IT & Seluler

Lampaui Produktivitas, Waspada Keamanan Data

06-09-2018

Jakarta, beritasurabaya.net - Karyawan yang bekerja di tempat kerja digital (digital workplace) tidak hanya lebih produktif. Akan tetapi juga lebih termotivasi, memiliki kepuasan kerja yang lebih tinggi, dan mengalami tingkat kesejahteraan yang lebih baik secara keseluruhan.

Menurut sebuah studi global baru dari Aruba, perusahaan Hewlett Packard Enterprise, yang berjudul “Digital Revolutionaries Unlock the Potential of the Digital Workplace”, mengungkapkan manfaat bisnis dan manfaat yang diperoleh karyawan dari tempat kerja yang berorientasi digital, dan bagaimana perusahaan yang kurang berteknologi maju berisiko tertinggal dalam persaingan dan tidak mampu menarik bakat-bakat hebat. Studi ini juga mencatat bahwa perusahaan harus waspada karena semakin banyak karyawan yang paham teknologi digital mengambil risiko lebih besar terkait keamanan data dan informasi.

Studi terhadap 7.000 karyawan di 15 negara ini mengungkapkan perbedaan yang jelas dalam kinerja dan sentimen karyawan antara yang bekerja di tempat kerja yang lebih maju secara digital dan tempat kerja yang lebih sedikit memanfaatkan teknologi digital. Beberapa temuan utama di antaranya, melampaui persoalan produktivitas, tool-tool digital memberikan manfaat bagi karyawan: Karyawan yang “Berevolusi Secara Digital” (Digital Revolutionaries), yang diidentifikasi sebagai mereka yang bekerja di tempat kerja yang sepenuhnya digital, di mana teknologi-teknologi tempat kerja baru digunakan secara luas.

Sebanyak 51 persen lebih mungkin mengalami kepuasan kerja yang kuat, dan 43 persen lebih mungkin untuk menjadi positif tentang keseimbangan antara hidup dan kerja mereka daripada karyawan yang “Tertinggal Secara Digital” (Digital Laggards), yakni mereka yang memiliki lebih sedikit akses terhadap teknologi tempat kerja. Digital Revolutionaries juga 56 persen lebih mungkin untuk menyatakan bahwa mereka termotivasi di tempat kerja, dan 83 persen lebih mungkin untuk memuji visi perusahaan mereka.

Selain melampaui persoalan produktivitas, bekerja secara digital juga mendukung pengembangan profesional; peningkatan produktivitas dari teknologi digital dapat diukur; kemajuan yang terus-menerus dalam teknologi digital dan otomatisasi membuka jalan bagi pengalaman kerja yang lebih baik.

Director of Workplace Strategy, Design and Management, Herman Miller,  Joseph White, Kamis (6/9/2018), menegaskan, apa pun industrinya, pihaknya melihat suatu pergerakan menuju tempat-tempat yang berpusat pada manusia seiring perusahaan-perusahaan berupaya untuk memenuhi ekspektasi yang berubah cepat tentang bagaimana karyawan ingin bekerja. “Ini tergantung pada penggabungan berbagai kemajuan dalam teknologi, termasuk perabotan, dengan ilmu kognitif untuk membantu para karyawan terlibat dengan pekerjaan dengan cara-cara yang baru. Ini tidak hanya berarti pengalaman tunggal dan premium untuk setiap individu, tetapi juga kesempatan bagi perusahaan untuk menarik dan mempertahankan bakat-bakat terbaik,”ujarnya.

Sementara Managing Director for Deloitte Strategy & Operations, Francisco Acoba, menilai, sifat dasar dari istilah “tempat kerja” tengah ditransformasi karena perusahaan mulai menyadari bahwa ruang yang efektif berpusat pada pengalaman, dan harus mengakomodasi gaya kerja dari beragam generasi dan tipe kepribadian. Tren ini menghadirkan proses-proses baru, di mana solusi, sistem dan perabotan IT berinteraksi secara harmonis dengan manusia untuk menciptakan ruang-ruang efektif tersebut.

”Terlepas dari situasi spesifik perusahaan Anda, ketika ruang menjadi peserta aktif dalam pengalaman pengguna, hal ini meningkatkan laba bersih perusahaan. Bagaimanapun juga, karyawan yang merasa nyaman di ruang kerja mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik. Mereka yang tidak merasa nyaman pada akhirnya akan beralih ke opsi yang lebih menarik,”ujarnya.

Studi ini juga menemukan bahwa karyawan sangat antusias terhadap teknologi baru dan menginginkan perusahaan untuk menyediakan lebih banyak teknologi baru tersebut. Di seluruh wilayah Asia Pasifik, hampir semua responden (98 persen) berpendapat bahwa tempat kerja mereka akan menjadi lebih baik melalui penggunaan teknologi yang lebih besar.

Sedangkan 70 persen mengatakan bahwa perusahaan mereka akan tertinggal dalam persaingan jika teknologi baru tidak diterapkan. Jumlah responden yang sama (67 persen) percaya bahwa kantor tradisional akan menjadi ketinggalan jaman karena kemajuan teknologi.

Sebanyak 75 persen responden di Asia Pasifik mengatakan bahwa perusahaan mereka telah berinvestasi dalam tool-tool digital di tempat kerja dalam satu tahun ini. Ada pertumbuhan minat akan teknologi-teknologi generasi baru, misalnya tool bangunan cerdas yang mengotomatisasi kontrol suhu dan pencahayaan (14 persen), teknologi yang diaktivasi oleh suara (voice-activated) dan wireless AV (16 persen), serta aplikasi mobile korporat yang dirancang khusus (11 persen).

Sebagian besar responden berpendapat bahwa teknologi digital akan menghasilkan lingkungan kerja yang lebih efisien (63 persen), lebih kolaboratif (53 persen) dan lebih menarik (52 persen). Meskipun manfaat tempat kerja digital sangat luas, studi ini juga mengungkapkan bahwa keamanan siber (cybersecurity) merupakan tantangan bagi perusahaan.

Walaupun karyawan melaporkan tingkat kesadaran cybersecurity yang lebih tinggi (56 persen sering atau setiap hari memikirkan tentang masalah keamanan), mereka juga mengakui telah mengambil lebih banyak risiko dalam hal data dan perangkat perusahaan, di mana 73 persen mengakui telah melakukan perilaku berisiko seperti berbagi kata sandi dan perangkat.

Seperempat (25 persen) karyawan terhubung ke Wi-Fi gratis yang berpotensi tidak aman dalam 12 bulan terakhir, 20 persen mengatakan mereka menggunakan kata sandi yang sama di beberapa aplikasi dan akun. Dan 17 persen mengaku menuliskan kata sandi mereka untuk mengingatnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa perusahaan harus beradaptasi untuk memanfaatkan manfaat teknologi tempat kerja digital baru sekaligus meminimalkan risiko keamanan. Aruba merekomendasikan perusahaan untuk melakukan tindakan berikut:

1.Menerapkan strategi tempat kerja digital: Departemen IT perlu bekerja sama dengan manajer bisnis, pengguna akhir dan pemangku kepentingan lainnya untuk menentukan roadmap bagi evolusi tempat kerja digital perusahaan. Hal ini termasuk bergerak di luar teknologi yang mapan untuk menerapkan tool-tool baru, seperti sensor cerdas dan aplikasi mobile khusus yang akan menciptakan pengalaman kerja yang semakin terpersonalisasi.

2.Membangun ruang kerja digital yang kolaboratif: Perusahaan perlu memikirkan bagaimana tempat kerja digital meluas melampaui kantor pusat mereka guna mendukung para pekerja jarak jauh, mitra, dan pelanggan. Para pemimpin IT perlu merencanakan, dan berinvestasi dalam, lingkungan kerja tanpa batas.

3.Merencanakan keamanan mulai dari bawah ke atas: Perusahaan harus merancang tempat kerja digital dengan keamanan sebagai bagian integral dari desain, dengan mempertimbangkan peran kesalahan manusia dan para pelaku kejahatan siber. Untuk mencapai tingkat keamanan optimal yang dapat beradaptasi dengan perubahan dan hal-hal yang tidak diketahui, tim IT harus mempertimbangkan teknologi-teknologi yang tengah bermunculan di bidang jaringan, komputasi cloud, AI, dan pembelajaran mesin.

Chief Marketer untuk Aruba, Janice Le, menambahkan konsumerisasi tempat kerja adalah gerakan yang sangat nyata. Karyawan adalah konsumen. “Kami berupaya untuk mewujudkan harapan konsumen. Tempat kerja kini menjadi semakin pintar dan oleh karena itu, karyawan pun bekerja lebih pintar,”tegasnya.

Le menyimpulkan, studi global ini menunjukkan bahwa pilihan, personalisasi, kemudahan, dan otomatisasi meningkatkan pendapatan dan laba perusahaan yang menentukan masa depan tempat kerja. “Tempat kerja kami sendiri adalah laboratorium hidup untuk Tempat Kerja Digital Cerdas dan kami melihat banyak hasil, seperti perekrutan yang lebih cepat dan tingkat penerimaan penawaran yang lebih tinggi. Manfaatnya nyata dan melampaui produktivitas,”pungkasnya. (nos)

Advertising
Advertising