IT & Seluler

Cloud & Keamanan Jadi Prioritas Pendanaan IT

09-02-2019

Jakarta, beritasurabaya.net - Berdasarkan survei dari 400 pelanggan Red Hat di seluruh dunia, dengan responden dari 51 negara, otomatisasi, cloud, dan keamanan kembali menjadi prioritas utama untuk pendanaan IT selama dua tahun berturut-turut.

Survei menyebutkan soal prediksi di 2019 baik dari sisi transformasi digital, sistem operasi, strategi cloud dan container. Pada transformasi digital akan mengalami kemajuan tetapi sulit.

Sebanyak 35 persen perusahaan berencana mencari model bisnis baru atau untuk mengenalkan produk dan layanan digital baru dalam 12 bulan ke depan. Sebagian besar adalah perusahaan dari industri layanan keuangan.

Perusahaan menyadari bahwa mereka harus melakukan transformasi dan memiliki teknologi, terutama aplikasi dan pengalaman pengguna digital, yang dapat mendorong diferensiasi kompetitif mereka.

Mengembangkan dan mengimplementasikan strategi transformasi digital yang jelas merupakan hal yang sulit. “Survei kami menunjukkan bahwa seperempat responden masih berupaya mengembangkan strategi transformasi digital mereka,”ujar

Country Manager PT Red Hat Indonesia, Rully Moulany, Sabtu (9/2/2019).

Virtualisasi masih mendominasi infrastruktur perusahaan enterprise. Pelanggan ingin menyediakan virtualisasi bagi pengguna sebagai cloud self-service, di mana 51 persen responden mencantumkan virtualisasi sebagai teknologi nomor satu yang rencananya akan mereka tawarkan as-a-service.

Pelanggan mencari cara untuk mengurangi biaya dan kompleksitas dari lingkungan tervirtualisasi. Namun tengah menggunakan hypervisor yang berbeda untuk beban kerja atau lingkungan yang berbeda.

Rully mengatakan tidak hanya dari sisi transformasi digital saja tapi pelanggan ingin mengurangi jumlah sistem operasi (OS) yang kini mereka kelola. Sebanyak 15 persen mengatakan mereka memiliki 10 atau lebih sistem operasi dalam infrastruktur IT mereka saat ini. Namun jumlah tersebut berkurang menjadi 13 persen ketika ditanyakan mengenai rencana dua tahun ke depan.

Pelanggan mencari OS tunggal yang dapat menyediakan bahan arsitektural yang konsisten mulai dari infrastruktur fisik, cloud pribadi hingga beberapa cloud public. “Bagian dari perjalanan ini mungkin adalah memperoleh versi terbaru dari software OS, yang dapat membantu perusahaan dalam mengurangi kompleksitas dan biaya seiring mereka berpindah ke realitas cloud hybrid,”ungkap Rully.

Mengembangkan dan mengimplementasikan strategi cloud yang jelas merupakan hal yang sulit. Dan dengan teknologi dan tantangan baru yang memasuki pasar setiap harinya, perusahan berusaha untuk mengimbanginya.

Kebanyakan perusahaan menerapkan strategi cloud hybrid, di mana cloud pribadi dan publik memainkan peran secara bersama-sama dan terpisah, tergantung pada beban kerja.

Red Hat memprediksi bahwa dunia akan tetap menjadi dunia yang hybrid dan multicloud selama beberapa tahun mendatang. “Selama lima tahun lebih, Red Hat telah mewujudkan visi akan cloud hybrid terbuka, dan membantu pelanggan dalam meningkatkan kelincahan, interoperabilitas, dan portabilitas beban kerja di seluruh lingkungan TI, mulai dari cloud fisik hingga publik,”tambahnya.

Dari sisi penggunaan teknologi container tidak secepat gejolak yang diindikasikan pasar. Tetapi perusahaan tengah mulai menerapkannya dan penggunaan container diperkirakan akan meningkat sebesar 89 persen dalam 2 tahun ke depan.

Perusahaan melihat nilai tambah dalam container, tetapi isu terbesar adalah terkait keamanan dan kemudahan penggunaan. Container, seperti OS andalannya, harus stabil dan terpercaya untuk penerapan dalam perusahaan enterprise.

Rully menegaskan ada tiga teknologi yang tengah berkembang di 2019. Yakni, blockchain, komputasi edge atau fog, dan tool produktivitas pengembang, (dengan urutan tersebut) muncul sebagai tiga teknologi teratas yang harus diperhatikan. Dari hasil survei menyebutkan sebanyak 86 persen akan mempertimbangkan menyiapkan anggaran untuk blockchain di tahun 2019.

82 persen mempertimbangkan pengeluaran untuk komputasi edge atau fog, di mana kebanyakan adalah perusahaan dari industri telekomunikasi dan layanan finansial. Dan 57 persen mencari tool produktivitas pengembang baru.

Dari hasil survei juga menunjukkan para pemimpin TI menginginkan vendor berdasarkan seberapa baik perusahaan penyedia teknologi tersebut membantu mempertahankan arsitektur infrastruktur dan aplikasi yang aman. Membuat teknologi open source menjadi lebih aman, stabil dan didukung penuh telah menjadi visi Red Hat sedari awal.

Keamanan tidak dapat diabaikan. Dan ini adalah titik di mana vendor harus bekerja sama secara erat dengan pelanggan mereka untuk mempertahankan postur keamanan yang mencakup seluruh arsitektur dan perjalanan transformasi digital. Hal ini akan menjadi semakin penting (dan sulit) karena jumlah data, serta kecanggihan hacker dan penjahat siber terus meningkat.

Rully menambahkan tahun 2019 akan menjadi poin infleksi utama dimana pencarian akan kepemimpinan digital tidak hanya menjadi mandat CIO, melainkan juga CEO dan jajaran komisaris, dan kebutuhan akan strategi dan investasi yang jelas untuk mencapainya akan menjadi hal terpenting. Container menjadi semakin mainstream di seluruh perusahaan, yang dikendalikan oleh permintaan pengembang dan keinginan untuk berinovasi secara lebih cepat.

Selain itu, strategi cloud on-premise dan public yang berbeda akan menyatu, di mana perusahaan akan menerapkan arsitektur cloud hybrid yang terintegrasi sepenuhnya. “Keamanan akan semakin menjadi titik penentuan tingkat ketahanan, baik bagi perusahaan enterprise maupun penyedia solusi TI yang berurusan dengan keamanan,”pungkasnya. (nos)

Teks foto :

Country Manager PT Red Hat Indonesia, Rully Moulany.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising