IT & Seluler

Kunci Data Pakai Teknologi Enkripsi

06-08-2017

Jakarta, beritasurabaya.net - Masa depan keamanan dunia ada pada enkripsi. Permintaan kontrol dan proteksi pada aset informasi dan data perusahaan melonjak secara drastis.

Adopsi enkripsi di berbagai perusahaan secara global telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ponemon Institute, jumlah perusahaan yang menerapkan enkripsi meningkat dari 15 menjadi 37 persen antara tahun 2005-2016.

Sementara, jumlah perusahaan yang tidak menggunakan enkripsi mengalami penurunan cukup signifikan dari 38 persen menjadi 15 persen selama periode yang sama. Tren penggunaan enkripsi ini meningkat seiring dengan semakin tingginya angka ancaman siber tiap tahunnya, dengan kesalahan karyawan menempati urutan pertama sebagai ancaman utama terhadap data penting dan rahasia, diikuti kerusakan sistem dan peretas.

Tuntutan penggunaan enkripsi semakin besar mengingat Uni Eropa akan menetapkan General Data Protection Regulation (GDPR) mulai bulan Mei 2018 yang memaksa semua entitas bisnis di Eropa menggunakan enkripsi sebagai syarat perlindungan keamanan data. Regulasi ini ikut berlaku bagi perusahaan-perusahaan di luar Eropa apabila menjalin hubungan bisnis atau memiliki cabang usaha di benua biru tersebut.

Bagi pebisnis di tanah air mau tidak mau harus menerapkan enkripsi jika ingin dapat berbisnis atau mempertahankan jalinan usaha mereka dengan negara-negara Eropa. Perusahaan pengguna enkripsi memanfaatkan teknologi ini untuk berbagai keperluan.

Penerapan yang paling umum adalah database, komunikasi internet, hard drive laptop dan backup server. Data yang paling sering disimpan mencakup data karyawan dan SDM, data terkait pembayaran, kekayaan intelektual dan catatan keuangan. Adopsi enkripsi paling banyak tersebar di jasa keuangan, kesehatan dan farmasi, dan industri teknologi dan perangkat lunak.

Di tanah air, masih banyak perusahaan yang belum mengimplementasikan enkripsi sebagai bagian dari sistem keamanan mereka. Jadi tidak mengherankan jika menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika didukung Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, mengatakan bahwa hampir setiap hari Indonesia menerima 1.225 juta serangan siber dari berbagai negara seperti dalam kasus WannaCry, Fireball dan yang terbaru Petya.

Technical Consultant PT Prosperita-ESET Indonesia, Yudhi Kukuh, mengatakan, Indonesia harus segera memperhitungkan teknologi enkripsi untuk menjawab kebutuhan keamanan perusahaan melindungi data seperti di laptop atau komputer desktop, media penyimpanan removable, PDA, server email, atau jaringan perusahaan, termasuk melindungi data dalam transfer seperti email. Pengguna tidak akan lagi kuatir mengakses file dari mana pun dengan aman seperti dari kantor, rumah atau di jalan.

”Enkripsi akan melindungi data yang dicuri atau hilang, agar tidak mungkin dibaca karena dikodekan oleh mekanisme enkripsi. Kombinasi enkripsi data dengan penggunaan cloud storage atau external drive yang semakin marak digunakan dapat menjadi solusi ampuh dalam melakukan backup data,”ungkapnya.

Setiap kali terkoneksi dengan cloud storage saat menghidupkan komputer, file yang ada hanya dapat dibaca bila tahu kunci yang digunakan untuk membukanya. “Di sinilah peran enkripsi sangat berguna menangkal serangan dan human error yang sering terjadi,”tambah Yudhi. (nos)

Advertising
Advertising