IT & Seluler

10 Hal Yang Menjadi Lebih Baik Berkat Linux

01-03-2018

Jakarta, beritasurabaya.net - Tahun 2018 menandai 27 tahun perjalanan sejak Linus Torvalds membagikan iterasi pertama dari suatu sistem operasi (operating system/OS) gratis yang berawal dari hobi, yang dikembangkan melalui post Usenet singkat. Tentu saja, sistem operasi yang kemudian dikenal sebagai Linux ini kini telah berkembang melebihi sekedar OS ciptaan seseorang yang hobi komputer semata dan melahirkan gelombang inovasi yang secara signifikan mengubah lanskap TI.

Namun, yang lebih besar dari Linux (yang sebenarnya sudah cukup besar) adalah bahwa perubahan ini melahirkan gerakan open source. Komunitas-komunitas berisikan individu-individu dengan semangat serupa dapat dengan leluasa mengembangkan dan berbagi apa yang kemudian menjadi fondasi TI masa depan.

Seiring dengan perayaan ke-20 tahun terciptanya istilah open source, landasan dari open source, mulai dari transparansi dan kolaborasi hingga kebebasan dan penyebaran yang luas, telah menyebar jauh melampaui batas-batas teknologi enterprise dan memberi dampak besar baik bagi dunia teknologi konsumen maupun bagi iklim bisnis global pada umumnya.

Open source telah memengaruhi begitu banyak aspek sehingga sulit untuk memilih inovasi-inovasi mana saja yang paling penting. Berikut ini adalah 10 hal yang dipaparkan Corporate Communications, Red Hat, John Terrill, untuk menjadi lebih baik berkat Linux dan open source. Beberapa di antaranya mungkin tidak dapat lahir tanpa dukungan open source, sementara yang lain mungkin telah berevolusi karena kebutuhan.

1.Komputasi cloud, terdistribusi, di mana sumber daya komputasi tidak bersifat on-premise atau bahkan tidak dimiliki oleh perusahaan tertentu, tidak mungkin terjadi seperti yang kita ketahui sekarang tanpa adanya Linux dan open source. Skalabilitas dan fleksibilitas Linux memungkinkan banyak penerapan besar dapat benar-benar berjalan, sementara kendala biaya yang berkurang secara signifikan karena Linux menjadikannya lebih baik secara finansial.

2.Layanan on-demand. Sejalan dengan komputasi cloud adalah konsep layanan on-demand. Jika seorang pengembang membutuhkan VM atau jika Ops TI perlu menyediakan server, mereka berharap dapat melakukannya dengan cepat dan tanpa kendala. Skalabilitas Linux dan tidak adanya biaya perizinan yang mahal memungkinkan pengadaan yang cepat ini.

3.DevOps. DevOps telah masuk dalam daftar leksikon terminologi TI selama beberapa tahun belakangan, yang menawarkan penggambaran (dan hubungan kerja) yang lebih baik antara pengembang dan para profesional operasi TI. Berkat Linux dan dunia open source yang lebih luas, metodologi ini menjadi lebih jelas dan mudah diterapkan hampir setiap hari karena inovasi-inovasi yang berbasis Linux baru. Seperti container Linux, hadir untuk memungkinkan masing-masing tim agar fokus pada peran khusus mereka dan membatasi tumpang-tindih lingkup pekerjaan.

4.Komputasi hybrid. Perusahaan-perusahaan masa kini tidak perlu memilih antara cloud atau on-premise. Namun, mereka dapat memanfaatkan gabungan teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan infrastruktur mereka.

Tanpa Linux, lagi-lagi, sebagai basis yang stabil dan skalabel untuk gabungan layanan-layanan ini, komputasi hybrid tidak akan mungkin ada seperti yang kita ketahui saat ini. Perusahaan-perusahaan enterprise mungkin perlu memilih antara on-premise atau ter-host, dengan momok ketergantungan pada vendor yang akan terus menghantui pilihan apa pun yang mereka ambil.

5.IoT. Ledakan minat terhadap Internet of Things (IoT), yakni konsep suatu jaringan perangkat, baik besar maupun kecil, yang dapat “berinteraksi” satu sama lain demi operasi yang lebih efisien, mungkin tidak akan menjadi seperti sekarang ini tanpa adanya Linux. Sistem operasi Linux yang terpasang, yang hanya sebagian kecil dibandingkan  dengan ukuran sistem operasi yang lebih konvensional, menjadi sumber kekuatan dunia IoT, dan membuat penerapan kelas enterprise menjadi skalabel dan hemat biaya.

Tanpa Linux, IoT mungkin akan sangat menguras biaya atau akan mengalami ketergantungan pada satu vendor tunggal. Teknologi yang berkaitan erat dengan IoT adalah tren drone, robot terbang yang dikendalikan dari jarak jauh. Meskipun drone versi awal mengandalkan sistem operasi proprietary, ledakan tren drone didorong lebih jauh oleh Linux, yang menyediakan sistem operasi terpasang yang amat kecil yang diperlukan untuk menjalankan banyak perangkat tersebut sekaligus memungkinkan lebih banyak inovasi.

6.Analitik big data. Big data, istilah kolektif untuk kumpulan besar informasi yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan, dapat menjadi kunci terwujudnya operasi yang lebih efisien dan bahkan meningkatkan pendapatan dengan mengidentifikasi peluang-peluang baru. Namun, pertama-tama data tersebut harus dipilah terlebih dahulu, diuraikan dan dianalisis. Tool-tool analitik, yang banyak di antaranya bersifat open source, yang memproses luasnya ragam data tersebut membutuhkan suatu platform yang kuat dan skalabel, suatu platform yang mungkin tidak akan ada jika bukan karena Linux.

7.Perdagangan real-time. Kita terkadang menyepelekan transaksi-transaksi keuangan yang nyaris simultan karena kemampuan untuk mentransfer uang, melakukan perdagangan saham dan melakukan transaksi keuangan lainnya sesungguhnya secara fungsional merupakan layanan on-demand. Namun, semua ini mungkin tidak dapat terjadi tanpa adanya fungsionalitas real-time dari kernel Linux, yang mendukung lebih dari 50 persen transaksi keuangan dunia dan 100 persen bank-bank komersial dalam jajaran Fortune 500.

8.Amazon. Amazon Web Services saat ini nyaris identik dengan komputasi cloud publik. AWS kini memiliki lebih dari 1 juta pelanggan yang menggunakan rangkaian layanan on-demand AWS yang luas dan Linux merupakan komponen dasar dari platform AWS. Meskipun layanan serupa AWS mungkin dapat tetap terbayangkan tanpa Linux (misalnya para penyedia layanan internet di awal tahun 90an), struktur skala dan harga dari AWS akan sangat sulit untuk ditiru.

9.Google. Raksasa mesin pencarian online, periklanan dan cloud, Google, akan terlihat sangat berbeda tanpa adanya Linux dan teknologi-teknologi open source lainnya yang memperkuat infrastruktur mendasar perusahaan. Meskipun hal ini tidak berarti bahwa Google tidak akan ada tanpa Linux, namun kita mungkin akan kehilangan kontribusi Google terhadap dunia open source, termasuk Kubernetes, jika Linux tidak berfungsi sebagai pemersatu keadaan.

10.Android. Sebagai mobile fork Linux yang efektif, Android menyediakan platform mobile yang skalabel dan fleksibel untuk beragam format chipset dan telepon. Android menjadi semakin digemari (atau bisa dikatakan menyalip) sistem operasi proprietary seperti iOS dan Windows Mobile, serta menghadirkan ekosistem aplikasi dan layanan yang kuat bagi para pengguna, sebagaimana Linux yang merupakan induknya. Apakah sistem seperti Android bisa muncul tanpa Linux? Tentu saja bisa, namun tidak mungkin teknologi tersebut mampu mempertahankan kejayaan yang tengah Android nikmati di pasar konsumen saat ini. (nos)

Advertising
Advertising