Ekonomi & Bisnis

Per 30 September 2020, Maybank Raih Laba Rp1,1 Triliun

27-10-2020

Jakarta, beritasurabaya.net - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia atau Bank) hari ini umumkan laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) tetap sama yakni sebesar Rp1,1 triliun per 30 September 2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.  Pengelolaan biaya secara disipilin, disertai dengan pertumbuhan yang solid di bisnis Syariah dan peningkatan pendapatan non bunga membantu mengurangi dampak volatilitas, disrupsi pasar dan total kredit yang lebih rendah sebagai akibat wabah Covid-19.

Laba sebelum pajak (PBT) turun sedikit sebesar 6,1 persen menjadi Rp1,5 triliun. Pendapatan non bunga Bank turun sebesar 7,1 persen menjadi Rp 1,7 triliun per September 2020.

Tahun lalu, Bank menyertakan pendapatan one-off dari penyelesaian arbitrase domestik sebesar Rp101,0 miliar dan pendapatan terkait pajak sebesar Rp68,7 miliar. Sejalan dengan itu, pendapatan non bunga rutin untuk sembilan bulan meningkat sebesar 2,2 persen terutama berasal dari fee terkait Global Market, bancasurrance, investasi dan transaksi e-channel. 

Fee terkait Global Market melonjak 85,3 persen menjadi Rp518,3 miliar pada September 2020, sementara fee Bancassurance dan Wealth Management terus bertumbuh dan membukukan peningkatan 26,7 persen menjadi Rp210,6 miliar dari Rp166,2 miliar tahun sebelumnya. 

Profil pendanaan Bank terus menguat dengan rasio CASA meningkat dari 36,4 persen pada September 2019 menjadi 39,7 persen pada September 2020, didukung kenaikan rekening giro 13,4 persen dan rekening tabungan 5,9 persen.  Rasio Kredit terhadap Simpanan/Loan to Deposit (LDR bank saja) berada pada tingkat yang sehat sebesar 80,7 persen, sementara rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR bank saja) tercatat sebesar 178,6 persen per September 2020, jauh di atas ketentuan minimum sebesar 100 persen.

Bank memberikan fokus pada transformasi digital yang tengah berjalan dengan meningkatkan dan menyempurnakan layanan digital banking.  Meskipun masih dalam tahap awal proses transformasi, digital banking telah mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam akuisisi nasabah dan jumlah serta volume transaksi. 

Transaksi finansial yang dilakukan melalui aplikasi Maybank2U (M2U) meningkat 132 persen menjadi 7,8 juta transaksi selama kuartal pertama hingga kuartal ketiga 2020. Sementara lebih dari 60.000 rekening tabungan/simpanan dibuka dan lebih dari 76.000 rekening didaftar melalui M2U.

M2U tidak hanya memberikan proses pembukaan rekening yang mudah tetapi juga cepat, serta menawarkan fitur gaya hidup yang bebas repot dan nyaman digunakan seperti QR Pay, KYC digital untuk pembukaan rekening baru, saluran donasi, dan fitur menarik lainnya.

Sebagaimana dialami industri perbankan, Bank mencatat penurunan Pendapatan Bunga Bersih sebesar 8,4 persen menjadi Rp5,6 triliun yang terutama disebabkan oleh total outstanding pinjaman dan imbal hasil yang lebih rendah sebagai akibat dari penurunan suku bunga, serta dampak dari proses restrukturisasi pinjaman yang sedang berlangsung untuk nasabah yang terdampak pandemi. 

Marjin Bunga Bersih/Net Interest Margin sebesar 4,69 persen per September 2020 dibandingkan 4,97 persen pada September 2019. Bank mampu mengelola biaya overhead secara efektif dan mencatat penurunan sebesar 9,0 persen menjadi Rp4,4 triliun pada September 2020 sehubungan inisiatif pengelolaan biaya yang berkelanjutan di seluruh organisasi ditambah dengan pengurangan biaya umum dan administrasi sehubungan dengan pelaksanaan inisiatif work from home selama pandemi.

Tingkat Non-Performing Loan (NPL) Bank berada pada 4,3 persen (gross) dan 2,8 persen (net) per September 2020 dibandingkan 2,6 perses (gross) dan 1,5 persen (net) per September 2019.  Hal ini terutama disebabkan oleh lebih rendahnya total outstanding kredit pada September 2020 dan dampak situasi pandemi saat ini yang mempengaruhi beberapa rekening. 

Bank terus menempuh langkah proaktif untuk membantu nasabah menghadapi tantangan dan fokus pada restrukturisasi kredit untuk menjaga kualitas aset.  Langkah ini mulai memperlihatkan penurunan NPL (gross) secara kuartalan menjadi 4,3 persen pada September 2020 dibandingkan 5,0 persen pada Juni 2020.  Bank telah sepenuhnya menerapkan standar akuntansi baru PSAK 71 atau IFRS 9 yang berlaku mulai tahun ini.

Posisi modal Bank tetap kuat dengan Rasio Kecukupan Modal/Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 23,5 persen pada September 2020 dibandingkan dengan 20,1 persen tahun lalu dan total modal sebesar Rp26,7 triliun pada September 2020.

Perbankan Syariah

Laba sebelum pajak Perbankan Syariah naik sebesar 35,1 persen menjadi Rp332,2 miliar di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan.  Hal ini didukung oleh fokus berkelanjutan yang dilakukan untuk meningkatkan pendanaan yang lebih efisien dan mengurangi simpanan berbiaya tinggi.  Total simpanan nasabah naik 4,2 persen menjadi Rp27,5 triliun pada September 2020.

Total pembiayaan Perbankan Syariah (termasuk portofolio Kafalah) meningkat 1,9 persen menjadi Rp25,4 triliun pada September 2020.  Sementara, total aset per September 2020 naik 7,2 persen menjadi Rp35,8 triliun dibandingkan Rp33,4 triliun tahun lalu, menyumbang 20,2 persen total aset Bank.

Sehubungan dampak pandemi Covid-19 yang mulai terasa sejak kuartal kedua 2020, Bank telah secara ketat memantau asetnya di semua segmen bisnis dan pada saat yang sama secara proaktif mengikutsertakan debitur untuk menilai dampak tersebut terhadap bisnis mereka. 

Untuk memastikan kualitas aset secara efektif, Bank telah menawarkan bantuan finansial sesuai kebutuhan debitur berdasarkan penilaian yang dilakukan. Bank telah melibatkan hampir semua debitur Non-Ritelnya untuk menilai apakah restrukturisasi dan penjadwalan ulang (restructuring & rescheduling/R&R) diperlukan untuk memastikan bahwa mereka tetap dapat menjalankan bisnis secara berkelanjutan. 

Bank juga telah menyederhanakan proses dan memfasilitasi debitur ritel untuk mengajukan R&R secara online melalui email, melalui call center atau website resmi. Hingga saat ini, Bank telah menyetujui pinjaman R&R untuk lebih dari 30.000 debitur dengan total pinjaman Rp15,8 triliun.

President Director of Maybank Indonesia Taswin Zakaria, mengatakan, wabah yang belum pernah terjadi sebelumnya telah mempengaruhi kinerja industri perbankan, termasuk Maybank.  Pencapaian kinerja ini mencerminkan kondisi menantang yang dialami di mana beberapa langkah yang diperlukan telah dan terus akan ditempuh untuk mencegah dampak lebih lanjut dari situasi sekarang. 

“Kami akan terus mengambil langkah proaktif untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut terhadap portofolio kami dari gangguan pandemi sementara pada saat yang sama meraih peluang bisnis melalui layanan digital banking kami yang kini mulai menunjukkan hasil yang positif.  Kami akan tetap waspada atas kualitas aset kami melalui sikap yang prudent dan pendekatan manajemen risiko yang ketat dengan mencari cara untuk melibatkan nasabah kami dalam memberikan dukungan yang diperlukan untuk memastikan keberlanjutan bisnis mereka,”paparnya.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia dan Group President & CEO Maybank, Datuk Abdul Farid Alias mengatakan, pihaknya berbesar hati meskipun menghadapi sembilan bulan yang penuh tantangan tahun ini, Maybank Indonesia berhasil menjaga kinerjanya secara stabil dan menunjukkan ketangguhan menghadapi dampak pandemi.

Meskipun outlook ke depan masih dibayangi ketidakpastian, ia yakin modal dan likuiditas yang kuat yang telah dibangun akan membantu mengatasi tantangan di kuartal mendatang.  “Pengalaman kami sejauh ini juga telah memberi kami kesempatan untuk membentuk kembali bisnis kami sementara penekanan kami dalam membangun kemampuan digital telah memberi kami platform untuk melayani nasabah dengan lebih baik dalam keadaan new normal, dan diharapkan memberi kami sumber pendapatan tambahan di masa depan,”pungkasnya. (nos)

Advertising
Advertising