IT & Seluler

Red Hat Rilis Program OpenShift Practice Builder

19-07-2018

Jakarta, beritasurabaya.net - Red Hat, Inc. (NYSE: RHT), penyedia solusi open source terkemuka di dunia, hari ini mengumumkan peluncuran Red Hat OpenShift Practice Builder Program di Asia Pasifik. Program ini bertujuan membantu integrator sistem (system integrator/SI) dalam mengembangkan dan memonetisasi pengembangan aplikasi cloud-native modern dan praktik pengiriman dengan menggunakan Red Hat OpenShift dan Red Hat JBossMiddleware.

Perusahaan seringkali mendorong inisiatif transformasi digital agar menjadi lebih inovatif dan membantu menghindari disrupsi. Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, perusahaan dapat memanfaatkan tool seperti cloud dan kontainer agar lebih cepat, mudah dan aman dalam mengembangkan dan menggunakan aplikasi modern yang dapat membantu mereka agar mampu mengungguli para pesaing.

Vice President of Asia-Pacific Partners and Alliances, Red Hat Asia Pasifik, Josep Garcia, Kamis (19/7/2018), menegaskan, integrator sistem merupakan kunci dalam membantu perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik berinovasi melalui pengembangan aplikasi cloud dan aplikasi berbasis kontainer baru, serta memodernisasi aplikasi-aplikasi yang telah ada. Integrator sistem global seperti Accenture, Atos, DXC, HCL, dan Wipro telah mengembangkan keterampilan dan solusi berbasis teknologi Red Hat guna memenuhi kebutuhan pelanggan mereka.

”Kami sangat antusias untuk menghadirkan Program Red Hat OpenShift Practice Builder guna membantu para integrator sistem di kawasan ini agar mampu dengan lebih cepat mengembangkan keahlian pada Red Hat OpenShift Container Platform, yang merupakan platform aplikasi container Kubernetes kelas enterprise yang paling komprehensif di industri ini,”ungkapnya.

Gartner memprediksi bahwa pada tahun 2020, lebih dari 50 persen perusahaan global akan menjalankan containerized application dalam produksi, yang meningkat dibandingkan kurang dari 20 persen saat ini. Program Red Hat OpenShift Practice Builder dirancang secara khusus untuk membantu integrator sistem dalam mengembangkan keahlian pada tool pengembang Red Hat OpenShift dan Red Hat JBoss Middleware, serta memungkinkan mereka untuk mengembangkan dan memodernisasi aplikasi untuk cloud guna membantu menghadirkan layanan baru dengan biaya yang lebih rendah dan mempercepat pengembangan demi pengembalian investasi yang lebih cepat.

Red Hat OpenShift Container Platform merupakan platform pengembangan aplikasi pemenang penghargaan yang menyatukan pengembang dan operasi TI pada platform tunggal untuk mengembangkan, menerapkan, dan mengelola aplikasi secara lebih konsisten di seluruh infrastruktur cloud hybrid. Misalnya, maskapai penerbangan internasional yang berbasis di Hong Kong, Cathay Pacific, yang telah mengganti infrastruktur lama mereka dengan stack cloud-native berbasis Red Hat OpenShift Container Platform dan Red Hat JBoss Enterprise Application Platform. Langkah ini telah memungkinkan Cathay untuk menciptakan platform yang lebih efisien dan skalabel guna mengembangkan dan menghadirkan layanan baru, sehingga memungkinkan Cathay untuk menciptakan pengalaman keseluruhan yang lebih baik bagi para pelanggan mereka.

Beberapa integrator sistem di Asia-Pasifik, termasuk NTT Data di Jepang, Wipro di India, Sino-Bridge di Tiongkok, serta Integral and ANATAS di Australia, telah terlibat dalam mengembangkan program ini. Program Red Hat OpenShift Practice Builder ini dirancang agar relevan dengan integrator sistem yang sudah ada maupun yang integrator sistem “born-in-the-cloud” (yang berkembang di cloud) yang membangun DevOps atau praktik pengembangan aplikasi modern.

Seperti disampaikan Technology and Innovation General Headquarters, NTT DATA, Hiroshi Tomiyasu. Dengan kelincahan dan fleksibilitas yang semakin dianggap penting dalam lingkungan bisnis yang tengah bergejolak saat ini, ia yakin bahwa kolaborasi yang kuat bersama Red Hat akan menjadi dasar bagi solusi-solusinya.

”Red Hat OpenShift Container Platform akan menjadi teknologi inti untuk membantu mendorong platform integrasi digital lama kami, yang bertujuan untuk membantu pelanggan dalam memigrasi aset-aset on-premise mereka ke cloud guna memaksimalkan nilai,”tukasnya.

Sementara Practice Head-Cloud, Compute and Storage SIMS, Wipro, Dominic Dsilva, mengatakan, para pelanggan menganggap Red Hat OpenShift berharga, tidak hanya dalam menyediakan distribusi Kubernetes yang stabil dan penuh dukungan, tetapi juga dalam menyediakan platform container kelas enterprise yang komprehensif dan tangguh. Dirinya sangat antusias untuk memulai kolaborasi dengan Red Hat guna menawarkan modernisasi aplikasi dan cara yang lebih berkelanjutan dalam menyediakan arsitektur yang dikembangkan sekali jalan dan diterapkan dalam lingkungan yang berbeda dengan Red Hat OpenShift.

”Saat ini, kami dapat memberikan penawaran kepada pelanggan dengan mendefinisikan kembali aspek infrastruktur hingga ke aplikasi. Hal ini dapat membuka kesempatan-kesempatan baru untuk layanan dalam hal konsultasi, serta migrasi ke cloud dan pengelolaan setelahnya,”ujarnya.

General Manager, Innovation Solution Department, Sino-Bridge, Cheng Yan Hua, melihat berbagai perusahaan enterprise di Tiongkok membuka diri untuk melakukan transformasi digital setelah adopsi dan industrialisasi TI selama bertahun-tahun. Ia percaya bahwa Red Hat OpenShift dapat memenuhi tantangan transformasi digital pelanggan dalam hal pengembangan aplikasi, operasi, otomatisasi, dan pemeliharaan.

”Platform ini memungkinkan pelanggan enterprise untuk menggunakan aplikasi cloud-native dengan lebih cepat dan fleksibel, sekaligus menyediakan ketersediaan yang lebih tinggi, fleksibilitas yang lebih besar, serta pengoperasian dan pemeliharaan yang lebih mudah. Sebagai mitra Red Hat di Tiongkok, Sino-Bridge akan membantu mempromosikan Red Hat OpenShift dan pelanggan kami agar berhasil bertransformasi,”tegasnya.

Practice Lead, DevOps, ANATAS, Iain Elliott, menambahkan ANATAS telah memutuskan untuk mengembangkan keberhasilan kolaborasi bersama Red Hat dengan menjadi salah satu anggota pendiri Program OpenShift Practice Builder karena ia melihat OpenShift dan kolaborasi sebagai pembeda utama. Red Hat OpenShift memungkinkan perusahaan untuk mengubah aplikasi-aplikasi enterprise berskala besar menjadi layanan mikro, sehingga memberikan kelincahan dan otonomi yang lebih besar bagi para pengembang untuk memberikan yang terbaik dan mengembangkan kemampuan baru dalam aplikasi mereka. (nos)

Advertising
Advertising