.

Dalam kurun waktu 10 tahun dari 2009 hingga 2019, kasus investasi ilegal nilainya mencapai Rp92 triliun. Hal ini disampaikan Kepala Departemen Penyidikan Sektor Jasa Keuangan OJK sekaligus Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L Tobing, dalam Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2020, Kamis (22/10/2020).</p>

Sebagai regulator di bidang investasi, OJK akan hadir dan memberikan perlindungan yang optimal bagi masyarakat dari ancaman investasi ilegal tersebut. Surabaya, beritasurabaya.net - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mengedukasi kepada masyarakat untuk menekan kasus investasi ilegal alias bodong. Masih terus berjatuhan korban akibat investasi bodong di Tanah Air dan menjadi tantangan bagi pemerintah termasuk OJK.

Dalam kurun waktu 10 tahun dari 2009 hingga 2019, kasus investasi ilegal nilainya mencapai Rp92 triliun. Hal ini disampaikan Kepala Departemen Penyidikan Sektor Jasa Keuangan OJK sekaligus Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L Tobing, dalam Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2020, Kamis (22/10/2020).</p>

Sebagai regulator di bidang investasi, OJK akan hadir dan memberikan perlindungan yang optimal bagi masyarakat dari ancaman investasi ilegal tersebut. Investasi ilegal atau bodong saat ini semakin beragam. Sepanjang ada kegiatan menyangkut uang dan merugikan masyarakat saat ini didefinisikan sebagai investasi ilegal.

Tongam L Tobing menyampaikan, ada beberapa permasalahan yang terjadi pada investasi ilegal. Pertama, investasi ilegal selalu menjanjikan keuntungan yang tidak wajar dalam waktu cepat.

"Contoh MeMiles dengan top up Rp7 juta kita dapat Fortuner, top up Rp12 juta dapat Alphard, ini banyak sekali yang ikut, tidak masuk akal, justru tidak masuk akal itu jadi challenge bagi mereka,"ujarnya.

Kedua, investasi ilegal kerap menjanjikan bonus dari adanya perekrutan anggota baru. Padahal, dalam perdagangan bonus akan diperoleh jika semakin banyak barang yang dijual dan investasi ilegal justru semakin banyak anggota semakin banyak bonus yang didapatkan.

Selain itu, lanjut Tongam, investasi ilegal sering memanfaatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, bahkan selebriti untuk menarik perhatian masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan menonjolkan testimoni dari tokoh tersebut dan dapat menarik perhatian.

Keempat, investasi ilegal kerap mengklaim produk investasinya tanpa risiko dan ini tidak masuk akal. Terakhir, legalitas yang dimiliki tidak ada, seperti tidak memiliki izin usaha, izin produk, izin kegiatan. (nos)

Advertising
Advertising