IT & Seluler

Red Hat Hadirkan Enterprise Linux 8

14-05-2019

Jakarta, beritasurabaya.net - Red Hat, Inc. (NYSE: RHT), penyedia solusi open source terkemuka di dunia, umumkan ketersediaan umum dari Red Hat Enterprise Linux 8, sistem operasi yang dirancang untuk menjangkau luasnya penyebaran di seluruh TI perusahaan. Untuk setiap beban kerja yang dijalankan pada lingkungan apa pun, Red Hat Enterprise Linux 8 menghadirkan suatu pengalaman Linux enterprise tunggal untuk memenuhi berbagai kebutuhan teknologi yang unik dari perusahaan-perusahaan yang tengah berkembang.

Enterprise Linux 8 adalah sistem operasi yang dirancang ulang untuk era cloud hybrid dan dibangun untuk mendukung beban kerja dan operasi yang membentang mulai dari pusat data perusahaan hingga beberapa cloud publik. Red Hat memahami bahwa sistem operasi harus melakukan lebih dari sekadar menjadi bagian dari tumpukan teknologi; sistem operasi harus menjadi katalis bagi inovasi. Mulai dari container Linux dan cloud hybrid hingga DevOps dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Red Hat Enterprise Linux 8 dibangun untuk tidak hanya mendukung TI perusahaan pada cloud hybrid, tetapi untuk membantu strategi-strategi teknologi baru ini berkembang.

President, Products and Technologies, Red Hat, Paul Cormier, Selasa (14/5/2019), mengatakan, selama dua dekade terakhir, pihaknya telah melihat Linux bertumbuh dari sistem operasi niche menjadi sistem operasi default bagi pusat data perusahaan. Red Hat Enterprise Linux telah berada di garis depan evolusi ini, yang mendukung hampir setiap beban kerja dan lingkungan TI perusahaan yang dapat dipahami oleh mitra dan pelanggan.

”Red Hat Enterprise Linux 8 melanjutkan pekerjaan ini, tetapi memberikan lebih dari sekadar Linux yang siap produksi; Red Hat Enterprise Linux 8 menghadirkan katalis bagi inovasi di skala cloud,”ujarnya.

Seiring pentingnya penyebaran cloud hybrid dan multicloud bertumbuh, sistem operasi harus berevolusi juga. Menurut IDC, sebanyak 70 persen pelanggan sudah menerapkan lingkungan multicloud dan 64 persen aplikasi dalam portofolio TI tipikal saat ini berbasis di lingkungan cloud, baik publik maupun privat.

Red Hat memandang sistem operasi sebagai titik kunci inovasi TI ini dan bahkan lebih, terutama karena Red Hat Enterprise Linux siap untuk memberi dampak bagi lebih dari 10 triliun dolar pendapatan bisnis global di tahun 2019, menurut sebuah studi IDC yang disponsori oleh Red Hat.

Selama lebih dari 15 tahun, Red Hat telah membantu perusahaan berinovasi di Linux, pertama-tama di pusat data mereka dan kini di cloud hybrid. Ketika pusat data bertumbuh dalam skala dan cakupan, serta kompleksitas beban kerja meningkat, keterampilan yang diperlukan untuk menerapkan dan memelihara sistem produksi berbasis Linux menjadi semakin penting.

Dengan diumumkannya Red Hat Enterprise Linux 8, kecerdasan dan keahlian ini kini terintegrasi dengan langganan Red Hat Enterprise Linux secara langsung (default) melalui Red Hat Insightssehingga menghadirkan keahlian Red Hat Linux sebagai layanan (as-a-service).

Vice President and General Manager, Red Hat Enterprise Linux, Red Hat, Stefanie Chiras, “Inovasi dan Linux tidak dapat dipisahkan. Mulai dari membangun backbone Internet hingga membentuk neuron pertama AI, Linux mendorong TI masa kini dan masa depan. Red Hat Enterprise Linux 8 menerapkan peran Linux sebagai mesin inovasi TI, mengkristalkannya menjadi platform yang dapat diakses, terpercaya, dan lebih aman.

”Mencakup keseluruhan cloud hybrid, platform Linux enterprise terkemuka di dunia ini menghadirkan katalis bagi perusahaan TI untuk melakukan lebih dari sekadar memenuhi tantangan masa kini; Red Hat Enterprise Linux 8 memberi mereka fondasi dan tool untuk meluncurkan masa depan mereka sendiri, di mana pun mereka inginkan,”ungkapnya.

Sementara Senior Manager, Architecture & Global Deployment, BBVA, Fabio Martinez, menegaskan, seiring upaya mentransformasi perusahaan secara digital untuk memberikan layanan yang lebih cepat bagi pelanggan. Pihaknya, masih perlu memiliki sistem operasi yang stabil dan lebih aman yang menopang lingkungan TI.

”Red Hat Enterprise Linux 8 menekankan pada penyediaan inovasi bersama dengan code yang diperketat dan pembaruan keamanan, yang merupakan karakteristik utama bagi kami saat kami membangun strategi cloud-native kami dengan teknologi cloud hybrid Red Hat, termasuk Red Hat OpenShift Container Platform,”tambahnya.

Linux terus menjadi sistem operasi nomor satu bagi pengembang yang membangun aplikasi enterprisegenerasi berikutnya. Ketika aplikasi ini bergerak ke tahap produksi, stabilitas, peningkatan keamanan dan pengujian/sertifikasi pada hardware dan lingkungan yang ada menjadi kebutuhan yang sangat penting.

Hal ini mengalihkan tanggung jawab dari pengembang ke tim operasi, dan ditambah dengan tren yang memandang Linux sebagai platform utama untuk aplikasi produksi, membuat administrasi Linux dan keterampilan manajemen penting bagi pusat data modern. Red Hat Enterprise Linux 8 dirancang untuk menurunkan penghalang masuk ke Linux sehingga memungkinkan aksesibilitas yang lebih besar untuk administrator Windows, pemula Linux, dan administrator sistem-sistem baru tanpa perlu mengkhawatirkan command line.

Menurut Group Vice President, Infrastructure Systems, Platforms and Technologies Group, IDC, Ashish Nadkarni, mengatakan, perusahaan perlu membangun dan memodernisasi infrastruktur mereka berbasis platform yang lebih aman, stabil, dan berkinerja tinggi. “Red Hat Enterprise Linux adalah fondasi untuk cloud hybrid perusahaan, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan perusahaan masa kini dan masa depan dengan pengalaman pengguna yang sama terlepas dari infrastruktur yang mendasarinya,”ungkap Ashish.

Inovasi TI berakar pada open source, dengan Linux yang sering berfungsi sebagai katalis untuk banyak kemajuan besar dalam teknologi enterprise, mulai dari container Linux dan Kubernetes hingga serverless dan AI. Didukung oleh rantai pasokan open source yang lebih aman dan diperkuat, Red Hat Enterprise Linux 8 membantu membuka jalan bagi perusahaan TI untuk mengadopsi inovasi yang siap produksi dengan hanya menggunakan paket yang diperlukan untuk beban kerja tertentu. Hal ini meningkatkan adopsi teknologi yang tengah berkembang sekaligus membantu meminimalkan potensi risiko.

Seperti disampaikan Systems Engineer, Case Western Reserve University, Jim Nauer bahwa Red Hat Enterprise Linux 8 Application Streams akan memungkinkan pihaknya untuk menghadirkan platform OS bagi para peneliti dengan tidak hanya siklus hidup dukungan perusahaan, tetapi juga akses ke bahasa dan tool terbaru dengan cara yang mudah dioperasikan dengan source code pihak ketiga.

Sementara Corporate Vice President, Partners Ecosystem, Google Cloud, Kevin Ichhpurani, menjelaskan, Google Cloud dan Red Hat memperdalam kolaborasi untuk memungkinkan solusi tingkat enterprise bagi para pelanggan dengan ketersediaan Red Hat Enterprise Linux 8 di Google Cloud. “Kami senang dapat menggabungkan teknologi dan layanan inovatif kami untuk membantu lebih banyak perusahaan dalam mendapatkan manfaat cloud,”pungkasnya. (nos)

Advertising
Advertising