Kesehatan

Peran Aktif Ponpes Dukung Keberhasilan Imunisasi

23-08-2017

Sampang, beritasurabaya.net - Pulau Madura selalu menjadi salah sorotan karena dalam berbagai program imunisasi kerap tidak ada dukungan dari warganya. Partisipasi warga untuk mendaftarkan anaknya dalam program imunisasi selalu rendah.

Namun, berkat peran aktif dari pondok pesantren (ponpes) sebagai motor pengerak imunisasi justru memberikan hasil positif. Saat ini warga di Madura, termasuk yang di ponpes semakin sadar pentingnya imunisasi bagi kesehatan anak-anak, khususnya yang berusia 9 bulan hingga 15 tahun.

Hal ini tidak lepas dari peran tokoh agama di Madura yang menjadi panutan warga di sana. Bahkan pelaksanaan program imunisasi Measles Rubella (MR) di dua kabupaten di Pulau Madura menuai pujian.

Di Bangkalan, Pengasuh Pondok Pesantren Al Kholiliyah An Nuroniyah Bangkalan KH Muhammad Faishal mempersilakan petugas Puskesmas melakukan vaksin pada santrinya. ”Anak saya yang mewakili saat ada sosialisasi. Katanya imunisasi ini aman, halal. Tidak mengandung bahan yang haram seperti lemak atau minyak babi. Karena sudah dinyatakan halal, tentu kami tidak keberatan. Sudah ada sosialisasi bahwa vaksin ini tidak ada kandungan babi dan vaksin ini banyak manfaatnya,”ujarnya.

Ia melanjutkan, memang masih ada orang tua santri yang keberatan anaknya divaksin. Sang anak biasanya melakukan segala cara untuk menghindar, salah satunya dengan cara izin sakit dan menghubungi orang tuanya minta dijemput sebelum hari H pelaksanaan imunisasi.

Pondok pesantren yang memiliki 800 santri di tengah Kota Bangkalan itu merupakan salah satu ponpes yang masuk dalam program vaksinasi campak dan MR. ”Selama ini penyakit yang diderita santri kami hanya sebatas batuk atau tipus, kami berharap tidak ada anak-anak kami yang terkena penyakit berbahaya,”ungkapnya.

Sambutan positif juga terjadi di Sampang. Kepala Pondok Pesantren Al Ikhsan, Desa Jrangoan, Kecamatan Omben juga menyatakan hal serupa. ”Mengapa kami mau menerima? Sebelumnya memang ada banyak isu bahwa imunisasi tidak halal dan lain-lain. Tapi ini kan sudah ada fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) bahwa imunisasi ini halal. Masa kita tidak percaya MUI,”ujar Kyai Mahrus.

Ia juga mengakui kalau pesantren memang menjadi barometer bagi masyarakat di sekitarnya. Jika pesantren sudah mau membuka diri maka masyarakat akan lebih yakin bahwa benar imunisasi ini aman serta halal. Di ponpes yang dipimpinnya, ada sekitar 1500 santri laki-laki dan perempuan. Sedangkan yang menjadi sasaran imunisasi ini ada 700-an.

Sementara itu, Bupati Sampang Fadilah Budiono menuturkan, hingga hari ke-19 pencapaian cakupan imunisasi MR di kabupaten yang dipimpinnya sudah mencapai 64 persen dari total sasaran. Data Pusdatin menunjukkan sasaran Imunisasi MR di Sampang mencapai 257.209 anak. Bahkan ia menjanjikan di Kabupaten Sampang, 100 persen sasaran akan rampung dalam waktu 32 hari.

Fadilah mengakui, kesuksesan program ini berkat campur tangan para ulama di lingkungan pondok pesantren. Sejak awal pihaknya memang sengaja memprioritaskan pondok-pondok pesantren besar, sebelum menyasar sekolah-sekolah umum dan ponpes kecil-kecil yang jumlahnya mencapai ribuan. Cara ini dinilai lebih efektif daripada melakukan sosialisasi biasa.

”Masyarakat awam hanya tahu, kalau pondok pesantren saja bersedia santrinya divaksinasi, berarti halal dan layak untuk diikuti,” jelasnya.

Berbekal realita itu pihaknya optimistis, program yang akan digelar selama dua bulan itu akan tuntas hingga diatas 95 persen. Anak-anak usia 9 bulan hingga 15 tahun yang belum tersentuh imunisasi nantinya, akan dilakukan vaksinasi susulan oleh puskesmas-puskesmas yang ada.

Pihaknya sejak awal setuju dengan program imunisasi, karena misinya untuk menuntaskan gizi buruk. Pencegahan Campak dan Rubella pada gilirannya akan berimbas pada pengurangan komplikasi penyakit lain yang akan memperburuk gizi pada anak-anak.

Partisipasi pemuka agama dalam mensukseskan program ini mendapat apresiasi Kepala Perwakilan Unicef Indonesia, Gunilla Olsson. ”Sangat mudah untuk memimpikan Indonesia bebas Campak dan Rubella. Apalagi di Jawa Timur ada kerjasama dari pemerintah, tokoh agama, universitas dan masyarakatnya,”ujar Gunilla saat ditemui akhir pekan lalu.

Ia memastikan, UNICEF akan selalu hadir dan memberikan dukungan jika ada pertanyaan, keraguan atau penolakan mengenai imunisasi ini. ”Campak dan Rubella ini penyakit serius tapi bisa dihilangkan. Dan kita tahu vaksinnya aman dan sangat efektif. Dengan pemberian imunisasi ini, anak-anak Indonesia akan memiliki masa depan yang lebih baik, kesempatan meraih pendidikan yang lebih baik dan tumbuh menjadi anak yang gembira,”tuturnya.

Di seluruh Jawa Timur Imunisasi MR menyasar 8.468.640 anak di 38 kabupaten kota. Dari total sasaran, Provinsi Jawa Timur menargetkan cakupan mencapai lebih dari 95 persen. Hingga akhir pekan lalu, rata-rata cakupan imunisasi di Jatim baru mencapai 54 persen. (nos)

Teks foto :

Para santri di ponpes diimunisasi petugas dalam kaitan program Indonesia Bebas Campak dan Rubella, yang didukung oleh UNICEF.

Foto : Istimewa.

Advertising
Advertising