IT & Seluler

SAS Bantu Perbankan Patuhi Standar Regulasi

17-01-2019

Jakarta, beritasurabaya.net - Hanya dalam jangka waktu satu tahun, adaptasi Indonesia terhadap Standar Pelaporan Keuangan Internasional 9 (International Financial Reporting Standard/IFRS 9), yang dikenal dengan sebutan PSAK 71: Instrumen Keuangan, akan secara resmi diberlakukan sehingga memerlukan perubahan akuntansi yang signifikan yang akan mempengaruhi operasional, perencanaan keuangan dan strategi portofolio bank-bank di seluruh Tanah Air. Bank Rakyat Indonesia (BRI), bank terbesar di Indonesia yang termasuk dalam 10 bank Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) teratas dengan modal kelas 1 (tier 1), menggunakan SAS Expected Credit Loss untuk mematuhi tenggat waktu tersebut.

Bekerja sama dengan mitra layanan teknologi SAS, Nexia Indonesia, SAS membantu BRI dalam mengurangi risiko penerapan IFRS 9/PSAK 71 dan memastikan fleksibilitas jangka panjang guna memenuhi regulasi yang terus berkembang. Dengan semakin dekatnya tenggat waktu penerapan IFRS 9/PSAK 71 di Indonesia, yakni pada bulan Januari 2020, lembaga keuangan perlu bertindak cepat dalam melakukan konvergensi fungsi, teknologi, dan model yang digunakan.

Standar terbaru dalam pengukuran kerugian kredit telah mengubah secara drastis cara lembaga keuangan memperkirakan, menyimpan, dan melaporkan setiap kerugian yang terjadi. Agar dapat mematuhi persyaratan kepatuhan yang berlaku, bank harus menganalisis sejumlah besar data secara efisien dan menyesuaikan pendekatan dalam menerapkan solusi manajemen risiko di seluruh organisasi mereka.

Setelah melalui proses seleksi yang sangat ketat, BRI memilih SAS untuk membantu mengikuti perubahan regulasi di seluruh 12 segmen bisnis Bank Rakyat Indonesia. Solusi SAS memiliki kemampuan menyeluruh untuk memenuhi persyaratan yang berubah tersebut, sekaligus membantu BRI dalam konvergensi fungsi risiko dan keuangan.

BRI akan memanfaatkan SAS Expected Credit Loss untuk memastikan implementasi model risiko yang cepat dan efisien, serta untuk upaya pengujian dan pemeliharaan di luar tenggat waktu implementasi IFRS 9/PSAK 71 di Indonesia, yakni pada tahun 2020.

SAS Expected Credit Loss telah menjadi platform pilihan untuk pemodelan kerugian kredit yang transparan, cepat, dan efisien demi kepatuhan terhadap standar IFRS 9 oleh bank-bank papan atas. Dengan lebih dari 90 penerapan secara global sejak tahun 2014, SAS telah membantu banyak bank di ASEAN untuk mencapai kesiapan operasional dalam memenuhi standar akuntansi baru tersebut.

Baru-baru ini, bank multinasional asal Inggris, Standard Chartered, yang ada di seluruh 10 negara ASEAN, memperoleh penghargaan The Asian Banker Risk Management Award atas penerapan SAS Expected Credit Loss.

“IFRS 9 menghadirkan tantangan komputasi yang kompleks dan bank-bank membutuhkan mitra yang dapat membantu mereka dalam menyesuaikan dan memenuhi tuntutan tersebut secara efisien,”tutur Regional Head of Risk Solutions, SAS untuk pasar ASEAN, Sheldon Goh, Kamis (17/1/2019).

Ia menegaskan dengan daya tarik yang signifikan di kawasan ini, SAS berada di posisi yang tepat untuk membantu bank-bank di negara berkembang, seperti Indonesia dan Filipina, dalam memastikan penerapan IFRS 9 yang efektif dan tepat waktu. “Kami akan mendukung BRI dengan platform analitik berkinerja tinggi yang terpusat untuk menangani IFRS 9/PSAK 71 dan berbagai perubahan persyaratan lainnya di sektor jasa keuangan,”tambahnya.

Sebagai bank terbesar di Indonesia, BRI didukung oleh basis nasabahnya yang berjumlah lebih dari 50 juta, dan didukung oleh fasilitas modern dan produk tabungan dan pinjaman yang komprehensif, mulai dari microfinancing hingga korporat. BRIsat, yakni satelit BRI yang mencakup Indonesia dan Asia Tenggara, menghubungkan lebih dari 10.000 unit operasi BRI demi memenuhi kebutuhan perbankan nasabah di seluruh wilayah. (nos)

Advertising
Advertising