IT & Seluler

Serangan Siber Ancam Kedaulatan Digital

07-12-2018

Jakarta, beritasurabaya.net - Kedaulatan digital memiliki cakupan sangat luas. Namun jika dikerucutkan maka ia berbicara tentang perlindungan data secara menyeluruh terhadap suatu negara.

Data yang dimaksud di sini tidak hanya tentang data warga negara tetapi juga data-data yang dimiliki oleh institusi, baik bisnis maupun terutama institusi pemerintah seperti rahasia negara. Pencurian data merupakan esensi dari masalah kedaulatan digital, menurut laporan Identity Theft Resource Center antara Januari sampai Juli 2018 telah terjadi pencurian 22.408.258 data.

Sedang menurut laporan Ponemon 2018 Rata-rata total kerugian dari pelanggaran data adalah USD3,86 juta, kemungkinan rata-rata pelanggaran data global dalam 24 bulan ke depan adalah 27,9 persen.

Data bisa berada di lebih dari satu tempat, dapat dibawa melintasi separuh dunia dalam hitungan detik dan dicuri tanpa sepengetahuan pemiliknya. Technical Consultant PT Prosperita-ESET Indonesia, Yudhi Kukuh, Jumat (7/12/2018), mengatakan masalah pelik data ada ketika kita tidak memiliki kontrol, karena itu kebijakan sangat ketat diberlakukan di banyak negara terkait data, misalnya dengan mewajibkan perusahaan teknologi membangun data center mereka di dalam negeri.

Lain halnya dengan data usaha atau bisnis yang datanya tertanam dalam infrastruktur perusahaan, musuh terbesar mereka saat ini adalah ancaman targeted attack, yakni malware yang bertujuan melumpuhkan operasi perusahaan sambil melakukan pencurian data.

Malware Targeted Attack

Bicara malware dengan serangan yang ditargetkan pasti akan merujuk pada Stuxnet, BlackEnergy, Industroyer sampai pada Telebots, hal itu akan segera berlalu. Sekarang dan masa depan, kita bicara tentang GreyEnergy yang menjadikan malware lebih modern yang canggih.

Seperti halnya para pendahulunya, GreyEnergy diciptakan untuk mengeksploitasi sistem ICS/SCADA yang rentan diretas karena keterbatasan sistem keamanan. Yang membedakan dari malware sebelumnya adalah ia tidak hanya bertugas untuk melumpuhkan sistem ICS/SCADA tetapi juga memiliki misi lain sebagai malware pengintai atau spionase.

Contohnya serangan malware Gazer pada 2016, malware targeted attack yang dapat dideteksi ESET ini mengincar kedubes dan konsulat di seluruh dunia. GreyEnergy mempunyai spesifikasi serupa sebagai mata-mata di dunia maya, kelebihan lain GreyEnergy yang membuatnya lebih berbahaya terletak pada kemampuannya yang berfungsi sebagai backdoor, keylogging, mencuri file, mengambil screenshoot, kata sandi, dan pencurian kredensial, banyak lagi.

ICS/SCADA yang menjadi incaran GreyEnergy merupakan sistem yang digunakan untuk mengoperasikan mesin-mesin yang digunakan dalam banyak bidang seperti manufaktur dan infrastruktur penting seperti pembangkit listrik, pengolahan air, kilang minyak, bahkan bandar udara, jadi bisa dibayangkan kengerian apa yang dibawa oleh malware targeted attack yang difokuskan untuk mengeksploitasi ICS/SCADA.

Menghadapi Ancaman Masa Depan

Dalam rangka mengukuhkan kedaulatan digital salah satunya pemerintah telah membuat kebijakan pengamanan data dengan mewajibkan penyelenggara layanan elektronik tetap diharuskan memiliki pusat data dan pusat pemulihan bencana di Indonesia sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.82 tahun 2012. Dimana hanya data dengan klasifikasi tertentu yang diwajibkan ditaruh di Indonesia.

Sementara dunia usaha harus membangun sistem keamanannya secara komprehensif. Menggunakan teknologi yang dirancang siap menghadapi ancaman targeted attack, serangan malware yang mengincar sistem ICS/SCADA. Endpoint Detection and Response (EDR) dan Network Traffic Analysis (NTA). EDR adalah teknologi yang memantau endpoint dan semua kejadian dalam jaringan, sehingga dapat digunakan untuk menganalisa sebaran malware atau APT dengna filter yang dimiliki (behaviour, reputation).

Sementara NTA merupakan sistem yang digunakan untuk memproses mencegat dan memeriksa pesan untuk menyimpulkan informasi berdasar pola dalam komunikasi. Hal ini dapat dilakukan bahkan ketika pesan dienkripsi dan tidak dapat didekripsi.

Secara umum dapat dikatakan sebagai teknologi mendengarkan (listening) dan menyaring dalam komunikasi data dan jaringan yang dilakukan untuk memastikan bagaimana peralatan-peralatan berkomunikasi dan menentukan kesehatan dari jaringan tersebut.

Yudhi menegaskan mengimplementasikan teknologi Network Traffic Analysis dan Endpoint Detection and Response sudah menjadi keharusan untuk setiap perusahaan di belahan dunia mana pun. “ESET berpengalaman dalam menghadapi malware yang berfungsi sebagai targeted attack atau yang mengincar sistem ICS/SCADA, teknologi tersebut adalah teknologi yang sudah dikembangkan oleh ESET sejak lama dan dijamin memiliki keandalan saat berhadapan dengan ancaman apa pun,”pungkas Yudhi. (nos)

Advertising
Advertising