IT & Seluler

Red Hat Perluas Automasi Dorong Modernisasi IT

20-11-2020

Red Hat Perluas Automasi Dorong Modernisasi IT

Jakarta, beritasurabaya.net - Red Hat, Inc., provider solusi open source terkemuka di dunia, hari ini mengumumkan sebuah pencapaian penting dalam automasi IT kelas enterprise. Red Hat telah mengintegrasikan Red Hat Ansible Automation Platform dan Red Hat Advanced Cluster Management for Kubernetes.

Integrasi ini dilakukan untuk mengakselerasi automasi dan integrasi antara cloud-native dan infrastruktur tradisional. Integrasi ini juga diharapkan dapat mendorong modernisasi aplikasi di lingkungan IT, menyederhanakan alur kerja, dan meniadakan pemisahan (silos) yang terjadi antara server tradisional dan mesin virtual serta kluster cloud-native, termasuk Red Hat OpenShift.

Vice President, Management, Red Hat, Joe Fitzgerald, Jumat (20/11/2020), mengatakan, dengan mengintegrasikan Red Hat OpenShift dan Ansible Automation Platform, perusahaan-perusahaan dapat memanfaatkan Ansible dalam pengelolaan infrastruktur dan penerapan aplikasi. “Kami yakin Ansible secara de facto telah menjadi standar dalam automasi, dan Red Hat punya banyak sekali otomatisasi Ansible yang siap digunakan, mencakup berbagai domain, dan terkurasi, tersertifikasi, dan disupport dengan baik,"tukasnya.

Ansible Automation Platform dan Red Hat OpenShift sama-sama meraih predikat leader dalam The Forrester Wave dan dipakai pada sejumlah project open source Ansible dan Kubernetes. Diluncurkan pada Juli 2020, Red Hat Advanced Cluster Management membantu enterprise mengelola dan meningkatkaan kapasitas kluster-kluster OpenShift di seluruh hybrid cloud, sehingga perusahaan-perusahaan terkemuka di industri bisa menikmati pengelolaan yang lebih baik pada platform Kubernetes mereka.

Sekarang, Ansible Automation Platform dan Red Hat Advanced Cluster Management dapat bekerja sama sehingga enterprise bisa menikmati keuntungan dari teknologi yang sedang digunakan dan menikmati masa depan cloud-native.

Pembaruan dan modernisasi aplikasi IT adalah prioritas utama pada saat ini. Berdasarkan data Gartner, pada 2022, hanya 40 persen software pengelolaan container yang ada pada 2019 akan tetap kompetitif atau eksis. Sehingga berbagai keputusan yang berkaitan dengan produk pada saat ini harus lebih bersifat taktis.

Red Hat OpenShift adalah platform yang powerful dan scalable untuk transformasi tersebut. Banyak organisasi/perusahaan, tak bisa begitu saja meninggalkan sistem IT yang mereka gunakan saat ini, karena ada investasi dan workload penting yang mengunakan sistem tersebut.

Oleh sebab itu, banyak tim IT terpaksa memisahkan tim teknologi stack dan memilah-milah tim untuk memecahkan masalah workflow yang terpisah itu, yang mana masing-masing memerlukan tool dan strategi yang berbeda. Alhasil, yang tumbuh adalah kompleksitas dan gesekan-gesekan (friksi).

Integrasi antara Ansible Automation Platform dan Red Hat Advanced Cluster Management bertujuan untuk memecahkan kesulitan yang dialami oleh tim IT di enterprise. Caranya dengan merampingkan toolset dan melakukan "handoffs" antara teknologi tradisional dan cloud-native.

Red Hat Advanced Cluster Management menjawab kebutuhan pengelolaan dan monitoring terhadap cloud-native. Ketika workflow di level aplikasi atau infrastruktur IT yang lama dibutuhkan, ia akan bertindak selaku panel kontrol di seluruh kluster Red Hat OpenShift untuk memicu kapabilitas Ansible Automation Platform, seperti menjalankan pembaruan sistem, mengkonfigurasi load balancer, melakukan scaling pada server resource dan sebagainya.

Sebagai hasilnya adalah sebuah workflow tunggal dalam mengelola lingkungan hybrid cloud yang kompleks tanpa memaksa perusahaan memilih antara kebutuhan IT mereka sekarang dan kebutuhan IT yang mereka butuhkan pada masa depan digital. Sebagai bagian dari integrasi antara kedua teknologi tersebut, Red Hat memanfaatkan keunggulan fondasi OpenShift Kubernetes Operator untuk melakukan otomatisasi IT di lingkungan hybrid cloud.

Operator Kubernetes akan lebih mudah menjalankan aplikasi saat menerapkan OpenShift di mana saja. Dengan Resource Operator for Red Hat Advanced Cluster Management, teknologi ini dapat meminta Ansible Automation Platform mengeksekusi berbagai task secara efisien di luar kluster Kubernetes.

Research Vice President, Cloud Management IDC, Mary Johnston Turner, menyatakan, minat pada pengelolaan lintas cloud dan visibilitas yang konsisten sedang naik daun dengan cepat akhir-akhir ini, seiring dengan tren perusahaan memindahkan lebih banyak workload mereka ke platform infrastruktur hybrid maupun multicloud, termasuk VM dan lingkungan berbasis container.

“Mayoritas pemimpin di perusahaan pengelolaan infrastruktur cloud mengatakan bahwa saat ini penting sekali memiliki management tool dan kapabilitas yang mencakup berbagai lingkungan cloud, termasuk publicprivatehosted dan  edge location. Fungsionalitas otomatisasi membantu memperluas jangkauan manajemen hybrid cloud yang efektif," paparnya. (nos)

Teks foto :

Ilustrasi Red Hat automasi.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising